Buku Laris

 
Beli Beli Beli Beli

Malang is my hometown


View Larger Map

Kota Malang dilihat dari satelit. Silakan geser-geser dengan menggunakan mouse untuk mencari lokasi yang Anda cari dalam peta ini. Semoga peta ini bisa bermanfaat bagi Anda semua.

Malang, East Java Province, Indonesia from satelit view. Please drag using your mouse to searching for location that you curious to know. I hope this map would be of use for all of you that visiting this town. Welcome to Malang, East Java Province, Indonesia.

Malang, Oost-Java Provincie, Indonesiƫ uit satelit bekijken. Beweeg uw muis om te zoeken naar locatie die u benieuwd. Ik hoop dat deze kaart zou gebruiken voor al u dat uw bezoek aan deze stad. Welkom in Malang, Oost-Java Provincie, Indonesiƫ.

Short Stories

Loading...

Countdown to my Birthday

My Portofolio Blog

News

Aku dan Para Penulis Indonesia

BookmarkAddict.com BookmarkAddict.com BookmarkAddict.com BookmarkAddict.com BookmarkAddict.com BookmarkAddict.com BookmarkAddict.com BookmarkAddict.com BookmarkAddict.com BookmarkAddict.com

Senin, 24 Maret 2008

Dendam Kesumat

Rabu pagi di akhir Juni itu, saya pergi ke Jalan Gatot Subroto, sebuah kawasan bisnis di Jakarta. Seorang pengacara bernama Pratisto Sumarmo, meminta saya menemuinya di kantornya di daerah itu.
Ternyata kantor pengacara Subagio, Mintarja, Pratisto Sumarmo, dan Sudirja berpenampilan megah. Maklum, mereka bukan pengacara kelas kacangan.
Sumarmo menerima saya di ruang kerjanya. Ia sebaya dengan saya, berumur awal 60-an. Rambutnya mulai kelabu, sedangkan matanya tajam. Setelan jasnya rapi sekali dan mahal punya. Pokoknya, sosoknya berwibawa.
“Semalam, setelah menelpon Anda, saya menelpon putri saya, Alicia,” katanya. “Ketika didesak, ia mau juga mengaku bahwa penelepon gelap menghubunginya lagi, untuk mengulangi ancamannya. Namun, Alicia tetap tidak mau menceritakan secara rinci apa yang dikatakan penelepon itu.”
“Bagaimana keadaan putri Anda ?” tanya saya. Menurut dia baik-baik saja, tetapi saya tidak yakin. Dia . . .dia . . .’kan baru berumur 23 tahun.”
“Dia tidak sendirian ‘kan hari ini ?”
“Tidak. Salah seorang teman wanitanya menginap di apartemennya.”
Saya terdiam beberapa detik.
“Pak Sumarmo, Anda bersungguh-sungguh meminta jasa saya ? Kemarin sudah saya katakan lewat telepon, saya mungkin tidak bisa berbuat banyak dalam kasus seperti ini. Setiap tahun polisi dan kantor telepon mengusut ratusan pengaduan perihal penelepon gelap . . .”
“Siapa tahu . . .,” tukasnya.
“…bahkan mereka yang memiliki fasilitas, cuma bisa menangkap atau mengenali beberapa penelepon gelap saja. Lagi pula hampir tak seorang pun dari mereka benar-benar mewujudkan ancaman untuk mencemari wanita yang mereka telepon. Umumnya cuma berani mengancam, tetapi tidak berani berbuat. Kebanyakan takut kepada wanita atau orang sinting. Mereka asal memilih nama dari buku telepon atau iseng-iseng bertanya pada 108.”
“Saya tahu. Polisi pun berkata begitu ketika saya lapori dua hari yang lalu. Namun, pria yang terus menerus menteror Alicia bukan asal memilih nama. Saya kira ia kenal dengan putri saya dan Alicia pun mengenalnya. Saya yakin.”
Saya berniat membuka mulut, tetapi Sumarmo mencegah dengan mengangkat tangannya.
“Saya yakin perlu meminta jasa detektif atau paling tidak seseorang yang bekerja sebagai konsultan keamanan,” katanya pula.
“Orang itu menelepon Alicia tadi malam, padahal nomor teleponnya sudah saya ganti kemarin siang. Nomor itu tidak tercantum di buku telepon !”
“Oh !”
“Mungkinkah orang iseng bisa menemukan nomor telepon yang tidak terdaftar hanya dalam waktu kurang dari 12 jam ?”
“Rasanya memang tidak. Kecuali kalau ia bekerja di kantor telepon atau mempunyai teman yang bekerja di kantor telepon.”
“Rasanya bukan demikian,” sahut Sumarmo. “Saya yakin orang itu kenal baik dengan Alicia. Ia mendapat nomor itu dari Alicia atau dari salah seorang teman baik Alicia.”
“Barangkali Anda mempunyai dugaan, siapa orangnya ?”
“Tidak !”
“Apa kata putri Anda ?”
“Ia bersikeras, pasti orang itu bukan kenalannya.”
“Apakah Anda diberi tahu putri Anda, siapa saja yang ia beri nomor telepon barunya ?”
“Tidak. Ia tidak mau memberi tahu.”
“Mengapa ?”
“Sumarmo tersenyum kecut.
“Hubungan kami agak renggang beberapa bulan ini. Sejak ia bertunangan dengan Dirga Subrata.”
“Anda tidak merestui hubungan mereka ?”
“Memang. Tentu saja Alicia memberontak ketika saya menyatakan pendapat saya.”
“Barangkali ada hal tertentu yang menyebabkan Anda tidak menyukai Dirga ?”
“Saya pikir, ia tidak akan bisa membahagiakan putri saya. Lagi pula Alicia masih terlalu muda untuk menikah.”
Kemudian Sumarmo berdehem.
“Hubungan seorang ayah dengan putrinya kadang-kadang bisa sulit. Apalagi kalau si ayah merupakan orang tua satu-satunya. Saya bercerai ketika Alicia berumur setahun. Sejak itu baik Alicia maupun saya tidak pernah bertemu lagi dengan bekas istri saya.”
Karena tidak menikah lagi maupun tidak menjadi ayah yang baik, saya merasa tidak berwenang memberikan komentar. Sementara itu Sumarmo mengawasi saya sejenak.
“Jadi Anda menerima tawaran saya untuk mengusut kasus ini ?”
“Baik, Pak. Cuma saja, saya harap Anda maklum. Kemungkinan berhasil sangat terbatas. Saya cuma bisa berusaha sekuat tenaga.”
“Memang itu yang saya minta. Anda ingin segera menemui Alicia ?”
“Ya !”
Alicia Sumarmo tinggal di salah sebuah apartemen di Jalan Rasuna Said, dekat kampus Jakarta International College, sejak ia menjadi mahasiswi dua tahun yang lalu. Tadinya ia tinggal di rumah ayahnya di daerah Pantai Marina. Ketika Alicia ketahuan diganggu penelepon gelap, ayahnya membujuknya agar mau kembali ke Pantai Marina, tetapi Alicia bersikeras menolak.
Penelepon gelap mulai mengganggu Alicia dua minggu yang lalu. Pada minggu pertama, Alicia ditelepon tiga kali. Setelah itu hampir setiap hari ia diganggu. Ayahnya baru menengok tiga hari yang lalu, gara-gara Alicia tampak resah dalam sebuah perjamuan keluarga. Setelah didesak-desak, Alicia akhirnya mengaku bahwa ia mendapat gangguan dari seseorang yang mengancamnya lewat telepon. Namun, Alicia menolak menceritakan apa isi ancamannya. Cuma, katanya, suara pria penelepon itu menakutkan dan kata-katanya tidak sopan, mengumbar kata-kata yang tidak senonoh. Begitulah keterangan yang saya peroleh dari Pratisto.
Saya memarkir mobil di Pasar Festival, tak jauh dari tempat tinggal Alicia. Apartemen gadis itu berada di tingkat III. Saya memperkenalkan diri di interkom yang terletak di atas kotak suratnya di lantai dasar. Ia segera memijat tombol yang memungkinkan saya masuk ke lift. Di apartemen C-4 itu saya berhadapan dengan seorang gadis semampai yang anggun. Wajahnya pasti menarik para jurut potret dan pelukis. Rambutnya panjang, lebat, lurus dan berwarna coklat. Matanya coklat keemasan dan bulu matanya yang panjang lentik itu asli. Sinar matanya menunjukkan bahwa sebenarnya ia sama khawatirnya dengan ayahnya. Cuma saja ia berusaha menyembunyikannya.
Alicia meminta maaf karena di ruang tamunya yang kecil dan penuh perabot itu berserakan buku dan kertas.
“Anda tidak sendirian ‘kan Nona Sumarmo ? Kata ayah Anda, Anda ditemani seseorang.”
“Ya. Santi Prawiroadmotjo, teman kuliah saya. Tapi ia ada kuliah pukul 10.00.”
“Ia segera akan kembali ke sini, ‘kan ?”
“Ya. Tapi saya tidak takut sendirian, kok !” jawabnya.
Lalu Alicia berkata bahwa ayahnya terlalu berlebihan, sampai menyewa detektif segala. Ia menduga peneleponnya orang sinting.
Menurut Alicia, ia tidak mengenal suara peneleponnya. Mungkin suara remaja pria, karena nada suaranya tinggi dan sedikit parau. Alicia sependapat dengan saya bahwa penelepon itu sengaja mengubah suaranya.
Kepada saya pun Alicia menolak menceritakan bunyi ancaman yang diterimanya. Pokoknya, kata-katanya condong mengarah pada pelecehan seks, kata-kata jorok yang nadanya bisa mendirikan bulu roma. Alicia ingin sekali teror ini segera berakhir.
“Kepada siapa saja Anda berikan nomor telepon baru Anda?” tanya saya.
“Cuma ayah saya, Santi, Dirga, dan Arman Sujatmiko . . .”
“Tunggu ! Satu-satu ! Siapa Dirga ?”
“Dirga Subrata, tunangan saya. Kami akan menikah bulan Juni.”
“Selamat ! Anda sudah lama mengenalnya ?”
“Kami pertama bertemu tiga bulan yang lalu, waktu ia masih berpacaran dengan Santi. Entah mengapa hubungan mereka putus. Setelah saya berpacaran dengan Dirga, barulah saya bersahabat dengan Santi.”
Dirga mahasiswa Universitas Tunggul Ametung, tetapi tidak tinggal di Jalan Diponegoro, melainkan di Cikini.
“Tadi Anda menyebut Arman Sujatmiko. Siapa dia ?”
“Teman Dirga.”
Arman Sujatmiko ternyata pembantu tukang leding. Ia tetangga Dirga. Mereka bersahabat gara-gara keduanya sama-sama gila olahraga.
“Mengapa Anda memberi nomor telepon Anda kepada Sujatmiko ?” tanya saya.
“Karena ia sahabat Dirga.”
“Ia memintanya ?”
“Tidak. Semalam ia dan Dirga singgah untuk mengajak saya menghadiri pesta kemenangan Batavia United, tetapi saya masih belum selesai ujian. Ketika itulah saya memberi nomor telepon kepada Dirga. Karena Sujatmiko hadir, saya memberinya juga.”
Saya mencatat alamat rumah dan tempat kerja Sujatmiko.
Menurut Alicia, selain mereka, tidak ada orang lain yang tahu nomor telepon barunya.
“Apakah Anda kedatangan tamu yang melihat nomor di pesawat telepon Anda ?”
“Tidak. Tidak ada tamu. Eh, …ada ! Kemarin Niko Pawestri datang pada saat petugas telepon berada di sini. Tapi cuma sebentar. Saya rasa sih tidak mungkin dia melihat nomor telepon saya.”
“Pawestri itu teman Anda ?’
“Ya. Kenalan. Ia asisten dosen di jurusan sejarah dan tinggal di tingkat 5-E.”
“Untuk apa ia datang ?”
“Meminjam buku puisi zaman Renaisance.”
“Ia pernah naksir Anda ?”
Alicia tertawa.
“Niko ? Dia sih cuma berminat pada buku tua dan sejarah !”
“Anda pernah melihat petugas kantor telepon yang kemarin kemari ?”
“Tidak. Tidak pernah.”
“Anda kenal seseorang yang bekerja di kantor telepon ?”
“Tidak. Anda menduga …”
Bel berbunyi. Alicia melirik arlojinya.
“Mungkin Santi. Katanya, ia akan segera kembali begitu selesai ujian.”
Memang benar Santi.
“Pukul berapa sih sekarang ?” begitu kedengaran suaranya ketika pintu dibukakan oleh Alicia.
“Sialan ! Arlojiku mati lagi !” sambungnya.
“Pukul 12.55. Kau tidak perlu ke universitas lagi ‘kan hari ini ?” tanya Alicia.
“Tidak. Aku ingin menonton sinetron di TV. Ujian ternyata lebih lama dari yang kuduga.”
Saat itu keduanya masuk ke ruang duduk.
“Oh ! Anda pasti detektif yang disewa ayah Alicia, “ kata gadis berambut pendek dicat pirang yang sebaya dengan Alicia itu. Ia permisi mengambil Coca Cola ke dapur sementara saya melanjutkan wawancara dengan Alicia.
“Selain Anda, siapa lagi yang memiliki kunci apartemen ini ?”
“Tidak ada.”
“Tunangan Anda ?”
Wajah Alicia berubah merah. Menarik juga melihat ada gadis masih bisa tersipu-sipu di zaman serba boleh ini.
“Tidak !” jawabnya. “Hubungan Dirga dan saya bukan jenis demikian.”
Ketika Santi yang kurus itu muncul sambil menghirup Coca-Cola dari kaleng, saya bertanya kepada teman Alicia itu.
“Apakah Anda memberi nomor telepon Alicia kepada orang lain ?”
“Tidak ! Tentu saja tidak !”
“Apakah Anda menceritakan kepada orang lain bahwa Alicia mempunyai nomor telepon baru ?”
“Tidak.”
“Apakah Anda pernah melepon pada saat Anda bersama orang lain ?”
“Tidak. Saya ‘kan di sini terus sejak . . .”
Saat itu telepon berdering. Alicia menggigit bibirnya. Saya bersikap waspada. Santi tidak jadi mereguk Coca-Colanya.
“Mungkin Dirga. Atau ayah, “ kata Alicia sambil beranjak ke telepon. Saya membuntutinya. Setelah ragu-ragu sejenak, Alicia mengangkat gagang telepon.
“Halo.”
Setelah itu wajahnya pucat. Saya menyambar gagang telepon, tetapi yang saya dengar cuma desiran dan bunyi “klik”, disusul bunyi sambungan lenyap.
“Dia ?” tanya Santi setengah berbisik. Alicia mengangguk.
“Apa dia bilang ?”
Alicia menggelengkan kepala. Rasa takut membuat matanya tampak lebih besar.
“Alicia, apa dia bilang ?”
“Dia bilang …” kata-katanya seperti menyangkut di leher. Baru beberapa detik kemudian bisa keluar.
“Dia bilang, dia akan membunuh saya.”
Kata Alicia, pria itu berkata, “Kalau aku tidak bisa memperolehmu, orang lain pun tidak.”
Saya tinggal beberapa menit lagi di apartemen itu, sebelum meninggalkan Alicia dengan Santi Prawiroadmotjo.
Ancaman itu mungkin saja sekedar omong kosong, tetapi bisa juga si pengancam itu cukup gila untuk melaksanakannya. Adalah tugas saya untuk menganggapnya serius.
Saya tidak bisa segera menghubungi Pratisto Sumarmo, sebab ia sudah memberi tahu bahwa sepanjang siang itu akan berada di ruang sidang pengadilan. Jadi saya pun naik ke tingkat V untuk mengetuk apartemen 5-E.
* * *
“Siapa ?” tanya Niko Pawestri dari dalam. Saya beri tahu nama, pekerjaan dan perihal saya sedang mengusut telepon gelap yang baru diterima Alicia.
“Sebentar,” sahut Pawestri. Kedengaran kunci dibuka, kemudian pintu menganga sedikit, tetapi rantainya tetap tercantel.
“Perlihatkan dulu kartu identitas Anda,” katanya.
Setelah puas mengamati fotokopi kartu identitas dan mengamati saya juga, barulah ia membuka cantelan rantai.
“Mesti hati-hati. Soalnya, sudah beberapa kali ada maling masuk ke gedung ini. Saya ‘kan punya sejumlah buku berharga,” katanya.
Pawestri berumur 25-an. Tubuhnya tambun dan rambutnya keriting. Matanya yang coklat itu mengintip dari balik kacamatanya yang bundar kuno. Penampilannya mencerminkan ia kutu buku.
Apartemennya sama dengan apartemen Alicia, cuma jendelanya menghadap ke taman kota dan Lapangan Golf Diamond Park. Perabotnya sederhana dan tanpa imajinasi, tetapi rapi. Dua dinding ruang duduknya ditutupi rak berisi buku. Kebanyakan novel zaman Renaisance yang konon diperolehnya dari lelang buku-buku di Amerika.
Ketika saya perhatikan, ternyata novel-novel itu bukan cuma tua, tetapi juga . . . porno !
“Mestinya Anda cukup berada, sampai bisa membeli buku kuno di Amerika,” kata saya.
“Ah, tidak, “ katanya. “Saya mendapat warisan kecil dari ayah saya tujuh tahun yang lalu. Lumayanlah untuk mengongkosi sekolah, pergi ke Amerika, dan membeli buku,” jawabnya.
Orang ini jauh dari menarik. Ia sangat berminat pada buku-buku porno. Sementara itu Alicia gadis yang sangat menarik. Siapa tahu minat Pawestri terhadap buku-buku porno bukan semata-mata karena alasan akademis. Lagi pula ceritanya tentang buku memberi kesan bahwa ia jenis orang yang obsesif. Bayangkan, ke Amerika pun dikejar !
“Alicia ditelepon lagi, ya ?” tanyanya.
“Dua kali. Sekali semalam. Sekali lagi pagi ini. Yang terakhir tidak porno, tapi mengancam akan membunuh.”
Pawestri kelihatan kaget.
“Jadi Anda paham mengapa saya harus menemukan si penelepon secepat mungkin ?”
“Paham. Tapi apa yang bisa saya lakukan untuk membantu Anda ?”
“Tolong Anda jawab pertanyaan-pertanyaan saya.”
Kemarin, katanya, ketika ia singgah ke tempat Alicia, di sana memang sedang ada petugas telepon. Ia tidak melihat nomor telepon baru Alicia, tetapi ia bisa menduga apa yang kira-kira sedang dikerjakan petugas itu.
Pawestri pernah bertemu dengan tunangan Alicia. Ia tidak suka kepada Dirga Subrata, sebab orangnya sok, cuma memikirkan kepentingannya sendiri dan tidak pandai. Yang dibualkan cuma olahraga dan bir. Padahal Alicia cerdas dan belajar dengan serius. Pawestri heran mengapa Alicia memilih Dirga untuk menjadi tunangannya. Pawestri tidak kenal pada Arman Sujatmiko.
“Mengapa Anda begitu memperhatikan orang-orang yang dikenal oleh Alicia ?” tanya Pawestri. “Anda menduga penelepon itu salah seorang temannya ?”
“Kemungkinan besar demikian. Orang-orang yang diberitahu nomor telepon barunya cuma teman-temannya. Saat ini sudah dua kali ia ditelepon, padahal telepon baru dipasang kemarin siang.”
“Oh !” kata Pawestri. Ia menghela napas. “Kasihan Alicia. Tentu ia sangat tegang.”
“Seorang teman wanita mendampinginya saat ini.”
“Siapa ?”
“Santi Prawiroadmotjo.”
“Oh, si Wanita Komputer ! Saya tidak suka komputer karena dingin, tidak manusiawi,” komentar Manusia Sejarah itu. “Saya lebih suka masa lalu, dengan segala kekurangannya. Masa yang akan datang yang serba mesin menakutkan bagi saya.”
Saya memberinya kartu nama saya, lalu meninggalkannya.
Saat ini rasanya cuma ada tiga orang yang pantas dicurigai : Pawestri, Dirga, dan Sujatmiko. Untuk mengetahui apakah ada orang lain lagi, saya harus mencari Dirga dan Sujatmiko dulu.
* * *
Pukul 15.30 saya berada di muka pintu apartemen Dirga . Sia-sia saja saya menekan tombol belnya. Menurut tetangganya, seorang wanita setengah baya yang tinggal tepat di bawah apartemen Dirga, tunangan Alicia itu kelihatan mengangkuti barang-barangnya tadi pagi. Jangan-jangan ia pindah. Entah ke mana.
Wanita itu mengeluh. Katanya, Dirga sering mengadakan pesta liar yang hingar bingar di apartemennya. Dirga dan para tamunya minum-minum sampai subuh. Gadis yang dibawanya menginap pun berganti-ganti terus.
Wanita itu dan suaminya tidak suka kepada Dirga, karena keluhan mereka selalu diabaikan.
Mengapa Alicia tidak memberitahu tunangannya akan pindah ? pikir saya. Apakah ia sengaja tidak mau memberitahu, ataukah ia memang tidak tahu ? Apakah Alicia tahu tunangannya kerap mengadakan pesta-pesta liar dan mengajak para wanita menginap ? Mungkin Arman Sujatmiko bisa mengungkapkannya.
Saya mendatangi apartemen Arman Sujatmiko. Nama yang tertera di situ bukan namanya, tapi nama seorang wanita, Linda Hapsari. Keadaan apartemen itu lebih buruk lagi daripada apartemen Dirga. Tidak ada orang di apartemen itu. Pada saat saya akan meninggalkannya, muncullah seorang pria muda bertubuh kekar seperti pemain rugby. Rambutnya hitam, tergerai ke bahu, dan kumisnya yang lebat bersambung dengan cambangnya. Pria itu mengenakan pakaian kerja tukang leding. Ia Arman Sujatmiko, yang baru pulang kerja.
Dengan mata galak ia memandang saya. Sinar matanya tidak banyak berubah, ketika saya memperlihatkan fotokopi kartu identitas saya.
“Siapa yang menyewa Anda ? Ayah Alicia ?” tanyanya.
“Ya.”
“Pantas ! Orang mapan memang suka berlebihan. ‘Kan bukan anaknya sendiri saja yang pernah ditelepon yang jorok-jorok. Apa anehnya ! Di Jakarta kan banyak manusia sinting !”
“Tapi tidak banyak yang jiwanya diancam.”
“Memang pria itu mengancam akan membunuh ?”
“Ya, pagi ini.”
“Astaga ! Menurut Anda, dia serius ?”
Arman Sujatmiko berubah galak, ketika diberitahu bahwa orang yang mendapat nomor telepon baru Alicia cuma ayah Alicia, Dirga Subrata, dan dia.
“Anda menuduh saya, ya ?” katanya.
“Siapa menuduh Anda ? Saya datang ke sini untuk bertanya.”
“Bertanya apa ?”
“Anda memberi nomor telepon Alicia kepada orang lain ?”
Sujatmiko mengaku tidak memberikannya kepada siapa-siapa, bahkan juga kepada Linda Hapsari, wanita yang hidup bersamanya. Sujatmiko tidak tahu apakah Dirga memberikan nomor telepon Alicia kepada orang lain.
“Tanya saja kepadanya !” katanya.
“Ia tidak ada di apartemennya.”
Akhirnya, setelah digertak, mau juga Sujatmiko memberi tahu tempat-tempat yang sering dikunjungi Dirga Subrata. Dirga, katanya, biasa ada di rumah minum Imperium sekitar pukul 17.00. Kemungkinan ia juga masih akan kembali ke apartemennya atau menginap di kapal pribadinya, Ocean Cruise.
Menurut Sujatmiko, Dirga Subrata akan segera pindah ke Singapura, karena pada semester yang lalu ia drop-out dari Universitas Tunggul Ametung. Ia akan berangkat bersama seorang temannya, membawa kapal Ocean Cruise ke Singapura. Entah Alicia sudah tahu atau belum.
“Dia ‘kan akan menikah dengan Alicia,” kata saya.
Sujatmiko tertawa.
“Dia bukan jenis pria yang berniat menikah. Alicia ‘kan gadis cantik yang agak membosankan, karena gagasannya kuno. Mana mau dia tidur dengan Dirga kalau tidak dijanjikan akan dinikahi !”
Leher saya serasa tercekik oleh amarah. Kurang ajar Dirga Subrata ! Rupanya janjinya kepada Alicia cuma sekedar gombal. Setelah merasa cukup mengisap madu seorang gadis baik-baik, dengan seenaknya saja ia akan pergi meninggalkan korbannya. Saya tidak heran kalau makhluk seperti itu bisa menjadi penelepon gelap !
Saya mencari Dirga di Imperium. Dia tidak ada. Menurut bartender, Dirga belum datang. Katanya, Dirga minum bir seperti minum air. Bahkan cereal-nya untuk sarapan pun bukan disiram dengan susu, melainkan dengan bir.
Saat itu pukul 17.00. Saya meninggalkan Imperium sebentar untuk menelepon Pratisto Sumarmo. Saya laporkan semua yang saya ketahui, termasuk bahwa Dirga Subrata sering mengadakan pesta liar dan mengajak pelbagai wanita menginap. Namun, saya tidak memberi tahu alasan Dirga Subrata untuk bertunangan dengan Alicia. Kehidupan seks Alicia adalah urusannya sendiri.
Pratisto Sumarmo marah sekali mendengar tingkah laku Dirga Subrata. Sekarang juga ia akan berangkat memberitahu Alicia. Saya memberitahu bahwa saya akan mencari Dirga. Pria itu memberi saya nomor telepon rumahnya, supaya bisa menghubungi dia setiap saat.
Sampai pukul 18.30 Dirga tidak muncul di Imperium. Jadi saya kembali ke apartemennya di daerah Kuningan. Jendelanya di tingkat III terang. Sementara itu di tempat parkir ada mobil Mercedes yang sudah butut. Seorang pria muda bertubuh atletis sedang memuat barang ke bagasi mobil itu.
Dirga segera tahu bahwa saya detektif yang disewa ayah Alicia, karena Sujatmiko sudah meneleponnya. Berlainan dengan Sujatmiko, ia tidak bersikap bermusuhan. Ia memberi kesan sebagai orang yang lurus hati. Wajahnya tampan dan tubuhnya yang atletis itu mirip remaja. Rambutnya panjang dan dicat pirang. Kumisnya pun dicat pirang. Pantas saja banyak wanita yang jatuh hati ! Padahal hatinya busuk !
“Di mana Anda pukul 13.00 siang ini ?” tanya saya.
“Pada saat Alicia menerima telepon gelap, ya ?”
“Di mana Anda ?”
“Bukan saya yang menelepon. Alicia gadis yang istimewa buat saya. Menyakitkan dia adalah hal yang paling tidak saya inginkan di dunia ini. Mengapa Anda merecoki saya, bukan mencari penelepon itu ?”
Saya maju selangkah.
“Jawab pertanyaanku, Dirga. Di mana kau pukul 13.00 ini ?
Ia tidak menjawab, cuma menggabrukkan pintu bagasi dan menjauhi saya. Ketika ia masuk ke mobilnya, saya bergegas menghampiri, tetapi terlambat. Ia keburu menghidupkan mesin dan kabur.
Saya menjemput mobil saya di tempat parkir, lalu pulang. Soalnya, percuma saja saya menyusul ke tempat kapal-kapal ditambat. Saya tidak akan bisa masuk tanpa kunci dan tanpa ada yang membukakan pintu.
Malam itu saya menelepon Pratisto Sumarmo untuk memberi laporan terakhir.
* * *
Pagi-pagi Pratisto Sumarmo menelepon. Suaranya terdengar lelah dan risau. Katanya, semalam Alicia menolak diajak menginap di Pantai Marina. Malah ia pergi dengan Santi ke pertemuan drama, karena tidak betah dikurung di apartemennya. Hari itu penelepon gelap tidak mengganggu.
Alicia tidak mau mempercayai keterangan negatif tentang tunangannya. Ia yakin Dirga mencintainya. Pagi ini, ketika Sumarmo menelepon lagi, putrinya tetap pada pendapatnya.
Sumarmo berpesan, agar saya menyampaikan ancamannya kepada Dirga. Kalau Dirga berani mendekati putrinya lagi, Sumarmo akan membunuhnya !
Mendengar ancaman Sumarmo, saya meninggalkan sarapan untuk memacu mobil saya ke tempat Ocean Cruise ditambat di Pantai Marina.
Ketika berkeliling mencari tempat parkir, saya melihat Mercedes tersembunyi di balik traktor. Sulit juga mencari Ocean Cruise di tempat sebesar itu. Untung saya bertemu dengan seorang pria berperawakan petinju, yang memberi tahu tempat kapal itu ditambatkan. Katanya, Dirga tidak tampak sejak pagi.
Kapal fiberglass sepanjang 10 m itu sepi saja. Geladak dan kokpitnya kosong. Saya melompat naik dan menuju ke sebuah ruangan di bawah yang diterangi lampu.
“Dirga !” panggil saya. Tetapi sunyi. Akhirnya saya tiba di dapur yang memperlihatkan sisa-sisa hamburger McDonald dan botol-botol bir kosong serta kaleng-kaleng bekas minuman ringan. Saat itu saya merasa bulu kuduk saya merinding. Saya mempunyai firasat ada sesuatu yang tidak beres.
Dengan hati-hati saya singkapkan tirai ke ruang sebelah. Di sana menggeletak Dirga dengan sebelah kaki menggantung ke geladak. Pelipis kirinya berlubang. Lubang itu hitam oleh darah kering. Sebelah tangannya memegang pistol otomatis Smith & Wesson kaliber 38. Namun, saya yakin ia tidak bunuh diri. Ada yang membunuhnya !
* * *
Saya pulang ke kantor. Rasanya saya memerlukan secangkir kopi untuk mengembalikan semangat. Ketika sedang menunggu air mendidih, saya memeriksa alat penjawab telepon. Apakah selama saya pergi ada orang menelepon saya ? Ternyata cuma seorang dan tidak mau berbicara dengan mesin, sebab ia tidak meninggalkan pesan apa-apa.
Mesin . . . Tiba-tiba saja otak saya bekerja, menghubung-hubungkan segala macam informasi yang saya peroleh selama ini.
Lima belas menit kemudian, saya memperoleh gambaran lengkap. Saya yakin tahu siapa pembunuh Dirga . Saya pun tahu siapa penelepon yang mengganggu Alicia. Saya merasa khawatir.
Sebenarnya paling baik kalau saya melapor ke polisi, tetapi saya tidak mempunyai bukti. Selain itu saya tidak mempunyai waktu lagi untuk menghubungi teman saya di kepolisian. Saya harus bergegas menyelamatkan Alicia. Jangan-jangan saya sudah terlambat.
Saya ngebut ke apartemen Alicia. Walau berulang-ulang menekan bel di dekat plat namanya yang menempel di dinding keramik, panggilan saya tidak dijawab. Saya menjadi panik. Lalu saya teringat pada Niko Pawestri. Saya tekan tombol 5-E. Pawestri menjawab. Setelah saya memperkenalkan diri, ia membiarkan saya masuk.
Untuk menghemat waktu, saya berlari menaiki tangga ke tingkat III. Rasanya dada saya hampir pecah ketika tiba di depan pintu apartemen C-4. Pintunya terkunci. Percuma saja saya memanggil-manggil dan menggedor-gedor pintu.
Akhirnya ada wanita tetangga Alicia menjengukkan kepala dengan wajah khawatir. Untuk menghemat waktu, saya mengaku bahwa saya polisi. Apakah ia melihat Alicia hari ini ?
“Tidak,” jawabnya.
Pada saat saya mencari penjaga apartemen, Pawestri muncul. Ia sudah menduga saya pergi ke apartemen Alicia.
Ketika saya bertanya apakah ia bertemu Alicia pagi ini, ia menjawab bahwa tadi pagi ia berpapasan dengan Alicia di lobi. Alicia kelihatan sangat risau. Saat itu Alicia bersama Santi Prawiroadmotjo. Mereka berniat meninggalkan gedung sambil membawa koper. Mereka tidak memberi tahu akan ke mana.
“Di mana Santi Prawiroadmotjo tinggal ?” tanya saya.
Pawestri cuma tahu Wanita Komputer itu tinggal di daerah Cikini. Tanpa mempedulikan Pawestri lagi, saya berlari turun. Santi adalah pembunuh Dirga dan penelepon gelap itu !
Di bilik telepon umum, pada buku telepon saya temukan nama Santi. Alamatnya di Apartemen Megaria. Itulah satu-satunya Santi yang bertempat tinggal di Cikini.
Lima belas menit kemudian saya tiba di depan apartemen itu. Di halamannya yang dipenuhi tanaman segar, saya melihat ada mobil. Telapak tangan saya berkeringat ketika tidak ada orang keluar setelah bel pintu ditekan. Waktu saya akan memijat bel lagi, pintu dibuka oleh Santi. Saya menghajar pintu dengan bahu sampai terpentang dan wanita itu pun terpental. Kemudian pintu saya tutup kembali.
“Mana Alicia ?” tanya saya.
“Di kamar,” jawab Santi dengan wajah dan suara datar saja.
Alicia Sumarmo terbaring di ranjang. Ia bergerak sedikit ketika saya memeriksa denyut nadinya yang ternyata jelas terasa. Alicia masih hidup ! Tapi wajahnya sembab dan bibirnya yang kering itu pecah-pecah.
“Apa yang kau berikan kepada Alicia ?” tanya saya kepada Santi.
“Obat tidur,” jawab gadis kurus itu acuh tak acuh, diselingi menghirup Coca-Cola dari kaleng.
“Berapa banyak ?”
“Paling-paling tiga. Dia sangat sedih, karena . . .Dirga tewas.”
“Dari mana dia tahu ? Kau memberitahu ?”
“Bukan. Ayahnya menelepon. Ayahnya ingin membawa Alicia pergi, tapi dia tidak mau. Dia minta menginap di sini. Dari mana Anda tahu soal . . .”
Saya tidak segera menjawab. Di sebuah sudut ruang duduk terdapat pelbagai peralatan elektronik : radio, video, dvd, cassette-recorder, komputer, dan macam-macam lagi. Sebuah mesin penjawab dikaitkan ke telepon.
“Kemarin,” jawab saya, “ketika Alicia menerima ancaman dari telepon, kita bertiga ada di apartemennya. Waktu saya mengambil gagang telepon dari Alicia, saya mendengar desiran dan bunyi ‘klik’ sebelum hubungan putus. Bunyi ‘klik’ selalu terdengar kalau seseorang memutuskan hubungan telepon, tetapi desiran hanya ada kalau kita mempergunakan mesin. Saya baru sadar tadi pagi, ketika memeriksa mesin penjawab telepon saya.”
Santi cuek saja sambil menghirup Coca-Colanya.
“Ada mesin lain yang menghasilkan bunyi desiran dan ‘klik’, yaitu mesin untuk menyampaikan pesan seperti cassette-recorder milikmu itu. Kau ahli elektronik, Santi. Kau merekam pesan di kaset dan menghubungkan rekaman ke telepon dan ke komputer. Lalu kau memprogram komputer supaya menelepon pada saat detektif yang disewa ayah Alicia ada di apartemen Alicia dan kau juga hadir di sana. Maksudmu, agar kau tidak dicurigai sebagai si penelepon gelap. Atau mungkin kau ingin melihat wajah Alicia pada saat kau mengancam akan membunuhnya ?”
“Saya tidak berniat membunuhnya. Saya cuma ingin menyakiti dia, lebih daripada ia menyakiti saya dengan merebut Dirga dari saya. Saya mencintai Dirga dan Dirga pun dulu mencintai saya. Kami akan menikah. Lalu Alicia mengambilnya. Saya ingin Dirga kembali, tetapi ia tidak mau. Ia malah selalu menjemput Alicia ke universitas. Saya benci Alicia.”
“Mengapa kau berpura-pura menjadi pria dan berkata yang jorok-jorok di telepon ?”
“Karena Alicia bilang dia takut dan benci kepada pria yang berbicara begitu.”
Ancaman itu masih ada di kaset, belum dihapus.
* * *
Ternyata kemarin malam Santi diam-diam mendengarkan Pratisto Sumarmo memberitahu bahwa Dirga akan meninggalkan Alicia dan bahwa Dirga bukan pemuda baik-baik. Santi seperti Alicia, tidak percaya Dirga pemuda hidung belang. Harapan Santi timbul bahwa Dirga akan kembali kepadanya. Ia pergi ke apartemen Dirga. Pemuda itu tidak ada. Ia menyusul ke Pantai Marina, tetapi tidak diperkenankan masuk. Ketika ia sudah putus asa, Dirga datang dengan Mercedes-nya. Ia ikut masuk dengan Dirga .
Dirga membawa Big Mac dan kentang goreng, tetapi ia tidak ditawari. Pemuda itu makan sendiri dan minum bir. Santi sampai mesti membeli Coca-Cola di mesin otomat. Sesudah tidur bersama, Santi minta diperkenankan ikut ke Singapura. Dirga Subrata menolak betapapun Santi memohon-mohon. Dirga malah menertawakannya. Santi, Alicia, dan para wanita lain sama saja baginya, kata Dirga Subrata. Karena merasa dipermalukan, Santi mengambil pistol penembak yang ada di kapal itu dan menembak kepala Dirga .
“Kini saya tidak ingin menyakiti Alicia lagi,” katanya.
“Apakah Anda akan memanggil polisi sekarang ?”
“Ya,” jawab saya dengan berat hati.
“Silahkan.”
* * *

Chronicle of Markonah

Namaku Markonah. Asli Jawa. Aku adalah anak pertama. Umurku 13 tahun. Masih duduk di bangku SMP. Orang tuaku sama sekali tidak kaya. Bahkan mungkin bisa digolongkan kategori miskin menurut ukuran PBB. Itu kata teman-temanku. Kami tinggal di sebuah gang sempit di pinggiran kota, sebuah kota kecil yang ada di Pulau Jawa, Republik Indonesia. Ayah dan ibuku jarang ada di rumah. Ayah berangkat kerja pagi-pagi sekali dan baru pulang menjelang sholat Maghrib. Ibuku berangkat kerja sehabis sholat Subuh dan baru pulang sehabis sholat Isya’. Orang tuaku sibuk bekerja. Memangnya hanya orang kaya saja yang jarang berada di rumah. Ayahku tukang becak. Ibuku pembantu rumah tangga. Malam hari adalah satu-satunya kesempatan keluarga kami berkumpul di rumah. Namun bila keadaan ekonomi sudah demikian mendesak, terkadang orang tuaku baru pulang ke rumah larut malam. Ayah dan ibuku cepat sekali kelihatan bertambah tua. Gurat-gurat penderitaan hidup tergambar jelas pada raut muka mereka. Hidup semakin susah dari jaman ke jaman. Namun kami tidak pernah mengeluh. Rejeki dari Tuhan selalu saja berdatangan, walau kami memang harus sedikit lebih keras berusaha dibanding orang lain. Misalnya saja, ayahku harus sering mangkal duduk-duduk di masjid ngobrol sana-sini dengan pengurus masjid dan mencari-cari informasi apakah ada undangan tahlilan atau kirim doa bagi orang yang baru saja meninggal. Bukannya girang setiap kali ada orang yang baru saja meninggal, namun tiap kali ada orang yang baru saja meninggal, itu berarti kesempatan bagi kami untuk makan lebih layak dari menu makan biasanya. Bila ada undangan pengajian sehabis sholat Isya’ atau tahlil kirim do’a orang yang baru meninggal, ayah hampir tidak pernah absen. Sebagai imbalan tentu saja adalah penganan nasi berkatan dan lauk pauk yang bisa dibawa pulang untuk dimakan bersama seluruh anggota keluarga. Ayahku tentu saja tidak ikut makan nasi berkatan tersebut, karena beliau biasanya sudah makan penganan suguhan saat acara tahlil kirim do’a atau pengajian tersebut. Bahkan bilamana ada makanan berlebih yang bisa dibawa pulang, ayah tanpa sungkan-sungkan meminta lauk-pauk dan kue-kue yang bisa dibawa pulang. Mungkin ayah sudah tebal muka dan melupakan rasa malu atau gengsi demi kami sekeluarga yang menunggu di rumah.
Tiap malam minggu, terkadang aku, adik-adikku dan teman-teman sekampung beramai-ramai menuju restoran Mc Donald atau KFC. Bukan untuk membeli makanan di sana, namun menunggu restoran tersebut benar-benar tutup pada pukul sebelas malam. Biasanya saat restoran sudah akan tutup dan karyawannya bersiap-siap pulang ke rumah, selalu ada salah seorang atau lebih karyawan yang berbondong-bondong menuju tempat sampah, membuang makanan afkir atau pun makanan sisa yang jumlahnya berkarung-karung plastik. Karung plastik penuh makanan itu biasanya ditumpuk begitu saja di dalam tempat sampah kering yang ada di samping bangunan restoran. Walau terkadang karung-karung sampah tersebut dibakar bila kami terlambat datang ke tempat sampah itu, namun rupanya petugas atau karyawan restoran sudah hapal betul pada jam berapa kami biasanya sudah menunggu di situ. Akhirnya kebiasaan membakar sampah pun tidak lagi dilakukan, dan mereka membiarkan saja saat kami mengais-ngais karung sampah yang isinya penuh dengan harta karun, “makanan mahal” yang tidak bakal bisa terbeli oleh kami, para rakyat pribumi yang dari jaman ke jaman selalu saja terbelit kemiskinan. Terkadang kami juga mengunjungi tempat sampahnya restoran Dunkin Donuts. Seringkali kami diusir bilamana ingin mengorek-ngorek karung sampah berisi kue-kue afkiran yang ada di dekat bangunan gedung restoran tersebut. Namun ada juga beberapa karyawan dan petugas satpam yang mau berbaik hati akhirnya mengijinkan kami untuk memungut dan mencari-cari makanan sisa sekedarnya. Yang paling sering, kami mengunjungi tempat sampahnya Pizza Hut. Di sana begitu banyak sisa-sisa potongan pizza, bahkan terkadang juga satu loyang pizza yang pinggirannya sedikit gosong atau pun bekas gigitan orang yang tidak habis dimakan. Ada pula spaghetti, lasagna, dan aneka makanan yang terkadang bercampur aduk tidak karuan rupanya (namun enak rasanya, he..he..he..).
Kami juga sangat sering menjumpai begitu banyak gelas-gelas plastik yang berisi aneka minuman ringan yang tidak habis diminum atau bahkan es krim, sisa-sisa dari para pengunjung restoran-restoran makanan cepat saji yang ada di kota kami. Jadi, walau kami miskin, tidak berarti kami tidak pernah makan makanan mahal, bahkan mungkin kami makan lebih banyak daripada orang-orang kaya yang sering mampir makan di restoran-restoran cepat saji tersebut. Biasanya sambil mengais-ngais sampah dan langsung memakannya, kami juga mengumpulkan beberapa banyak untuk dibawa pulang. Memang kami biasanya sudah menyiapkan kantung-kantung plastik ukuran besar untuk menampung “hasil buruan” kami. Tentu saja pagi harinya kami tidak lagi perlu kelaparan, karena makanan hasil buruan tersebut akan kami santap bersama seluruh anggota keluarga sebagai makanan sarapan dan terkadang juga untuk makan siang.
Lain halnya dengan usahaku serta saudara-saudaraku dalam berburu makanan di tempat sampah, ibuku lebih beruntung karena beliau terkadang pulang dengan membawa begitu banyak lauk makanan dan nasi pemberian ibu-ibu dermawan tempat beliau bekerja. Memang tidak setiap hari, namun setidaknya hal itu bisa mencukupi kebutuhan makanan bergizi kami tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Hari raya agama apapun adalah saat-saat yang paling menggembirakan bagi kami sekeluarga, karena selain lebih banyak orang yang lebih giat beramal membagi-bagikan sedekah, juga terdapat begitu banyak makanan sisa yang bisa kami dapat. Misalnya saja, pada hari raya Idul Adha, sudah sejak pagi kami antre daging kurban di masjid-masjid dan lembaga sosial. Di hari raya Idul Fitri, selalu saja ada uang yang kami dapat dari takmir masjid, pakaian bekas, beras dan juga makanan. Di hari Natal, kami selalu memperoleh uang, makanan dan pakaian dari badan sosial seperti Balai Keselamatan maupun gereja. Di hari raya Imlek, selalu saja ada uang, buah-buahan, dan terkadang pakaian pemberian para pengurus kelenteng dan para pengunjung kelenteng yang dermawan. Pendek kata, kami tidak pernah merasa kekurangan dan selalu hidup bahagia. Bukankah kebahagiaan tidak selalu harus diukur dari berapa banyak uang yang kami punya. Kebersamaan, kasih sayang dan waktu yang selalu dicurahkan oleh kedua orang tuaku adalah sumber kebahagiaanku yang tidak akan bisa dibandingkan dengan apa pun. Setiap malam saat kami semua berkumpul di dalam rumah, selalu saja ada celoteh lucu atau cerita yang kami bagi bersama keluarga. Ayah dan ibu terkadang juga mendongeng cerita-cerita lucu, kisah-kisah para nabi, dan juga nasehat-nasehat yang selalu kami ikuti. Saat hari sudah mulai malam, kami pun segera berangkat tidur dengan perut kenyang, karena selalu saja ada rejeki dari Tuhan untuk dimakan hari ini. Dan tentu saja untuk yang satu ini kami tidak pernah habis mengucapkan rasa syukur karena Tuhan masih menyayangi kami dengan memberikan kami kehidupan dan badan yang sehat serta orang tua yang penyayang.
Sebagai seorang anak tertua dari tiga bersaudara, aku selalu harus menemukan ide-ide baru untuk membantu meringankan beban tanggungan kedua orang tuaku. Di sela-sela kesibukanku bersekolah, aku menyempatkan diri mencoba menjadi pemulung sampah di tempat pembuangan sampah di kota ini. Wak Soleh, juragan barang loak selalu bermurah hati memberikan upah lebih untuk tiap kilo botol plastik atau pun barang-barang temuanku yang terbuat dari plastik. Uang yang kuperoleh aku kumpulkan untuk ditabung dan juga sesekali bisa banyak berguna bila aku membutuhkannya untuk membeli buku tulis atau pun peralatan tulis lainnya. Terkadang aku merasa sedikit bangga bahwa aku di usia mudaku sudah bisa mencari uang sendiri walau pun sumbangsihku tidak terlalu banyak membantu meringankan biaya sekolah. Untunglah ada Bu Wati salah satu guruku yang begitu berbaik hati untuk membayari uang SPP-ku setiap bulannya. Jasa baik Bu Wati tidak akan pernah aku lupakan. Kedua orang tuaku hanya bertugas membayar iuran bulanan LKS yang jumlahnya tidak seberapa dan juga membelikan aku seragam sekolah setiap tahun ajaran baru. Kami selalu percaya bahwa Tuhan akan selalu membantu menemukan jalan keluar setiap masalah yang kami hadapi. Buktinya kami selalu dimudahkan olehNya dalam segala urusan kehidupan.
Pagi ini aku bergegas menuju sekolah. Aku bangun agak kesiangan. Tadi malam aku pulang sangat larut sehabis mengorek-ngorek sampah mencari sisa makanan dan kue-kue yang masih bisa dimakan. Sebelum tidur, aku menyempatkan diri untuk belajar dan membaca materi buku yang akan diujikan dalam ulangan pagi ini hingga larut malam. Walhasil, aku hanya tidur selama kurang lebih tiga jam. Sambil bergegas berlari aku menyambar beberapa kue hasil buruanku tadi malam yang kutemukan di dalam bak sampah depan sebuah toko kue. Sambil berlari-lari kecil aku jejalkan suapan-suapan besar kue ke dalam mulutku. Perutku yang lapar tampak gembira menyambut bongkahan-bongkahan kue yang meluncur cepat ke dalam perutku yang keroncongan. Jam sudah menunjukkan pukul enam lebih lima menit. Padahal bel masuk sekolah biasanya berbunyi pukul setengah tujuh tepat. Aku berlari dan berlari. Di jalan aku bertemu dengan Yono, salah seorang kawan sekelasku yang juga berlari-lari karena takut terlambat. Hari ini ada ulangan matematika pada jam pertama. Itu berarti dua puluh lima menit lagi! Aku tidak boleh terlambat! Kalau terlambat itu berarti aku tidak bisa mengikuti ulangan, karena pintu gerbang sekolah yang tingginya dua meter itu selalu tidak pernah terlambat ditutup saat jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh tepat. Wah, sekarang sudah pukul enam lebih dua puluh menit, aku melirik ke jam tangan murah yang melingkar di pergelangan tanganku. Aku semakin memacu kecepatan lariku. Jantungku serasa mau copot karena kehabisan napas. Aku tidak peduli. Yang penting aku harus segera sampai di sekolah sebelum pintu gerbang sialan itu tertutup rapat. Yono berlari mengejar saat melihatku menambah kecepatan lariku. Rupanya ia menyadari bahwa pintu gerbang akan ditutup sepuluh menit lagi. Terdengar napasnya ngos-ngosan saat ia berlari di samping kiriku. Kami berlari dan berlari menyusuri jalanan sempit gang-gang yang merupakan jalan tembus terdekat menuju sekolah kami. Sesekali kami harus menyeberang. Hal ini membuat kami jengkel, karena hal itu berarti membuat kami harus berhenti berlari dan menengok kanan kiri takut kalau-kalau ada kendaraan yang melaju dalam kecepatan tinggi. Lima menit lagi, pikirku. Keringatku mengucur deras. Kakiku rasanya bakal lecet-lecet. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak boleh terlambat. Dua menit lagi. Ya Tuhan, tolonglah aku. Aku tidak boleh terlambat! Sepuluh meter lagi, pikirku, saat kulihat pak satpam sekolah mulai menuju pintu gerbang hendak menutup pintu itu. Wah mati aku! Aku semakin memacu kakiku dan memaksanya agar menambah kecepatan berlari. Dan akhirnya, aku berhasil masuk menerobos di bawah ketiak pak satpam yang sudah tidak sabar hendak menutup pintu gerbang sekolah. Yono menyusul di belakangku sambil berteriak-teriak histeris. Untunglah pak satpam mendengar teriakannya. Pria setengah baya itu dengan sedikit jengkel mau juga berbaik hati membiarkan Yono melintas masuk menuju halaman depan sekolah. Dan ia pun segera menutup pintu gerbang itu rapat-rapat. Kini tiada ampun lagi bagi anak-anak lain yang terlambat beberapa detik di belakang kami. Memang hampir setiap hari selalu ada saja yang terlambat datang ke sekolah.
Aku sedikit menyesal mengapa aku tidur terlalu malam. Apa pun alasannya, walau pun itu karena aku harus belajar untuk persiapan ulangan matematika pagi ini, bangun terlambat sama sekali tidak bisa dibiarkan. Dalam hati aku mengutuki diriku sendiri yang terlambat bangun pagi ini. Ayah dan ibuku sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali. Mungkin mereka sudah demikian lama membangunkan aku untuk sholat subuh, namun mungkin karena terlalu capek begadang semalaman aku jadi sulit bangun. Untunglah aku tidak terlambat masuk sekolah. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan lagi mengikuti sistem belajar kebut semalam. Lebih baik belajar secara teratur daripada harus ngebut belajar hanya pada saat-saat terakhir sebelum ulangan tiba. Tapi mau bagaimana lagi, karena waktuku banyak tersita untuk memunguti sampah plastik di tempat pembuangan sampah dan juga mengais-ngais tempat sampah restoran maupun toko kue untuk mencari penganan tambahan. Aku tidak pernah malu melakukannya. Bahkan beberapa orang temanku ada juga yang ikut-ikutan mengorek-ngorek tempat sampah untuk mencari kue-kue atau pun makanan cepat saji afkiran di tempat sampah samping restoran. Tentu saja saat orang tua mereka tahu (karena kebetulan mereka berasal dari latar belakang ekonomi berada) mereka kena damprat dengan alasan mempermalukan keluarga. Tapi dasar teman-temanku yang memang bandel-bandel, walau sering dimarahi oleh orang tua mereka karena ketahuan mengorek-ngorek tempat sampah, mereka selalu dengan setia menemaniku ikut-ikutan mencari-cari makanan yang masih layak dimakan. Bagi anak-anak seumuran kami, semakin jorok gaya hidup kita akan semakin bagus dan keren. Bahkan bisa menjadi semacam kebanggaan untuk dipamerkan. Hih, mungkin sedikit aneh, mengerikan dan tidak wajar bagi orang-orang yang terbiasa dimanjakan oleh fasilitas dan hidup enak. Tapi bagi kami yang sudah kenyang oleh penderitaan dan kemiskinan, hal seperti ini bukan lagi suatu aib yang harus ditutup-tutupi. Yang penting apa yang kami lakukan tidak merugikan orang lain, karena kami tidak mencuri. Kami hanya mengambil apa yang sudah dibuang oleh orang lain. Jadi untuk apa dipermasalahkan?
Wah, aku kok jadi ngelantur ke mana-mana. Di depan kelas sudah berdiri Bu Siska dengan tampang galaknya melotot ke arahku. Aku memasang tampang memelas dan pura-pura menyesal. Tampaknya aktingku berhasil dengan baik, buktinya aku diperbolehkan masuk kelas walau didahului oleh sederetan panjang nasehat dan omelan. Tidak apa-apa, yang penting aku masih diijinkan mengikuti ulangan matematika pada jam pertama pelajaran pagi ini. Itu saja! Seragamku hampir basah kuyup oleh keringat yang mengucur deras. Napasku masih saja ngos-ngosan, terengah-engah seperti seekor anjing yang habis berlari berebut tulang. Aku mengambil saputanganku yang kondisinya demikian mengenaskan, sudah seminggu belum dicuci. Kuusapkan sapu tangan dekil itu di leher dan wajahku yang berkeringat. Lalu buru-buru aku keluarkan peralatan tulisku, selembar kertas untuk jawaban ulangan dan tentu saja berusaha untuk bersikap tenang. Buru-buru aku segera berdoa agar Tuhan membantuku memudahkan proses bekerjanya otakku. Bu Siska segera memulai mendiktekan soal-soal ujian untuk kami tulis. Aku pun segera asyik mengerjakan soal-soal ulangan matematika. Ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan sebelumnya. Semua yang aku pelajari tadi malam ternyata tidak sia-sia. Dengan lancar aku kerjakan setiap nomor soal dengan teliti, dan tidak terlalu lama untuk menyelesaikan semuanya. Masih tersisa setengah jam lagi, dan aku sudah menyelesaikan semua soal. Kuperiksa kembali jawaban demi jawaban yang aku tulis di lembar kertas ulanganku. Semuanya sudah benar, itu menurutku. Semoga saja memang demikian. Ah, yang penting aku sudah berusaha, demikian pikirku. Jam pelajaran pertama pun segera berlalu, dan aku menikmati setiap detik pelajaran yang kuterima di sekolah hari ini. Aku mengerjakan semua soal ulangan tadi dengan sangat baik. Semua itu berkat sisa makanan yang aku korek dari tempat sampah yang masuk ke perutku tadi pagi.

Rabu, 01 Agustus 2007

Aku Pulang !

Wignyo adalah seorang pria muda yang bekerja sebagai seorang porter kargo di sebuah gudang kargo bandar udara di Pulau Jawa. Sudah bertahun-tahun ia bekerja sebagai porter. Walau terasa begitu berat, namun pekerjaan ini satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menghidupi keluarganya. Ia harus berangkat dinihari menuju gudang kargo bandar udara tempatnya bekerja. Saat itu ia harus sudah siap menerima dan mengatur setiap paket barang yang akan diberangkatkan dengan penerbangan terpagi dari lima maskapai yang ada. Hampir semua barang yang akan diberangkatkan dengan pesawat harus melalui gudang bandar udara. Jadi semua jasa kurir dan termasuk pula paket serta surat-surat yang dikirim oleh Pos Indonesia harus diperiksa dan ditimbang ulang di gudang kargo bandar udara ini. Semuanya, tanpa kecuali, baik barang yang akan diberangkatkan maupun barang yang datang, semuanya harus melalui pemeriksaan dan penimbangan ulang di gudang kargo bandar udara ini.
Konon beberapa tahun yang silam, gudang kargo bandar udara ini sempat pula bermasalah saat terjadi kasus penyelundupan emas batangan yang dimasukkan ke dalam tas koper dan dikirim sebagai barang paket melalui sebuah jasa kurir. Karena saat itu jam keberangkatan begitu mepet dan sibuk, mungkin saja koper berisi emas itu sempat lolos dari pemeriksaan. Entahlah, apa ada unsur kesengajaan atau tidak, yang jelas kasus itu sempat merebak dan bikin heboh. Kini pemeriksaan pun semakin diperketat. Tidak ada lagi tindakan mencuri-curi berat timbangan, karena itu sangat berbahaya. Maksudnya begini, setiap barang yang masuk ke gudang kargo harus ditimbang, dicatat dan diperiksa, kemudian didaftar dalam lembar manifest barang dan data itu masuk di database komputer. Gunanya supaya setiap barang yang keluar masuk bisa dideteksi dan diselidiki dari mana asal dan tujuannya, demikian pula isinya. Selain itu dengan adanya kegiatan penimbangan barang kargo, berat setiap kargo barang yang akan dimuat di pesawat bisa dikontrol agar tidak overload (kelebihan beban), sebab pesawat yang mengalami overload kargo, sangat rawan mengalami kecelakaan waktu berada di ketinggian.
Satu-satunya cara untuk mengontrol agar barang kargo yang diangkut pesawat tidak overload yaitu dengan memeriksa catatan berat yang tercantum di manifest barang dan juga melakukan cross check dengan data yang ada di komputer. Jadi yang dianggap bertanggung jawab bila terjadi kecelakaan akibat pesawat kelebihan muatan atau overload adalah pihak gudang kargo bandara. Maka dari itulah sekarang pengawasan dilakukan secara lebih ketat, supaya tidak ada lagi upaya oknum-oknum petugas bandara yang berkolusi dengan jasa kurir untuk mengurangi berat timbangan yang dicatat. Misalnya, kalau berat suatu paket setelah ditimbang mempunyai berat 100 Kg, bisa jadi kalau ada seorang oknum nakal yang berkolusi dengan oknum petugas jasa kurir, berat yang dicatat hanya sebesar 50 Kg, supaya biaya ongkos gudang yang dibayarkan bisa lebih murah. Tentu saja oknum petugas gudang kargo akan mendapat uang tahu sama tahu dari petugas jasa kurir. Memang kelihatannya sepele, namun kalau semua orang berbuat seperti itu, bisa-bisa barang kargo yang dimuat di pesawat melebihi kapasitas yang disarankan, sementara yang tercatat di dokumen manifest lebih kecil dari jumlah yang sebenarnya. Bayangkan bila jumlah itu dikalikan dengan ratusan paket yang dikirim tiap harinya dengan pencatatan palsu, tentu bila pesawat mengalami kecelakaan akibat overload kargo, semua itu menjadi sulit untuk dideteksi.
Wignyo merasa bosan dan juga jengkel dengan kondisi yang itu-itu juga. Sebenarnya ada sebuah masalah yang selama ini begitu mengganjal hati dan pikirannya. Sudah bertahun-tahun sejak ia bekerja di gudang kargo ini, setiap minggunya selalu saja ada peti jenazah TKI maupun TKW yang datang di gudang kargo ini. Biasanya gudang kargo ini bakal ramai dikunjungi oleh para penjemput jenazah saat sore hari menjelang jadwal kedatangan pesawat, bila rencananya mau ada peti jenazah yang datang. Setiap minggu selalu ada saja lebih dari satu peti jenazah yang datang dari Malaysia, Singapura, Taiwan, Hongkong, Jepang, Korea hingga Arab Saudi. Melihat dari banyaknya peti jenazah yang berdatangan setiap minggunya, Wignyo sering bertanya pada dirinya sendiri, begitu burukkah perlakuan yang diterima oleh para TKI dan TKW bangsa ini yang mengadu nasib di luar negeri demi sesuap nasi. Begitu kejamkah manusia-manusia yang katanya berperadaban tinggi di negeri-negeri kaya seberang lautan sana, sehingga demikian tega berlaku kejam pada para TKI dan TKW hingga mereka pulang bukannya membawa sejumlah uang untuk keluarga, namun pulang dalam peti mati dari bahan kayu murah. Apakah derajat bangsa ini demikian rendahnya sehingga mau saja terus mengirimkan TKI dan TKW, menyetorkan nyawa anak bangsa untuk dibunuh di negeri lain ? Apakah tidak ada sedikit pun kepedulian dari pemerintah negeri ini untuk mengangkat derajat dan harkat bangsanya sendiri ? Sebegitu hinakah derajat rakyat bangsa ini sehingga tetap diam saja saat diperlakukan tak ubahnya seperti budak di jaman penjajahan, yang dengan mudah bisa dibunuh bila dianggap sudah tidak bermanfaat dan tidak produktif lagi ? Wignyo terus bertanya dalam hati. Jauh dalam lubuk hatinya ia masih dapat bersyukur bahwa walau dengan gajinya yang kecil dan pas-pasan sebagai seorang porter di gudang bandar udara, setidaknya ia tidak mengalami nasib seburuk mereka yang ada dalam peti-peti jenazah itu. Setidaknya ia masih bisa berkumpul dan hidup bahagia dengan anak istrinya, persis seperti pepatah Jawa yang mengatakan, “Mangan ora mangan sing penting kumpul”.
Wignyo merenung sejenak, kalau bandar udara ini saja setiap minggunya selalu menerima paket kiriman jenazah TKI dan TKW, yang kalau satu tahun sudah dapat dihitung berapa banyaknya, bisa dibayangkan berapa total peti jenazah berisi TKI dan TKW dari negeri-negeri asing yang setiap minggunya berdatangan di berbagai bandar udara di tanah air. Berarti begitu banyak jumlah orang Indonesia yang mati sebagai tumbal negara di luar negeri. Namun sampai saat ini sepertinya kok pemerintah tenang-tenang saja menanggapi begitu banyak nyawa warga negeri ini yang melayang sia-sia akibat perlakuan kejam para juragan di negeri asing. Mungkin penjajahan masih belum berakhir. Rakyat negeri ini masih saja terjajah secara ekonomi, lahir dan batin. Bahkan saat pulang pun mereka tetap tidak mendapatkan penghormatan sebagai seorang pahlawan devisa. Banyak diantara mereka yang pulang terbungkus oleh peti mati berbahan murah. Peti mati murahan yang terbuat dari kayu yang permukaannya kasar. Sebuah penindasan dan pelanggaran HAM terang-terangan yang tak juga mendapat perhatian lebih. Mereka-mereka yang pulang dalam peti jenazah itu, kalaulah memiliki pilihan, mungkin akan lebih memilih bekerja di negeri sendiri, tentunya dengan penghasilan yang manusiawi, tidak seperti yang terjadi sekarang.
Outsourcing begitu merajalela, seakan rakyat hanyalah buruh murah yang tidak mempunyai hak untuk hidup lebih baik. Apalagi sepertinya hampir tidak ada lagi status karyawan tetap, yang ada hanyalah status karyawan kontrak. Sejarah telah berulang, kalau dulu di jaman penjajahan Belanda ada undang-undang yang namanya undang-undang kuli kontrak, yang kalau para pekerja bekerjanya tidak becus, bakal kena poenale sanctie (hukuman badan, dengan cara dicambuk atau dipukul), sekarang sepertinya hal itu terjadi kembali dengan versi yang berbeda namun dengan motif yang kurang lebih sama. Buruh dan karyawan tidak lagi memperoleh hak untuk hidup layak, dengan gaji yang sangat minim (sementara biaya hidup terus melambung tinggi), tanpa tunjangan kesejahteraan, tanpa adanya jaminan kesehatan, tanpa adanya uang makan, tanpa adanya uang transpor, kami para buruh dan karyawan tak ubahnya seperti sapi perahan yang harus bekerja siang malam dan terus diperas sampai mati garing akibat kurang gizi dan sakit-sakitan. Jadi apa bedanya jaman sekarang dan jaman penjajahan Belanda dulu. Kami para rakyat kecil masih saja hidup dalam penindasan, tanpa kesejahteraan dan hidup dengan fatamorgana kemakmuran. Iming-iming bisa hidup kaya sepulang dari negeri seberang hanyalah fatamorgana yang mematikan. Buktinya sudah demikian banyak korban berjatuhan. Setiap minggunya selalu ada saja lebih dari satu peti jenazah yang berdatangan dari berbagai negeri seberang lautan. Mereka semua pahlawan devisa yang telah pulang ke tanah tumpah darah yang tercinta, Indonesia. Hanya terbungkus dalam peti jenazah berharga murah. Di manakah harga diri kita, wahai bangsaku ?

Muak !

Didin terbatuk-batuk untuk ke sekian kalinya. Dalam hati Didin mengutuki beberapa penumpang yang merokok di sampingnya. Asap rokok di sekitarnya bagaikan kabut pagi yang demikian tebal. Sebal rasanya setiap kali menjumpai manusia-manusia perokok yang tak tahu diri seperti mereka itu. Mereka pikir kendaraan angkot ini hanya mengangkut manusia-manusia macam mereka. Sepertinya mereka tak pernah berpikir bagaimana orang lain merasa keberatan dengan begitu banyak asap yang menyesakkan dada. Didin tak habis pikir, mengapa Tuhan menciptakan manusia-manusia yang tidak punya perasaan seperti mereka. Manusia-manusia yang hanya memikirkan kepentingan dan kepuasan diri semata tanpa pernah memikirkan apa akibat yang mereka timbulkan. Sesekali para manusia perokok itu meludah, mengeluarkan dahak kental yang keluar dari paru-paru mereka yang busuk.
“Hooekk, cuuh !”
“Uhuk..uhuk..khkheerk....hooeekk, cuuh !”
Terdengar suara jorok menjijikkan itu bersahut-sahutan. Mereka meludah seenaknya di lantai kendaraan angkot yang sarat penumpang itu. Para penumpang lain memandang dengan jijik pada manusia-manusia perokok itu. Didin merasa napasnya begitu sesak. Ia takut kalau-kalau penyakit asmanya kambuh di atas kendaraan angkot ini. Sebagai pria muda, ia mengutuki kaumnya sendiri, kaum pria. Mengapa pria harus selalu merokok ? Mengapa pria perokok selalu merugikan manusia lain tanpa mempunyai sedikit pun empati, bahwa tidak semua orang menyukai kehadiran mereka yang selalu dikelilingi oleh asap rokok ? Dasar manusia-manusia egois ! Negeri ini penuh dengan manusia-manusia macam mereka ! Tak heran negeri ini tidak juga menjadi negara maju sejak berpuluh tahun lalu. Selalu saja ada manusia-manusia bebal macam mereka yang demikian egois dan mau menang sendiri.
“Semua ini gara-gara suku Indian !”
“Kalau saja mereka tidak memperkenalkan rokok pada peradaban manusia, tentu aku tidak akan mengalami semua penderitaan ini,” keluh Didin dalam hati.
Dibukanya jendela kaca angkot yang sedang ditumpanginya itu. Sial ! Jendela kaca itu macet tidak bisa dibuka ! Hilang sudah harapannya untuk bisa menghirup udara segar yang bertiup dari luar kendaraan angkot yang sedang melaju kencang itu. Di kanan kiri jalan, tampak comberan dan air berwarna hitam yang menggenang di sana-sini. Para pedagang kaki lima memadati kanan kiri jalan. Sampah-sampah tampak berserakan di mana-mana. Hampir tiada lagi kesan negeri indah mutiara khatulistiwa. Yang ada sekarang hanyalah negeri jorok sampah di mana-mana.
Kendaraan angkot yang ditumpangi Didin tidak lagi bisa berlari kencang. Kendaraan macet di mana-mana ! Antrean kendaraan yang berjalan lambat berpuluh meter terjadi sudah ! Semua ini gara-gara para pedagang kaki lima yang memadati tepian jalan. Di luar, tampak asap berwarna abu-abu keputihan mengepul memenuhi sepanjang jalan. Kendaraan-kendaraan yang macet itu terus saja mengepulkan asap polusi. Para perokok di dalam angkot itu tak kunjung berhenti mengepulkan asap rokoknya. Didin semakin kesal ! Kalau saja ia bertubuh tinggi kekar, akan digamparnya mereka satu per satu biar mereka sadar bahwa perbuatan mereka itu sungguh merugikan banyak orang. Menjadi perokok pasif sungguh lebih berbahaya daripada sekedar menjadi seorang perokok. Tidakkah mereka mengerti hal itu ? Atau mungkin mereka memang bebal dan tidak pernah mau tahu apa akibat dari tindakan mereka ! Para manusia perokok tak ubahnya bagaikan para pembunuh berdarah dingin. Para pembunuh yang membunuh manusia di sekitar mereka perlahan-lahan, namun pasti.
Lama juga deretan kemacetan itu terjadi. Kendaraan angkot yang ditumpangi Didin tak juga melaju. Kalau pun bergerak, paling hanya sejauh satu meter saja. Semuanya itu berlangsung setengah jam lamanya. Didin semakin gelisah. Rasa marah, kesal, benci, dan muak memenuhi dadanya. Sampai kapan manusia-manusia negeri ini sadar akan kepentingan umum, sadar akan kebersihan dan ketertiban, kapan mereka akan sadar akan semua itu ? Didin memimpikan kebersihan negeri-negeri Eropa, negeri di mana semua orang sadar akan kedudukan, hak dan tanggung jawabnya sebagai warga masyarakat. Negeri dimana jalan-jalan begitu bersih dari sampah, bebas dari asap rokok, bebas dari orang meludah, dan bebas dari orang-orang yang mau menangnya sendiri. Bukannya ia benci kepada negeri sendiri, tapi ia sudah sangat muak dengan kondisi negeri ini yang bukannya tambah baik dari tahun ke tahun namun justru kondisinya semakin parah dan memprihatinkan. Orang-orang semakin sulit memperoleh pekerjaan, orang-orang semakin miskin dan kelaparan, orang-orang semakin tidak disiplin dan budaya jorok mewabah di mana-mana. Sepertinya sangat mustahil bagi negeri ini untuk berubah menjadi negeri-negeri indah dan bersih seperti di Eropa sana. Didin tidak pernah pergi ke Eropa. Ia hanya melihat keindahan negeri-negeri itu dari layar televisi dan halaman-halaman majalah asing di perpustakaan kota. Keindahan gambar-gambar negeri asing itu membuat dirinya begitu iri akan keberuntungan para warga negara negeri-negeri maju tersebut.
Mungkin sebaiknya negeri ini tidak perlu lagi menerapkan paham demokrasi. Percuma saja ! Begitu banyak manusia negeri ini yang selalu salah menafsirkan arti demokrasi. Demokrasi berarti bisa berbuat seenak udelnya, seenaknya sendiri. Demokrasi berarti bisa berbuat menang sendiri tanpa peduli akan nasib orang lain. Mungkin bila negeri ini menerapkan prinsip totaliter atau diktatorisme, akan lebih baik, karena begitu banyak manusia bermental budak di negeri ini. Para manusia yang hanya takut pada hukuman, tanpa pernah memiliki kesadaran dari dalam lubuk hati dan nurani bahwa mereka seharusnya peduli pada lingkungan sekitar. Kalau saja ia menjadi seorang pemimpin diktator negeri ini, ingin rasanya menerapkan hukuman tembak mati di tempat bagi para penjahat, koruptor, pencipta polusi, para manusia perokok yang merokok seenaknya tanpa peduli tempat dan waktu, dan para manusia jorok yang suka membuang sampah sembarangan. Hampir dapat dipastikan, pasti negeri ini akan segera berubah menjadi surga yang indah permai, negeri indah mutiara khatulistiwa, bila diterapkan aturan kejam seperti itu. Tapi sayang beribu sayang, Didin hanyalah seorang pria pengangguran yang sakit-sakitan. Ia bukanlah pemimpin negeri ini. Ia juga bukan seorang diktator. Semua impian kosong ini tidak akan pernah mengubah kondisi negeri ini.
Negeri ini sudah sangat rusak parah. Pencemaran dan polusi di mana-mana. Penebangan hutan secara liar terjadi di mana-mana. Akibatnya banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Sama seperti alam negeri ini yang sudah sangat rusak parah, demikian juga dengan para manusianya. Manusia-manusia negeri ini sudah kehilangan nuraninya. Hidup tanpa jiwa. Hidup tanpa akal sehat dan empati. Korupsi terjadi di mana-mana. Rakyat miskin menderita. Penggusuran rumah dan kebakaran terjadi di mana-mana, lalu di atas lahan yang terbakar itu dibangunlah pusat-pusat perbelanjaan. Ladang dan sawah berubah menjadi lahan parkir dan perkantoran. Rakyat tergusur tinggal di bawah jembatan. Sampah menumpuk di mana-mana. Sampah masyarakat juga menumpuk di mana-mana. Kesal rasanya menjadi saksi hidup semua kebobrokan yang terjadi di negeri ini. Rasa muak sudah memenuhi dada dan kepala Didin.
Kendaraan angkot yang ditumpangi Didin masih saja terseok-seok menambah terus jumlah penumpangnya walau banyak di antara penumpang yang telah duduk tergencet di sana-sini. Didin pun pingsan karena semua pikiran kesal yang memenuhi kepalanya dan juga akibat begitu banyak asap rokok yang telah dihirupnya. Para manusia perokok itu terus saja asyik menghirup asap jahanam dan menghembuskannya. Mereka tidak pernah peduli pada nasib Didin yang pingsan karena kumat penyakit asmanya. Inilah keajaiban hidup di negeri indah mutiara khatulistiwa. Mutiaranya telah habis dibeli oleh para cukong negeri-negeri tetangga. Yang tersisa hanyalah sampah dan mayat hidup. Manusia penduduk negeri ini hidup dalam penderitaan, bergelimang sampah dan dosa. Mereka bagaikan mayat hidup yang hidup tanpa jiwa dan nurani. Sungguh suatu keajaiban yang hanya bisa ditemui di negeri indah mutiara khatulistiwa !

Kejahatan Kerah Putih

Toni duduk termenung dalam ruang berdinding kaca di tempat kerjanya. Di depannya terpampang jelas sederet angka-angka di layar monitor komputer. Ia harus mengubah seluruh angka itu demi memperoleh keringanan pembayaran pajak. Bos tempat ia bekerja telah memerintahkan untuk membuat pembukuan ganda demi menghindari pembayaran pajak. Ia juga harus memalsukan data yang tercantum dalam dokumen ekspor setiap pengiriman peti kemas yang dikirim ke luar negeri oleh perusahaan tempatnya bekerja. Itulah pekerjaan sehari-harinya. Sebagai seorang staf keuangan yang sekaligus mengurusi kelengkapan dokumen ekspor di perusahaan manufaktur tempat ia bekerja, ia harus dapat menekan pengeluaran seminimal mungkin demi memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Ia bahkan telah mendapat perintah resmi dari bos pemilik perusahaan tempat ia bekerja, untuk menghapus seluruh tunjangan kesejahteraan karyawan. Tidak ada lagi uang lembur, tidak ada lagi uang makan, tidak ada lagi tunjangan transport bagi karyawan, tidak ada lagi tunjangan kesehatan ataupun asuransi perlindungan kecelakaan kerja bagi karyawan, dan yang terpenting tidak akan ada pesangon bagi karyawan yang terkena PHK. Total pengeluaran uang untuk penggajian karyawan dan buruh pabrik tidak boleh lebih dari 9% dari total omzet perusahaan yang dihitung dalam rupiah. Semua itu dilakukan demi sehatnya rasio perputaran modal perusahaan. Perusahaan ini membutuhkan banyak uang untuk mengembangkan dan memperluas investasi. Walaupun nilai ekspornya demikian besar, karena produk yang dihasilkan bakal diekspor ke seluruh Eropa, Amerika, Afrika dan Australia, namun si bos masih belum juga merasa puas. Ekspansi perusahaan harus selalu dilakukan, karena pesaing yang semakin bertambah memperebutkan segmen pasar yang sudah ada, sementara angka pertumbuhan konsumen tidak banyak mengalami perubahan.
Lama juga ia berpikir. Akhirnya ia pun mengutak atik nilai jual per item jenis barang yang akan dituliskan dalam dokumen ekspor, juga kuantitas barang per satuan peti kemas. Kalau seharusnya setiap peti kemas yang berukuran 40 feet, idealnya bisa mengangkut 400 buah barang dengan jenis item yang sama, kini ia harus mencantumkan nilai fiktif yang akan tertera di dokumen ekspor. Jumlah yang ditulisnya tidak tanggung-tanggung, hanya 150 buah barang. Jadi bisa dibayangkan berapa nilai selisih keuntungan dari penggelapan pajak yang akan didapat. Sungguh jumlah fantastis yang tidak sedikit. Belum lagi nilai nominal jual per item yang selalu dipalsukannya. Kalau harga per item barang di pasaran ekspor dunia bisa mencapai US $ 150, nilai nominal yang dituliskan dalam dokumen ekspor cukup hanya US $ 25 untuk menghindari beban pembayaran pajak. Si bos bahkan kabarnya begitu lihai dalam menangani dokumen letter of credit fiktif dan bill of lading yang asli tapi palsu. Tak heran si bos bisa membeli sebuah mobil mercedes benz warna hitam, sementara para karyawan dan buruh yang bekerja di perusahaan itu kebanyakan bertubuh kurus kering, bermata cekung dan sering sakit-sakitan. Bagaimanapun, buruh hanyalah sebagai alat produksi, target keuntungan jauh lebih penting daripada kesejahteraan para buruh, demikianlah kebijaksanaan yang berlaku di perusahaan itu selama bertahun-tahun lamanya. Kalau pun ada inspeksi pajak, semua itu selalu bisa diakali, cukup dengan berkolusi dengan petugas audit maka semua urusan akan beres.
Semua staf karyawan tidak perlu tahu bagaimana sebenarnya kondisi keuangan perusahaan. Walaupun untung besar, namun karyawan hanya perlu tahu bahwa perusahaan sedang dalam kesulitan ekonomi karena nilai penjualan tidak sebagus yang diperkirakan. Semua drama dan sandiwara itu begitu cemerlang dimainkan sehingga hampir seluruh karyawan dan buruh percaya saja akan kondisi keuangan perusahaan yang tidak begitu bagus. Seluruh pembayaran dan transaksi ekspor yang menyangkut sejumlah uang langsung ditangani oleh si bos. Walau pun sebagai staf keuangan dan pengurusan dokumen ekspor, Toni tidak pernah tahu berapa sebenarnya nilai nominal transaksi yang sebenarnya. Ia hanya dapat membayangkan jumlah nominal yang sangat besar. Demikian banyak jumlah angka nol yang menghiasi digit nilai nominal keuntungan keuangan perusahaan. Keuntungan yang diperoleh dari memeras keringat dan darah orang lain, keringat dan darah para pekerja buruh yang bekerja di perusahaan itu.
Konon kabarnya si bos mempunyai begitu banyak rekening di luar negeri. Mulai dari rekening rahasia di sebuah bank di kepulauan Cayman, hingga rekening rahasia di sebuah bank di Swiss dan Monaco, surganya para jutawan yang ingin menghindar dari kewajiban membayar pajak. Bahkan si bos rela menjadi warga negara negeri ini demi mendapatkan kemudahan bisnis dan kemudahan penggelapan pajak yang sudah bukan rahasia lagi terjadi di negeri ini.
“Persetan ! Peduli amat aku dengan status kewarganegaraan si bos !”
“Yang penting aku bisa bertahan dengan posisiku sebagai staf keuangan di perusahaan ini,” demikian gerutu Toni kepada dirinya sendiri.
Percuma saja aku membongkar seluruh konspirasi busuk ini ! Toh, si bos mempunyai begitu banyak koneksi dan perlindungan dari banyak pihak. Konon bahkan si bos mempunyai banyak relasi staf kedutaan besar negeri ini di luar negeri. Ia demikian mudah memperoleh ijin dan kemudahan melakukan pameran produk di luar negeri. Bahkan beberapa oknum staf kedutaan negeri ini mati-matian berusaha mendapatkan kesempatan untuk mempromosikan produk perusahaan ini melalui beberapa pameran di luar negeri atas nama kantor kedutaan, tentunya demi mendapatkan sejumlah komisi dari si bos yang terkenal royal kepada para kolega dan rekan bisnis, namun sangat pelit dan cenderung berlaku kejam terhadap staf dan karyawan yang telah lama mengabdi di perusahaan ini sejak bertahun-tahun yang lalu.
Masih kurang beberapa lembar arsip dan dokumen serta laporan keuangan yang harus dipalsukannya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan ia masih harus mengawasi pemuatan barang ke dalam kontainer peti kemas sebelum diberangkatkan malam ini.
“Aku harus cepat-cepat, bisa-bisa aku menginap semalaman di kantor seperti yang sudah-sudah,” gerutu Toni dalam hati.
Akhirnya semua pekerjaan terkutuk itu selesai juga dikerjakan. Toni pun pulang dalam keadaan capek dan tampang kuyu seperti biasanya. Matanya semakin cekung karena terlalu banyak berpikir mengutak-atik angka-angka dan memikirkan alibi yang masuk akal.
“Sudah bertahun-tahun ini segala konspirasi busuk ini berjalan mulus tanpa seorang pun berusaha membongkarnya. Jadi paling tidak aku aman-aman saja,“ demikian pikir Toni dalam hati. Ia bergegas menuju pelataran parkir menghampiri mobil sedan warna putih yang diperolehnya sebagai hadiah dari bos atas segala jasanya membungkus rapi segala rahasia terkelam perusahaan berskala internasional ini.
Toni begitu lelah hari ini. Begitu banyak kegiatan yang harus dilakukannya seharian ini, mulai dari menghubungi pihak jasa ekspedisi, perusahaan peti kemas, importir di luar negeri hingga begitu banyak kongsi leveransir yang bekerja sama dengan perusahaan ini. Sungguh sebuah kebusukan yang terbungkus secara rapi dan profesional. Semuanya berbalut profil perusahaan yang menyandang nama bonafid seakan tanpa cacat. Setiap orang yang berada dekat dengan si bos selalu bersumpah setia untuk membungkus dan menutup setiap celah rahasia perusahaan rapat-rapat. Tentunya dengan imbalan sumpalan uang bergebok-gebok ke mulut setiap orang yang terlibat.

Keesokan paginya begitu banyak polisi datang ke lokasi kantor dan pabrik di perusahaan tempat Toni bekerja. Saat ia baru saja turun dari mobil, dua orang polisi langsung menghampirinya dan membacakan surat penahanan atas dirinya. Di kejauhan tampak beberapa polisi lain sedang memborgol rekan-rekan kerjanya. Mereka semua didakwa terlibat atas kejahatan persekongkolan penggelapan pajak yang telah merugikan negara, pembalakan liar, dan penyelundupan furnitur ke luar negeri. Namun dari sekian banyak orang yang terlibat dan ditangkap, tidak satu pun yang melihat keberadaan si bos yang mendalangi semua ini. Mungkin pria bermata sipit itu sudah lari ke luar negeri. Bukankah orang seperti dia selalu saja mempunyai begitu banyak mata dan telinga serta begitu banyak pihak yang akan dengan setia melindungi dan menyembunyikan keberadaannya demi segepok uang rupiah ? Memang hanya orang-orang pribumi bodoh seperti Toni yang selalu dikorbankan menjadi kambing hitam sebagai tumpuan atas semua tuduhan dan kesalahan. Orang-orang ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak orang yang berada di bagian terluar cincin konspirasi yang sesungguhnya. Tak ada seorang pun yang bisa menyentuh cincin terdalam dan otak dari konspirasi, karena sesungguhnya mereka-mereka itu seakan tidak akan pernah tersentuh oleh jerat hukum di negara mana pun. Itulah kekuatan uang, bisa membungkus rahasia yang paling busuk sekalipun !

Romansa Cinta di Kota Malang

Tak terasa sudah dua bulan sejak terakhir aku bertemu dengan Grietje Van Daan, seorang mahasiswi yang selama beberapa waktu yang lalu sempat berlibur ke kota kecil tempat aku tinggal, yaitu kota Malang. Sudah sejak lama kota Malang menjadi tujuan wisatawan asal negeri Belanda yang ingin sekedar bernostalgia mengingat masa lalu saat Oma dan Opa mereka dulu pernah tinggal di kota ini puluhan tahun yang lalu. Kota Malang konon jaman dulu memang sengaja dirancang oleh para arsitek planologi asal Belanda untuk maksud sebagai kota peristirahatan dan tempat tinggal bagi para pegawai pemerintah Hindia Belanda saat masa kolonial dulu.
Saat pertama aku berkenalan dengan Grietje, aku sungguh terpesona oleh keindahan bola matanya yang berwarna hijau yang indah bagaikan emerald yang bersinar-sinar. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai dan diterpa oleh angin sehingga selalu menimbulkan sensasi yang indah saat memandangnya. Senyumnya yang lembut dan bersahabat dari bibirnya yang merah membuat dadaku terasa sesak dan berdebar-debar. Perutku serasa digelitik oleh ribuan kupu-kupu yang beterbangan, saat aku memandang wajahnya yang cantik. Sungguh suatu sensasi yang aneh bila aku berdekatan dengan dirinya. Harum tubuhnya yang wangi membuatku merasa nyaman berdekatan dengannya. Grietje sungguh adalah seorang gadis sederhana yang benar-benar mempesona. Kesederhanaannya adalah sesuatu yang unik dan berbeda dengan gadis-gadis jaman sekarang yang cenderung gemar memakai make-up dan tatarias tebal seperti tokoh drama kabuki dari Jepang. Wajah cantik Grietje yang hampir tidak memakai make-up merupakan suatu kecantikan alami yang tidak dibuat-buat. Satu-satunya make-up yang ia pakai sepertinya hanyalah lip gloss yang dipoles tipis-tipis.
Waktu itu aku tidak sengaja berkenalan dengan Grietje. Saat itu aku baru pulang dari membeli buku di Toko Buku Gramedia di Jalan Basuki Rachmad di pusat kota Malang. Siang itu cuaca sangat panas, maka aku membelokkan langkahku ke arah “restoran Oen” yang kebetulan ada di sebelah Toko Buku Gramedia. Aku berniat membeli es krim dan sedikit kue-kue untuk dimakan sambil membaca buku yang baru saja aku beli. Saat itulah aku melihat sesosok gadis bule yang sangat cantik yang sedang duduk sendirian di salah satu meja yang ada di restoran itu. Gadis itu sedang asyik makan es krim. Dia tidak tahu kalau aku sedang memperhatikannya. Wajahnya benar-benar cantik, dan sangat berbeda dengan gadis-gadis yang pernah aku kenal.
Setelah aku memesan sepiring kue kering dan dua potong taart black forrest, aku tak sadar melangkah menghampiri meja gadis itu. “Hai,” kataku menyapanya. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum,”Hai, Apa kabar ?” sapanya dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah. Aku pun menyapanya dalam bahasa Inggris dan mengajaknya berkenalan. Aku tahu bahwa gadis itu hanya bermaksud sopan dengan menyapaku dalam bahasa Indonesia walaupun sebenarnya ia tidak bisa berbahasa Indonesia. Tak kusangka ternyata gadis itu sangat ramah dan sama sekali tidak sombong. Ternyata namanya Grietje. Grietje Van Daan. Ternyata dia tiba di kota ini kemarin dan sedang menginap di penginapan “Splendid Inn”. Untuk gadis secantik dia, dia sangat pemberani karena bepergian seorang diri ke negeri asing dengan budaya yang jauh berbeda dengan negeri asalnya, negeri Belanda. Ternyata Grietje ingin tahu lebih banyak tentang kota kelahiran Omanya yang kebetulan adalah orang pribumi yang lahir di Malang. Omanya selalu berkata dan menasehati Grietje agar suatu saat nanti menyempatkan waktu untuk datang dan menelusuri kota Malang, kota kelahiran Omanya puluhan tahun yang lalu. Indonesia adalah negeri yang indah dan hangat, matahari selalu bersinar cerah, dan kota Malang yang indah memiliki banyak obyek wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi. Salah satu obyek wisata terkenal yang sudah ada di kota Malang sejak jaman kolonial Belanda adalah pemandian Selecta.
Untuk gadis selangsing Grietje, ternyata selera makannya banyak juga. Kegemarannya makan kue dan es krim ternyata sama denganku. Saat aku tawari sepiring kue yang berisi aneka kue kering seperti katetong, spekulaas, dan aneka biskuit buatan restoran ini, dengan lahap ia memakannya sambil asyik mengobrol denganku. Aku pun menawarinya sepotong taart black forrest, karena kebetulan aku memesan dua buah. Satu untuknya dan satu untukku. Aku kemudian memesan es krim dan saat menawari Grietje dengan es krim favoritku, ternyata dia mau. Padahal sebelumnya ia sudah menghabiskan semangkuk es krim banana split. “Aku lapar”, katanya sambil tertawa. “Aku kelihatan rakus ya ? Maaf, tidak biasanya aku selapar ini. Sebenarnya aku hanya berniat membeli es krim saja, karena aku sebenarnya sedang diet, tapi saat kamu menawari aku kue-kue itu aku tidak kuat menahan godaan untuk mencicipinya,” katanya lagi sambil tertawa geli. Wajahnya memerah mungkin karena merasa malu. Gadis itu menutupi rasa malunya sambil terus tertawa. Wow, ternyata dia juga jago makan seperti aku. Grietje merasa sangat lapar karena setelah seharian berjalan-jalan menelusuri kota ini dengan berjalan kaki di bawah sinar matahari yang cukup terik, tak terasa perutnya meronta minta diisi. Memang suasana di negeri Belanda jauh berbeda dengan di Indonesia. Walaupun untuk ukuran orang Indonesia, kota Malang tergolong cukup sejuk dibanding kota-kota lainnya di Indonesia, namun bagi gadis Belanda seperti Grietje yang terbiasa dengan iklim dingin, sinar matahari Indonesia tak hanya hangat tapi juga terasa menyengat. Untunglah dia memakai sun block cream untuk melindungi kulitnya yang hanya memiliki sedikit pigmen itu. Tampaknya Grietje senang sekali bisa mengenal diriku, karena di kota yang sebagian besar penduduknya biasa berbahasa Indonesia ini, sangat sulit menjumpai orang yang bisa berkomunikasi dengannya dalam bahasa Inggris seperti aku. Tidak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk menjadi akrab. Bahkan sudah seperti teman lama. Setelah selesai makan kue dan es krim, kami pun membeli beberapa kue untuk dibawa pulang. Kami membeli beberapa kue tradisional Jawa yang juga dijual di restoran “Oen”, seperti kue “semar mendem”, “onde-onde” dan juga kue “wajik”.
Aku dan Grietje pun saling bertukar alamat dan nomor telepon, sebelum aku dan dia berpisah pulang ke tempat tinggal masing-masing karena tak terasa hari sudah sore. Keesokan paginya Grietje menelponku dan menanyakan apakah aku ada kesibukan hari itu, karena ia ingin ditemani lagi berjalan-jalan menyusuri obyek wisata kota Malang. Akupun menyanggupinya. Kali ini tidak sambil berjalan kaki, karena aku cukup malas untuk selalu berjalan kaki di bawah terik matahari bulan Juni yang cukup menyengat. Aku pun mengajaknya naik mikrolet, kendaraan umum yang murah meriah. Semua tujuan mulai dari kota hingga pelosok desa di Malang dilewati oleh jalur kendaraan umum yang disebut mikrolet ini. Dengan biaya yang murah kita sudah bisa sampai ke mana-mana dalam waktu yang singkat. Aku pun mengajaknya naik mikrolet dengan tujuan Jalan Besar Ijen. Orang-orang Belanda jaman kolonial dulu menyebut jalan itu dengan Ijen Boulevard. Namun karena aku orang Indonesia, aku lebih senang menyebutnya dengan Jalan Besar Ijen. Dahulu saat jaman kolonial Belanda, Jalan Besar Ijen adalah kawasan perumahan bagi para pegawai tinggi Belanda. Bahkan sampai sekarang beberapa gaya arsitektur Belanda masih bisa dijumpai di rumah-rumah yang ada di kawasan itu. Di Jalan Besar Ijen juga ada bekas peninggalan Belanda yaitu Gereja Kathedral Ijen. Walaupun aku beragama Islam, aku mengantarkan Grietje untuk melihat dari dekat Gereja Kathedral itu, dan menceritakan pada Grietje bahwa Gereja itu sudah ada sejak jaman Belanda dan sudah berkali-kali direnovasi.
Rencana Grietje yang semula hanya ingin tinggal di kota Malang selama seminggu, akhirnya berubah. Grietje yang banyak mendapat cerita mengenai keunikan dan berbagai tempat menarik di kota ini akhirnya memutuskan untuk tinggal lebih lama. Akhirnya aku mengusulkan padanya agar menyewa kamar kos untuk ditinggali daripada tinggal di penginapan, karena harga sewa kamar kos selama sebulan di kota ini sama dengan harga dua hari sewa kamar di penginapan. Jadi kalau menyewa kamar kos tentu saja jauh lebih hemat daripada tinggal di penginapan atau motel termurah sekalipun. Kebetulan di kota Malang ada kos-kosan khusus yang menyewakan kamar kos untuk mahasiswa-mahasiswa ekspatriat (mahasiswa asing yang kebetulan sedang kuliah di universitas di Indonesia). Grietje akhirnya setuju dan tampak sangat gembira karena dia bisa menemukan alternatif murah untuk tinggal lebih lama di Malang dan menjelajahi pelosok kota ini lebih dalam. Grietje terheran-heran akan betapa murahnya sewa kamar kos dibanding dengan sewa kamar penginapan. Apalagi saat ia membandingkannya dengan nilai kurs mata uang euro.
Waktu demi waktu banyak kami habiskan bersama menelusuri berbagai obyek wisata di kota Malang ini. Grietje tampak sangat senang dan bahagia saat aku ajak mengunjungi desa-desa di Tumpang. Tumpang merupakan salah satu kecamatan yang ada di wilayah kabupaten Malang. Kecamatan Tumpang terdiri dari beberapa desa yang cukup unik. Bahkan ada desa di kecamatan Tumpang yang terkenal dengan kerajinan topeng kayu khas kota Malang. Juga bisa ditemui pula paguyuban atau perkumpulan seni tari topeng Jawa di desa tersebut. Grietje juga tampak sangat bahagia saat aku ajak mengunjungi salah sebuah desa di Tumpang, di mana di desa itu tinggal pasangan suami istri seniman. Si suami adalah seorang dalang wayang kulit Jawa (Javanese Puppet Master) yang memang asli kelahiran Tumpang, sedang istrinya adalah seorang wanita Amerika yang sudah berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Indonesia. Wanita Amerika itu cukup fasih berbicara bahasa Jawa halus (krama inggil) dan cukup pandai pula menyanyikan tembang-tembang dalam bahasa Jawa kuno dan juga memiliki paguyuban seni tari tradisional Jawa dan karawitan gamelan Jawa. Wanita Amerika itu ternyata lebih banyak memahami budaya Jawa daripada aku yang asli pribumi kelahiran Jawa. Grietje dan wanita Amerika itu tampak asyik mengobrol banyak hal mengenai berbagai aspek kebudayaan Jawa, mulai dari pakaian tradisional, seni tari, seni musik gamelan Jawa, kain batik, makanan dan kue tradisional dan banyak hal lainnya. Wanita Amerika itu juga tak kalah ramah dan tidak berkeberatan menerangkan banyak hal dalam bahasa Inggris kepada Grietje yang tampak bersemangat mempelajari banyak hal. Bahkan wanita itu juga mengajarkan beberapa gerakan tari tradisional Jawa yang mudah untuk diingat. Selama beberapa hari kami terpaksa harus bolak-balik melakukan perjalanan dari Malang ke Tumpang pulang pergi untuk mengunjungi berbagai tempat wisata di Tumpang. Bahkan kami sempat mengunjungi sebuah candi Jawa kuno peninggalan purba di salah satu desa di Tumpang. Kami juga menyempatkan diri mengunjungi situs candi kuno di salah satu desa di Singosari pada hari yang lain. Dalam setiap kesempatan aku selalu mengajak Grietje untuk mencicipi berbagai makanan dan kue-kue tradisional Jawa. Aku mengajaknya makan nasi pecel di Jalan Kawi, mencicipi gado-gado di Plaza Mitra, jajanan pasar di Pasar Klojen dan Pasar Tawang Mangu, makan sate ayam di Pasar Bunul (Pasar Boenoel), mencicipi masakan cina di Oro-Oro Dowo, mencoba bakso sapi di warung bakso di Stasiun Kereta Api Malang Kota Baru, serta membeli kripik tempe di pusat industri kripik di daerah Sanan. Kami juga menyempatkan diri membeli berbagai kue khas Jawa lainnya di Pasar Besar Malang. Begitu banyak waktu dihabiskan bersama-sama dalam berbagai perjalanan kami menelusuri pelosok kota Malang dari kota hingga ke desa-desa terpencil. Dari berbelanja bunga dan aneka buah segar, sampai minum susu sapi segar di desa-desa di daerah Batu.
Tak sadar kami pun ternyata saling cocok dan menyukai satu sama lain. Kami menikmati kebersamaan, persahabatan, dan kasih sayang yang kami jalin. Walaupun awalnya aku menyukai Grietje secara fisik karena kemolekan, dan kecantikannya, namun akhirnya aku lebih mencintai pribadinya yang lembut dan penuh kasih. Kata-katanya yang halus dan sopan, tingkah lakunya yang tulus dan tidak dibuat-buat serta kebaikan hatinya adalah sebuah kecantikan abadi tiada tara yang jauh lebih tinggi nilainya daripada sekedar kecantikan fisik yang bisa lapuk oleh berjalannya waktu. Bila kita mencintai seseorang, kita akan lebih bisa melihat isi jiwanya, mencintai jiwanya, kepribadiannya daripada sekedar ketertarikan fisik yang sifatnya sementara saja. Aku yakin benar-benar bahwa aku memang mencintai Grietje, walaupun suatu saat ia tidak secantik sekarang, saat ia sudah tua dan keriput kelak, aku yakin aku akan masih mencintainya, karena aku mencintai jiwanya dan bukan hanya fisiknya. Mungkin aku kelihatan sangat bodoh karena mencintai seseorang sedemikian rupa, karena jaman sekarang hampir sudah tidak ada lagi cinta yang semacam itu, tapi entah mengapa aku yakin bahwa aku benar-benar mencintainya sedalam laut di tujuh samudera. Aku tidak tahu apakah Grietje berpikiran yang sama denganku, apakah ia mencintaiku sebanyak aku mencintainya, tapi yang jelas aku melihat cinta di setiap sorot matanya yang lembut.
“Aku menyukaimu,” kataku pada suatu pagi sambil meremas jari tangannya yang lentik dan menatap matanya. Saat itu aku dan Grietje sedang duduk berpiknik di bawah pohon rindang di Taman Rekreasi Selecta. Grietje menanggapinya sambil tertawa, ”Kamu pasti bercanda, kamu tidak serius kan ?” katanya sambil tertawa geli. Aku menatap terus matanya dengan pandangan bersungguh-sungguh. “Apakah aku kelihatan sedang bermain-main ?” kataku tetap dengan nada serius. Kemudian aku mencium tangannya dengan lembut dan kembali menatap wajahnya yang cantik. Grietje kelihatan tersipu malu dan seketika berhenti tertawa. “Apa kamu sungguh-sungguh mengatakannya dari dalam hatimu ?” katanya ragu-ragu. “Apakah kamu benar-benar serius ?” ulangnya lagi. Aku terus menatap matanya sambil kembali mencium tangannya, “Belum pernah aku demikian mencintai seseorang dan tertarik sejak pandangan pertama seperti saat pertama aku melihatmu,” kataku dengan lembut. “Aku mencintaimu karena kamu wanita sederhana yang apa adanya, dan kamu juga selalu menghargaiku sebagai manusia apa adanya.” Dia terdiam beberapa saat. Aku merasa tak enak. Apakah mungkin aku saja yang salah mengerti akan maksud persahabatannya. Mungkin Grietje hanya menganggapku sebagai sahabat saja dan bukan sebagai kekasih. Kalau begitu kenyataannya, betapa bodohnya aku karena mengira ia juga tertarik padaku. Setelah beberapa lama terdiam, akhirnya Grietje mulai berkata atau hampir tepatnya setengah berbisik, “Sebenarnya aku juga menyukaimu karena kamu lucu dan ramah. Aku menyukaimu sejak pertama kamu mengajakku berkenalan dan mengajakku berkeliling kota Malang”, katanya malu-malu. Aku menghela napas dengan lega, “Oh Tuhan, terima kasih telah mempertemukan aku dengan wanita impianku, wanita yang cantik parasnya dan cantik kepribadian serta budi pekertinya,” kataku dalam hati. Sejak saat itu kami pun semakin akrab. Sering aku mengundang Grietje untuk makan siang di rumahku dan bertemu dengan ayah dan ibuku. Grietje mudah sekali menyesuaikan diri dengan keluargaku yang sederhana dan sama sekali tidak pernah menunjukkan sikap sombong.
Kami semakin sering menghabiskan waktu bersama-sama dengan berpiknik dan mengunjungi daerah-daerah wisata di Malang. Grietje bahkan rela mengeluarkan sejumlah uang untuk menyewa kendaraan lengkap dengan sopirnya untuk mengantarkan kami menuju tempat-tempat wisata yang ada di Malang, walaupun harga sewa kendaraan atau mobil cukup mahal menurut ukuranku. Suatu hari kami berangkat ke Pantai Sendang Biru pagi-pagi sekali dengan diantar oleh kendaraan sewaan yang sudah menjemput kami pagi-pagi sekali. Akhirnya kami tiba di Pantai Sendang Biru sekitar pukul setengah sembilan pagi. Pantai Sendang Biru pagi itu tampak sangat tenang. Pantai Sendang biru lebih mirip sebuah laguna yang tenang dengan dasar laut yang jernih dan indah. Langit biru cerah menghiasi indahnya suasana pagi itu. Sesekali tampak awan berarak perlahan ditiup angin. Matahari bersinar cerah menebarkan sinarnya yang hangat ke permukaan bumi. Birunya air laut yang jernih tampak sangat indah. Grietje sangat senang berbaring di pasir yang serba berwarna putih sambil menikmati hangatnya sinar matahari. Rupanya ia sudah capek setelah beberapa waktu berenang di laut yang biru dan jernih itu. Aku sendiri hanya berani bermain air di tepi pantai karena aku tidak bisa berenang. Di sana-sini tampak berbagai burung laut yang beterbangan mencari ikan. Terdengar pula suara-suara burung tersebut yang ramai berebut ikan disertai kerasnya suara deburan ombak yang menerpa pantai. Tampak beberapa perahu wisata hilir mudik mengangkut para wisatawan atau turis yang ingin melihat keindahan batu koral dan karang serta aneka ikan hias warna-warni yang banyak dijumpai di dasar laut perairan ini. Perahu-perahu wisata biasanya dilengkapi pula dengan kaca pembesar khusus untuk melihat pemandangan bawah air, batu-batu koral, anemon laut dan aneka ikan warna-warni yang berenang di dasar laut. Tak jauh dari tempat kami berpiknik dan berjemur di hangatnya sinar matahari, tampak di kejauhan dermaga pelelangan ikan hasil tangkapan para nelayan. Begitu banyak orang yang melakukan jual beli lelang ikan, mulai dari ikan hiu, ikan tongkol, cumi-cumi, ikan pari, sampai aneka ikan lainnya yang bisa dimakan. Ada pula yang menjual aneka ikan bakar. Kami pun tidak melewatkan kesempatan untuk melihat bagaimana pelelangan ikan itu dilakukan. Meskipun acara lelang ikan sangat sederhana namun ternyata banyak menyita perhatian kami. Grietje tampak sangat antusias dan tertarik. Saat hari sudah senja dan matahari benar-benar sudah tenggelam di horison, barulah kami beranjak pulang ke pusat kota Malang dengan kendaraan sewaan kami.
Beberapa hari kemudian kami mengunjungi pula pantai Balekambang, salah satu pantai yang ada di Malang bagian selatan, untuk melihat upacara tradisional agama Hindu di pura yang ada di atas pulau karang di pantai Balekambang. Obyek wisata pantai Balekambang sangat mirip dengan pantai Tanah Lot yang ada di Bali. Keduanya sama-sama memiliki pura peribadatan Hindu yang dibangun di atas pulau karang kecil dekat pantai. Keduanya sama-sama indah, apalagi saat matahari terbenam, sangatlah asyik untuk menghabiskan waktu berdua di pantai eksotik yang mempesona itu. Begitu matahari sudah tenggelam, kami segera pulang kembali ke pusat kota Malang dengan diantar oleh kendaraan sewaan yang memang telah kami sewa sejak berangkat dari kota Malang.
Tiap akhir pekan biasanya kami pergi main game di Time Zone atau menonton film di bioskop yang ada di Plaza Sarinah yang berlokasi di pusat kota Malang. Plaza Sarinah merupakan sebuah department store dan pusat hiburan yang letaknya berseberangan dengan Toko “Oen”. Plaza Sarinah ini dahulu pada masa kolonial adalah sebuah gedung souciteit yang bernama “Concordia”. Setelah Indonesia merdeka, gedung tersebut dirobohkan dan dibangun sebuah pusat perbelanjaan bernama “Plaza Sarinah”. Namun terkadang bila film yang sedang diputar di bioskop Plaza Sarinah temanya kurang bagus, kami lebih memilih menonton film di bioskop “Dieng Cineplex” yang ada di “Plaza Dieng” atau menonton film di bioskop-bioskop yang ada di “Malang Town Square”. Grietje juga pernah menanyakan apa sebenarnya pekerjaanku selama ini. Aku menceritakan padanya tentang pekerjaanku sebagai seorang penulis. Ya, aku adalah seorang penulis. Bukan penulis profesional, namun aku memang sedang berusaha untuk menjadi seorang penulis profesional. Aku sering mengirimkan tulisan-tulisanku ke berbagai media, mulai dari majalah, koran, sampai penerbit buku. Walaupun tak jarang tulisanku ditolak oleh beberapa majalah, namun aku tidak pernah putus asa dan terus mengirimkan karya-karyaku.
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat dan tidak terasa Grietje sudah cukup lama tinggal di kota Malang. Sudah satu bulan lebih Grietje tinggal di kota ini dan kami sudah sangat akrab dan saling mencintai satu sama lain. Namun waktu pula yang harus memisahkan kami ribuan kilometer jauhnya, karena sudah saatnya Grietje kembali ke Belanda. Walaupun ia sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama di sini, namun ia harus kembali ke Belanda karena harus segera masuk kuliah di Universitas Leiden tempat ia menuntut ilmu. Setelah saling bertukar alamat e-mail, nomor telepon dan alamat rumah, akhirnya kami harus berpisah di “Bandar Udara Abdul Rahman Saleh”, satu-satunya bandar udara atau airport di kota Malang. Aku mengantarkannya ke bandar udara tersebut. Rencananya Grietje akan naik pesawat “Sriwijaya Air” yang akan mengantarkannya ke “Bandar Udara Soekarno Hatta” di Jakarta. Sesampainya di Jakarta ia akan meneruskan perjalanannya pulang ke Belanda dengan naik “KLM” atau mungkin “Garuda”. Mata Grietje yang indah sempat berkaca-kaca dan menangis saat harus berpisah denganku di bandar udara. Ia berjanji akan selalu tetap berhubungan lewat e-mail ataupun mengobrol denganku di Yahoo Messenger. Akhirnya kami pun harus berpisah, karena pesawat yang akan mengantarkan Grietje ke bandar udara di Jakarta sudah akan berangkat. Aku pun hanya bisa melambai-lambaikan tanganku melepas kepergiannya dari balik jendela kaca di ruang tunggu bandar udara.
Meski hanya beberapa saat saja tinggal di kota Malang, setiap waktu yang kami lewati bersama sangat terasa berkesan dan tidak akan pernah terlupa. Kami pun masih sering berkomunikasi lewat e-mail dan juga mengobrol di internet. Untunglah ada fasilitas Yahoo Messenger yang memungkinkan kami untuk tetap bisa saling memandang wajah satu sama lain walaupun hanya lewat web camera (web cam). Namun hal itu sudah cukup mengobati kerinduan kami akan hangatnya cinta yang kami rasakan. Semoga suatu saat kelak kami bisa bersatu, menikah dan hidup bahagia entah di Indonesia atau di Belanda. Atau mungkin kedua-duanya karena cinta tidak pernah mengenal ruang dan waktu, cinta akan selalu abadi hidup dalam jiwa kita. Mungkin kelak aku bisa menjadi penulis profesional baik di Indonesia atau bahkan di Belanda dengan menulis buku-buku tentang Indonesia dan Belanda. Biarlah waktu yang akan menentukan segalanya.

Gembrot

Namaku Broto. Firmansyah Subroto. Tubuhku memang gemuk untuk remaja pria seumurku. Tak heran banyak di antara teman-temanku yang memanggilku dengan julukan Gembrot (=gemuk). Julukan yang sama sekali tidak aku sukai, walau aku menyadari bahwa memang tubuhku gemuk sekali. Untuk remaja pria yang baru berumur delapan belas tahun, tubuhku begitu subur laksana bapak-bapak pejabat yang berperut tambun dan berpipi tembem. Beberapa kawanku bahkan ada yang memberikan julukan “Si Bos Besar” kepadaku. Untuk julukan yang terakhir ini aku tidak begitu keberatan. Satu-satunya yang sering kali membuatku jengkel justru julukan “Gembrot” yang memang pas mengena dengan nama akhirku, Subroto. Berulang kali sering terdengar kata-kata menjengkelkan itu.
“Mau kemana, Brot ?”
“Brot, Gembrot, jangan lupa bawa kue yang banyak ya ?”
atau “Dasar Gembrot, kerjanya hanya bisa makan dan tidur saja !”
Huh, aku jadi benar-benar sebel dengan julukan itu dan sekaligus muak dengan diriku sendiri yang ditakdirkan bertubuh gembrot ini. Leherku yang bergelambir saking gemuknya, membuat aku selalu minder saat mendekati teman-teman cewekku. Mereka langsung saja menghindar begitu aku berjalan mendekati mereka. Tak jarang mereka tertawa cekikikan mentertawakan kondisi diriku yang memang jauh dari keren.
“Sudah gembrot, sering keringatan dan jarang pakai parfum lagi !” demikian gunjingan yang sering aku dengar saat aku lewat di dekat teman-teman cewekku. Mereka selalu saja buru-buru menghindar saat aku bergerak mendekat, seakan-akan aku ini tak ubahnya seperti Stegosaurus yang kalau lewat semua bakal minggir biar tidak terinjak.
“Sudahlah, Bos, jangan terlalu dipikirkan. Biar saja mereka menghindar, kalau memang itu mau mereka. Yang penting kan, kita-kita tetap jadi sahabat terbaikmu,” kata sahabatku Andi yang bertubuh kurus kerempeng. Ia sendiri sering diejek dengan julukan si Ceking. Kalau kami berdua lewat, selalu teman-teman kami yang lain membandingkan kami dengan angka sepuluh. “Awas ! The Big Ten mau lewat, ayo pada minggir !” itu yang selalu kami dengar saat kami lewat melintasi sekumpulan anak yang lagi nongkrong di depan kantin sekolah.
“Iya, nggak usah dipikir terlalu berat. Cuekin aja !” kata Gilbert, sahabatku yang lain.
“Atau malah sebaiknya kamu pikirin aja, diratapi dalam-dalam, siapa tahu kamu jadi bisa langsing karena terlalu berlama-lama meratapi nasib sebagai remaja obesitas !” kata sahabatku Tino yang mulutnya selalu ngoceh tak karuan. Tino berperawakan pendek dengan rambutnya yang selalu tegak berdiri seperti anak yang cacingan.
“Hus, ngawur, bukannya menghibur kok malah menyakiti hati teman sendiri,” sahut Roni, sahabat sekaligus tetanggaku yang kebetulan bersekolah di tempat yang sama denganku. Roni bertubuh kelewat tinggi dengan tampang dan wajah yang aneh. Banyak teman-teman yang menjulukinya dengan sebutan Jerapah.
Seperti biasa, kami pun menghabiskan waktu kami di perpustakaan sekolah sambil membaca dan sesekali berceloteh ramai. Komunitas kecil kami seakan demikian terisolir dari dunia luar. Kalau sebagian anak normal lainnya lebih banyak nongkrong dan ngerumpi di kantin sekolah saat jam istirahat, kami berlima lebih banyak menghabiskan waktu di dalam perpustakaan. Entah itu mengerjakan tugas, membaca majalah atau novel, maupun sekedar ngerumpi. Sering kami dimarahi oleh Pak Soni, petugas perpustakaan, karena kami terkadang ngerumpi kelewat ramai sehingga mengganggu konsentrasi para pengunjung perpustakaan yang sedang asyik membaca.
Hari ini hari Minggu. Teman-temanku yang bertubuh normal selalu saja mempunyai acara dengan pacar mereka masing-masing. Sementara aku dan komunitas kecilku biasanya menghabiskan waktu kami dengan bermain scrable di rumahku. Gilbert, si kutu buku dengan kaca matanya yang tebal selalu saja memenangkan permainan scrable yang kami mainkan. Memang, perbendaharaan katanya dalam bahasa Inggris demikian banyak, tak heran karena ia begitu gemar membaca buku, mulai dari buku berbahasa Indonesia, hingga aneka buku berbahasa Inggris. Konon, bahkan ia dengan cepat sudah membaca seluruh edisi buku Harry Potter yang terbit dalam versi aslinya, bahasa Inggris.
Pagi ini aku sudah menanti teman-temanku yang biasa ngumpul di ruang paviliun samping rumah. Ruang itu memang sudah menjadi daerah kekuasaanku, karena ayahku sudah memberiku hak untuk memanfaatkan ruang itu sebagai ruang belajar dan bermain bersama teman-teman. Mulai dari komputer yang dilengkapi sambungan internet, hingga aneka buku dan permainan semuanya lengkap tersedia di ruang paviliun itu. Kami berlima menyebut ruang paviliun itu dengan nama “Sarang Penyamun”. Nama yang sama sekali tidak mengherankan karena terkadang ruangan itu begitu berantakan, saat kami berlima berkumpul di tempat itu. Ya namanya cowok, serajin-rajinnya tetap saja tidak bisa kalau harus disuruh menjaga kerapian setiap saat. Walau berantakan yang penting ruang itu bersih dan tidak kotor. Cuma barang-barangnya saja yang terkadang asal taruh. Ibuku yang terkadang masuk ke ruangan paviliun itu sampai geleng-geleng kepala melihat kondisi seisi ruangan yang bagaikan kapal pecah, berantakan ! Makanya, kali ini aku dan teman-teman berencana untuk membereskan dan merapikan ruangan paviliun itu, supaya terkesan lebih bersih dan lebih lega saat kami bermain dan mengobrol di dalamnya.
Tak lama kemudian sahabat-sahabatku datang. Mereka berempat datang bersamaan. Rupanya mereka berkumpul di rumah Gilbert lebih dulu baru kemudian menuju rumahku. Memang semua teman yang hendak pergi ke rumahku selalu melewati rumah Gilbert terlebih dulu. Jadi di sanalah mereka biasanya berkumpul sebelum akhirnya beramai-ramai datang ke rumahku. Seperti biasa kerumunan itu begitu ramai dengan aneka cerita dan guyonan mereka. Sambil cekikikan dan nyengir, mereka berempat pun berbondong-bondong menuju paviliun samping.
Tak lama kami pun segera sibuk dengan acara bersih-bersih yang memang sudah kami rencanakan kemarin. Roni bertugas membersihkan langit-langit dengan sebatang sapu bergagang panjang. Tubuhnya yang tinggi membuatnya demikian mudah menyelesaikan tugas itu dalam waktu yang singkat. Andi kebagian tugas menyapu segala debu dan kotoran yang berjatuhan di lantai saat Roni membersihkan langit-langit. Gilbert bertugas merapikan buku-buku dan segala macam kertas yang tadinya berserakan. Ia memang menyukai segala pekerjaan yang berhubungan dengan buku dan kertas-kertas. Tino bertugas mengepel dan membersihkan kolong-kolong meja, kursi dan rak buku. Tubuhnya yang kecil dan pendek sangat tepat untuk melakukan tugas itu. Aku sendiri bertugas mengelap meja, kursi dan rak buku dengan lap basah agar tidak lagi berdebu. Setelah itu aku menuju dapur untuk melihat-lihat isi kulkas dan lemari makan, kalau-kalau ada yang bisa dibawa untuk kudapan kami berlima. Mbok Jah membantuku membuat sirup frambozen yang kemudian dituangkan ke dalam lima buah gelas untuk minuman kami berlima. Akhirnya pekerjaan bersih-bersih itu selesai juga. Kami berlima terduduk lemas kecapekan di sofa usang yang ada di pojok ruangan paviliun ini. Jendela paviliun memang sengaja dibuka lebar-lebar agar angin segar masuk dan debu-debu bisa terbang keluar saat ruangan ini dibersihkan. Tiba-tiba terdengar suara truk memasuki halaman rumah sebelah yang memang sudah sejak setahun terakhir ini tidak lagi dihuni. Rupanya ada tetangga baru yang mau pindah ke rumah sebelah. Memang di kompleks perumahan ini antara rumah yang satu dengan yang lain tidak dibatasi oleh satu pagar pun. Jadi dengan leluasa kami bisa melihat apa yang terjadi di halaman sebelah.
Seorang gadis cantik tampak turun dari mobil sedan yang mengiringi truk pengangkut barang itu. Tampak bersama gadis cantik itu ayah dan ibunya yang bertubuh gembrot, juga seorang anak laki-laki yang masih kecil. Gadis cantik itu bertubuh langsing, sangat berbeda dengan kedua orang tuanya yang bertubuh gembrot. Gadis itu tampaknya melihat kami berlima yang tanpa sadar memperlihatkan kelima wajah tolol kami di jendela yang terbuka. Gadis itu tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Aku pun tanpa sadar membalas lambaian tangannya. Wow, cantiknya, kataku seakan tak sadar. Teman-temanku setuju dengan pendapatku itu. Mereka tampak terbengong-bengong melihat gadis cantik itu memasuki rumah barunya. Setelah beberapa lamanya terbengong-bengong, akhirnya kami pun kembali duduk di kursi sofa panjang usang yang ada di pojok ruangan. Mbok Jah mengetuk pintu paviliun. Wanita tua itu membawa nampan besar berisi aneka kue dan lima buah gelas berisi sirup frambozen. Kami berlima kemudian menyerbu semua kue dan minuman sirup yang disuguhkan oleh Mbok Jah. Hmm, sungguh enak rasanya melepas lelah sambil menikmati aneka kue dan minum segelas sirup manis demi memulihkan tenaga yang tadi sempat terkuras saat membersihkan ruangan paviliun.
Aktivitas ngerumpi dan bermain scrable pun berlanjut. Hanya Si Roni yang tidak ikutan main. Ia sedang asyik bermain game di komputer yang memang tersedia di ruangan paviliun ini. Kami pun asyik menghabiskan waktu berlama-lama dalam “Sarang Penyamun”. Tak sadar hari pun telah berganti siang. Kini Mbok Jah muncul lagi dengan sebakul nasi dan aneka lauk makan siang. Kami pun segera menyantap makan siang kami sambil ngerumpi macam-macam. Tiba-tiba di jendela muncul sesosok wajah cantik yang melongok melihat-lihat ruangan paviliun kami ini. Ternyata wajah cantik itu milik gadis tetangga sebelah yang tadi sempat melambaikan tangan kepada kami. Gadis itu menyapa kami sambil mengajak berkenalan. Namanya Sasha. Sasha Ansinta Maharani. Sungguh nama yang indah. Gadis itu sangat ramah dan tidak sombong. Sangat berbeda dengan teman-teman cewek yang ada di sekolah kami. Tak lama ia pun ikut nimbrung ngerumpi dengan kami berlima. Mbok Jah kembali mengetuk pintu. Ia membawa sebuah piring kosong dan segelas sirup frambozen untuk Sasha. Kami mempersilahkan Sasha ikut bergabung makan siang bersama kami. Pembicaraan kami berlangsung panjang lebar, mulai dari pembicaraan seputar pengalaman masa kecil hingga aneka buku dan makanan favorit. Tak terasa hari sudah semakin sore. Menjelang Maghrib, kelima temanku itu pun berpamitan pulang. Hari ini begitu berkesan. Ada sesuatu yang berbeda. Aku pun melambaikan tangan mengiringi kepergian teman-temanku.
Itu adalah kejadian tiga bulan yang lalu. Kini Sasha sudah menjadi pacarku. Sasha juga bersekolah di tempat yang sama denganku. Sikapnya senantiasa manis dan baik terhadapku. Ia bahkan mulai mempengaruhi teman-teman yang lain agar tidak lagi mengucilkan aku dan kelompokku. Ternyata tidak semua cewek berlaku sombong. Tidak semua cewek hanya memandang seseorang dari penampilan luarnya saja. Sasha adalah seorang gadis yang istimewa. Kecantikannya tidak hanya terlihat dari penampilan luarnya saja, tetapi ia juga memiliki kecantikan yang sebenarnya. Kecantikan hati dan budi yang jauh lebih berharga daripada sekedar kecantikan lahiriah. Perlahan perlakuan buruk teman-temanku terhadap geng kami yang aneh berubah sudah. Mereka mau menerima kekurangan dan keanehan fisik kami. Kami tidak lagi mendapat julukan “Orang-orang aneh” atau “Freaky People”. Semua ini berkat jasa Sasha, seorang gadis cantik yang telah mengubah segalanya. Aku adalah Broto, Si Gembrot, dan aku bangga menjadi diriku sendiri. Buktinya masih ada gadis yang mau mencintai orang sepertiku dengan tulus. Gadis cantik yang bernama Sasha. Aku sangat mencintainya.


Rona Kehidupan

“Gedubrakk !”
Mbok Samiyem jatuh terduduk di atas jalan aspal. Kakinya yang renta tertekuk. Wanita itu mengaduh kesakitan. Tulang-tulangnya serasa bergemeletuk saat tubuhnya jatuh berdebum di kerasnya jalan aspal kota ini. Sambil mengaduh kesakitan, wanita malang itu menghapus tetesan keringat yang mengucur deras di dahi dan lehernya yang keriput. Tak satu pun manusia di sekitar jalan itu yang tergugah hatinya untuk sekedar menolong wanita tua itu. Jaman sudah berubah. Manusia sekarang sudah kehilangan hati dan nurani kemanusiaannya. Tubuh lemah wanita itu berusaha bangkit. Walau dengan terseok-seok, akhirnya berhasil juga ia menepi. Untung saja jalanan tidak begitu ramai siang itu. Mbok Samiyem hidup sebatang kara. Anak cucunya sudah pergi menghadap Sang Pencipta. Kejadian itu terjadi sudah hampir sepuluh tahun yang lalu, saat gempa dahsyat telah mengubur hidup-hidup seluruh sanak keluarganya. Entah bagaimana ceritanya, wanita tua itu bisa bertahan hidup sementara seluruh sanak keluarganya justru pergi meninggalkannya di dunia fana ini seorang diri. Sebatang kara. Mungkin memang sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa. Takdir memang terkadang begitu kejam dan tak pandang bulu. Tapi Mbok Samiyem yang sudah kenyang asam garamnya kehidupan tak lagi kaget akan begitu buruk nasib yang menimpa kehidupannya. Saat ia masih kecil dulu, Mbok Samiyem sudah kehilangan ayah yang dicintainya saat negeri ini berusaha membebaskan diri dari penjajahan Jepang. Sementara ibunya mati terkena virus TBC di saat jaman susah puluhan tahun yang lalu. Kini Mbok Samiyem tinggal menumpang di rumah kardus milik Samijan dan keluarganya. Samijan adalah seorang pemulung sampah yang memiliki seorang istri dan dua orang anak. Mereka semua hidup dari mengais-ngais sampah. Samijan dan keluarganya sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh Mbok Samiyem. Kepada merekalah cinta dan kasih sayang ia curahkan sebagai penebus bagi hatinya yang gersang.
Hari itu sungguh terasa berat bagi Mbok Samiyem. Sudah seharian ini ia berkeliling menjajakan pisang goreng buatannya dan tak satu pun yang laku terjual. Sekarang ia hanya bisa menangisi nasib saat pisang goreng buatannya berserakan di tepi jalan akibat ia terjatuh saat menyeberang jalan tadi. Ia masih terdiam memandangi barang dagangannya yang berserakan di tepi jalan itu. Sebuah tatapan kosong penuh penyesalan, mengapa ia tidak bisa lebih berhati-hati. Tapi ia menyadari bahwa hari ini dirinya sudah sedemikian lelah karena harus berkeliling kota dengan berjalan kaki menjajakan kue buatannya itu. Apalagi saat itu matahari bersinar begitu terik, sehingga menguras segenap tenaga yang ia miliki. Keringatnya masih mengucur deras. Napas masih ngos-ngosan. Mbok Samiyem berusaha menenangkan dirinya sendiri. Rejeki masih bisa dicari, tapi keselamatan adalah yang terpenting. Ia masih bersyukur bahwa saat ia jatuh tadi tidak tertabrak kendaraan yang melintas kencang di jalan utama kota ini. Tuhan masih setia melindungi dan menyayangi dirinya yang sudah renta ini. Mbok Samiyem akhirnya memutuskan untuk beranjak pergi dari tempat itu. Mungkin ia sebaiknya menuju masjid terdekat. Mungkin dengan melakukan ibadah sholat, hati dan pikirannya bisa lebih tenang dan tabah menghadapi cobaan hari itu.
Suasana di masjid tampak sepi karena memang sudah sedikit lewat dari waktu sembahyang dhuhur. Tampak beberapa orang masih duduk berdzikir atau membaca kitab suci Al-Quran di masjid itu. Mbok Samiyem duduk berselonjor sambil bersandar pada pilar masjid, sekedar melepas lelah sejenak sebelum akhirnya beranjak untuk berwudlu.
“Ah, mungkin air wudlu ini bisa sedikit menyejukkan jiwaku yang renta ini,” pikirnya dalam hati.
Mbok Samiyem segera bergegas sholat di bagian ruang khusus kaum wanita. Di sana begitu banyak rukuh yang bisa dipakai, karena memang disediakan bagi para pengunjung masjid yang tidak sempat membawa rukuh dari rumah. Setelah selesai sholat, begitu lama ia berdzikir dan berdoa. Tak terasa air matanya menetes saat ia mengadukan nasibnya kepada Yang Maha Kuasa. Wanita tua itu duduk berlama-lama di masjid itu, berdzikir, membaca puja-puji bagi Tuhan dan berdoa panjang lebar agar ada sedikit perubahan pada nasibnya yang sudah sedemikian lama mengalami ketidakberuntungan. Mungkin terlalu lama, sehingga ia pun jatuh tertidur. Ia terbangun saat ada beberapa orang wanita membangunkannya. Rupanya hari itu sudah sore dan para jamaah sudah berdatangan untuk melakukan sholat Ashar. Mbok Samiyem pun segera beranjak menuju tempat berwudlu yang ada di halaman samping masjid ini. Tak berapa lama ia pun segera bergabung dengan para jamaah lainnya untuk melakukan sholat Ashar.
Hari begitu cepat berlalu. Setelah selesai sholat ia pun bergegas pulang. Tidak ada gunanya berlama-lama berkeliling sepanjang jalanan kota ini, karena toh semua barang dagangannya sudah berserakan di tanah tadi saat ia terjatuh. Hari ini ia harus pulang dengan tangan hampa. Tapi tidak mengapa, karena toh ia masih bisa makan layaknya orang-orang kaya walau pun makan malam masih harus menunggu pukul sebelas malam nanti. Saat itu ia akan berbondong-bondong bersama dengan rekan-rekan pemulung menuju tempat-tempat sampah restoran cepat saji bermerek asing di kota ini.
Hanya itulah satu-satunya harapan untuk makan enak. Karena setiap malam, saat restoran-restoran cepat saji tutup, biasanya para pegawai restoran tersebut membawa berkarung-karung plastik ayam goreng, burger, dan pizza yang tidak laku terjual untuk dibuang di tempat sampah khusus yang memang sengaja dibangun untuk menampung makanan-makanan mahal itu. Makanan mahal yang harus berakhir di tempat sampah walau sebenarnya masih bisa dimakan karena belum basi. Walau miskin, Mbok Samiyem merasa sangat bersyukur kepada Tuhan karena masih memberikan kesempatan padanya untuk selalu bisa makan enak di malam hari. Walau untuk itu ia harus menunggu hingga pukul sebelas malam, saat para pegawai restoran membuang berkarung-karung plastik makanan mahal yang tidak laku atau tidak habis terjual. Makanan mahal itu begitu berlimpah jumlahnya sehingga masih bisa disisakan untuk sarapan besok pagi. Makanan yang jelas tidak akan pernah terbeli bila ia harus membelinya di restoran mahal itu. Tapi buat apa harus membeli, kalau ia bisa mendapatkannya dengan gratis di sini, di tempat sampah dekat halaman parkir restoran mahal itu. Biasanya begitu banyak manusia yang mengantre demi mendapatkan makanan. Semuanya tertib dan tidak berebut karena jumlahnya memang sangat berlimpah.
Sore itu ia sudah sampai di rumah kardus keluarga Samijan, tempat ia menumpang hidup. Dengan tersenyum ia menyambut anak-anak keluarga Samijan yang datang menyambutnya. Walau tersenyum kecut karena tak satu pun barang dagangannya yang laku, Mbok Samiyem bersenda gurau dengan anak-anak keluarga Samijan yang sudah dianggap sebagai cucunya sendiri. Samijan dan istrinya rupanya belum kembali, mungkin mereka masih sibuk mengais-ngais tempat sampah karena pekerjaan mereka sebagai pemulung. Jadi ia memanfaatkan waktunya untuk mendongeng kepada anak-anak keluarga Samijan yang lucu-lucu. Anak-anak yang masih belum mengerti sedikit pun tentang pahit getirnya kehidupan. Ia mendongeng tentang negeri yang indah, negeri di mana semua penduduknya hidup serba berkecukupan, berpakaian bagus dan memiliki rumah yang indah. Negeri yang hanya ada dalam alam khayalan. Negeri yang mungkin kelak bisa dikunjungi bila kita tetap tekun beriman dan bertakwa kepada Tuhan walau sedemikian miskinnya kita. Anak-anak keluarga Samijan mendengarkan setiap dongengan Mbok Samiyem dengan penuh perhatian. Tak berapa lama dongeng Mbok Samiyem terhenti. Kepala wanita tua itu terkulai lemah. Jantungnya berhenti berdetak. Wanita tua itu telah tiada. Ia betul-betul sudah pergi. Pergi menuju negeri indah yang selama ini diimpi-impikannya. Negeri indah di mana tiada lagi penderitaan, kelaparan dan sakit hati. Negeri indah di mana ia bisa hidup kekal selamanya memperoleh kebahagiaan yang tidak pernah diperolehnya di dunia ini. Sayup-sayup terdengar suara adzan Maghrib di kejauhan, menyerukan panggilan agar orang-orang berbondong-bondong menuju masjid demi memperoleh tiket menuju negeri indah seperti yang pernah diceritakan oleh Mbok Samiyem.

Si Cantik Nesya

"Sya...Nesya !"teriak Linda membuyarkan lamunan Nesya.
Nesya yang sedari tadi sedang asyik mengupil sambil melamun di halaman belakang sekolah terlonjak kaget saat Linda menepuk punggungnya secara tiba-tiba.
"Hiih...jorok banget sih kamu ini, masa mengupil di depan umum ! Di halaman belakang sekolah lagi !"
"Emang nggak ada tempat lain yang lebih aman daripada di sini ?"
"Emang nggak boleh kalo gue ngupil di sini ?" teriak Nesya protes.
"Ya emang ngga ada yang ngelarang sih kalo kamu mo ngupil di sini. Tapi itu 'kan nggak sopan banget, tahu !" cerocos Linda pertanda tak setuju.
"Habis....kota ini semakin terpolusi saja. Jadi cepat penuh nih hidung oleh kotoran. 'Kan nggak enak banget rasanya kalo hidung ini penuh sementara gue biarin aja tanpa dikuras habis isinya," kata Nesya membela diri.
"Tapi Sya, itu kan bisa kamu lguein saat kamu sedang mandi di rumah, dan bukannya di sini," kata Linda lagi.
"Idih, sewot amat sih. Koq, elo yang pusing, sih. Mo ngupil di sini kek, di rumah kek, suka-suka gue dong. Lagian kan gue baru tahu kalo hidung ini rasanya penuh banget. Dan tahunya baru sekarang, di sini di sekolah ini. Jadi apa salahnya kalo gue ngebersihin nih hidung pas lagi jam istirahat. Toh gue nggak nyuruh elo untuk memakan nih upil," protes Nesya yang terkenal sedikit keras kepala.
"Hiih...cewek ini. Cantik-cantik tapi jorok banget," kata Linda sekali lagi.
"Biarin..."
"Kalo gue jorok, justru gue biarin nih hidung gak gue bersihin. Tapi karena gue ini cewek yang suka menjaga kebersihan, makanya gue risih kalo ada bagian tubuh gue yang ada kotorannya. Makanya gue bersihin nih hidung dengan cara mengupil," kata Nesya tak mau kalah.
"Eee...sudah, sudah ! Koq jadi malah ribut," Sinta datang menengahi kedua cewek yang lagi berdebat itu.
"Apaan sih kalian ini, pagi pagi koq sudah pada ribut. Lagian apa sih yang diributin. Kagak ada untungnya ribut-ribut," sambung Sinta lagi.
"Tahu nih Si Linda. Dia kan yang mulai duluan. Ngagetin gue, pas gue lagi enak-enak ngelamun di sini," tukas Nesya.
"Eee..siapa yang duluan, kamu tuh yang jorok, ngupil koq di depan umum. Nggak sopan lagi !" protes Linda tak setuju.
"Sudah, sudah...."
"Eh, Sya, tadi Si Armand nitip pesen kalo dia pengin ngajak elo ke pesta nikahan sepupunya. Kamu mau nggak ?" kata Sinta mengalihkan pembicaraan.
"A.. a.. aapa yang baru elo omongin tadi ?" Nesya balik bertanya. Rupanya ia tenggelam dalam lamunannya lagi, tidak begitu memperhatikan apa yang dikatakan oleh Sinta.
"Si Armand anak kelas tiga, mo ngajak elo ke pesta nikahan sepupunya, elo mau kagak ?" teriak Sinta tak sabaran.
"Ya amplop... jangan kenceng-kenceng ngapa kalo ngomong, gue kagak budek, tahuu !" Nesya protes.
"Habis elo ngelamun aja sejak tadi. Apa sih yang elo lamunin ?"
"Elo kan nggak tahu tentang masalah-masalah gue di rumah, jadi elo nggak mungkin ngerasain apa yang gue rasain saat ini. Gue lagi sedih nih. Eh, ngomong-ngomong boleh juga tawaran Si Armand ngajakin gue ke pesta nikahan. Lumayan.... makan besar gratis. Tapi koq enggak dia sendiri yang ngomong ke gue kalo dia pengin ngajakin gue ? Pengecut bener tuh cowok !" Nesya berusaha mengalihkan perhatian.
"Dia bukan pengecut Sya, tapi mungkin enggak pede ngajakin elo. Habisnya tampang elo tuh kayaknya jaim banget dan dia kayaknya agak minder tuh kalo harus ngajakin elo secara langsung. Makanya dia nitip pesen ke gue supaya disampe-in ke elo. Elo mau kagak nerima ajakan dia ?"
"Ya mau dong. Kesempatan kayak gini nggak boleh dilewatin. Siapa tahu gue dapat oleh-oleh banyak, kue-kue yang enak plus souvenir cantik untuk kenang-kenangan," tukas Nesya.
"Hiih, nih anak kagak tahu malu, sih ?" sindir Linda.
"Biarin...yang penting kan asyik juga tuh daripada bengong di rumah. Bosen kan setiap hari kerjaan gue hanya jagain rumah nemani si bibi. Mana acara tivi jelek-jelek lagi," bela diri Nesya.
"Emang, ortu elo pada kemana sih, koq elo harus jagain rumah segala. Emang rumahnya bakal lari kalo kagak dijagain ?" tanya Sinta.
"Ortu gue tuh dua-duanya pada sibuk. Kalo mereka pulang kerja, biasanya sudah malam banget, dan gue pastinya sudah tidur. Jadi satu-satu kesempatan ketemuan sama mereka ya pas waktu sarapan pagi. Itu pun nggak lama-lama. Mereka suka terburu-buru, makanya berangkat kerja pagi-pagi. Tguet kena macet lah, tguet telat lah. Pokoknya alasannya macem-macem. Mereka kayaknya kagak peduli dan nggak kasih gue waktu yang cukup buat ngobrol dengan mereka berdua. Emang sih ada ha-pe dan gue bisa ngirim sms ke mereka, tapi kan ha-pe itu benda mati. Gue lebih seneng kalo bisa ngobrol panjang lebar secara langsung dengan ortu dan bukannya dicuekin seperti yang selama ini mereka lguein," curhat Nesya sambil matanya berkaca-kaca.
"Ooo...jadi itu masalahnya. Makanya elo kelihatan uring-uringan akhir-akhir ini. Udah Sya, jangan dipikirkan terlalu serius. Toh mereka cari uang juga buat elo, buat masa depan lo. Sekarang ini nih, perjuangan hidup makin keras, Sya. Dan itu membutuhkan pengorbanan. Elo maklumin, deh. Emang kondisi sekarang kayak gini, ya diterima aja dengan lapang dada. Toh sekarang ada teknologi 3G, elo kan bisa curhat dan ngobrol panjang lebar dengan mereka saat mereka nggak lagi sibuk, misalnya pas jam istirahat kantor untuk makan siang. Nah, waktu itu bisa lo manfaatin untuk curhat dan numpahin semua uneg-uneg elo ke mereka. Suasananya bisa lebih komunikatif karena elo bisa ngobrol sambil menatap wajah mereka. Makanya upgrade tuh ha-pe, biar rada kerenan dikit!" kilah Linda sok menasehati.
"Iya...iya..." sahut Nesya mengiyakan.


Sore itu Nesya menerima ajakan Armand lewat telepon. Tak lama kemudian Nesya pun segera mandi dan cepat-cepat berdandan rapi. Nesya ingin tampil secantik mungkin. Ia ingin tampil lain dari biasanya. Ia ingin tampil cantik di hadapan Armand, cowok yang selama ini diam-diam dikaguminya. Nesya memilih sendiri gaun malamnya. Gaun indah yang terbuat dari bahan satin, tampak begitu cantik saat dipadu dengan sehelai selendang sutra tipis berwarna senada. Nesya minta bantuan Si bibi untuk menata rambutnya. Si bibi yang setia memang cukup pandai menata rambut, jadi Nesya tidak perlu harus pergi ke salon sekedar untuk mempercantik penampilannya. Dipolesnya make up tipis-tipis, sedikit maskara untuk matanya yang indah, sedikit bedak untuk wajahnya dan sedikit polesan lipstik serta lip gloss untuk bibirnya yang seksi. Nesya pun diam-diam menyemprotkan sedikit parfum milik ibunya ke belakang telinga, punggung, dan kedua pergelangan tangannya. Wangi lembut Versace rasa apel menyempurnakan penampilannya. Tak lupa Nesya membawa tas tangan berwarna lembut yang ukurannya agak besar.
"Lumayan, siapa tahu nanti bisa buat menampung kue-kue yang bisa dibawa pulang....he...he..he," batin Nesya sambil tertawa sendiri, membayangkan dirinya menyelundupkan beberapa potong kue untuk dibawa pulang. Dasar nakal !
Malam itu, pukul setengah tujuh tepat, Armand datang menjemput Nesya. Tampang blo’on Nesya langsung kelihatan saat melihat tampang Armand yang keren abis. Dengan stelan jas warna abu-abu, lengkap dengan vest warna senada, kemeja putih, dan dasi dari bahan nilon berwarna abu-abu membuat tampang Armand yang tinggi besar kelihatan sangat dewasa dan gagah. Nesya sempat tertegun beberapa saat mengagumi penampilan Armand yang keren abis. Dada Nesya bergemuruh oleh perasaan senang, kagum, gugup dan rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya. Emosi dan perasaan senang bercampur baur tak karuan. Nesya benar-benar gugup. Nesya pun menyambut tangan Armand. Armand menggandengnya ! Dengan gaya yang mesra !
"Duh, Gusti. Mimpi apa gue semalam," pikir Nesya sambil tersenyum riang. Dari balik pintu, Si bibi melambaikan tangan melepas kepergiannya. Si bibi yang selalu menemani hari-hari kesendiriannya. Malam ini Nesya tak sendiri lagi. Ia bertemu dengan Arjunanya, pria gagah bernama Armand, kakak kelas dua tingkat lebih tinggi di sekolahnya. Di luar ternyata ada dua buah mobil. Di salah satu mobil terdepan tampak kedua orang tua Armand yang melambaikan tangan menyapanya. Nesya pun mengangguk sopan ke arah mereka. Tak lama kemudian Armand dan Nesya menghampiri mobil kedua, di samping mobil itu sudah ada Pak Sopir yang membukakan pintu mobil untuk mereka berdua. Armand dan Nesya pun masuk ke dalam mobil. Kedua mobil itu pun berangkat beriringan ke pesta pernikahan sepupu Armand. Seperti apa ya pestanya ?

Suasana pesta malam itu begitu anggun dan mewah. Pesta kebun bergaya Eropa di gelar di halaman rumah mewah yang demikian luas itu. Dekorasi pesta itu berhiaskan ratusan kuntum bunga-bunga, seperti bunga mawar berwarna putih maupun warna pink, bunga krisan, bunga Lily putih dan tak ketinggalan bunga anggrek Dendrobium tampak bertebaran di berbagai sudut lokasi pesta kebun itu. Mulai dari pintu gerbang masuk halaman rumah besar itu hingga gazebo, semuanya dihiasi dengan aneka bunga berwarna putih, kuning dan merah muda. Pelaminan pengantin juga dipenuhi oleh ratusan bunga warna cerah. Di dekatnya tampak pahatan es berbentuk sepasang angsa yang tampak bersinar kehijauan oleh sorot lampu yang sengaja dipasang di bagian bawah patung es itu.
Lampu-lampu kecil dan lampion kecil dengan sinarnya yang temaram tampak menghiasi dekorasi pesta kebun yang indah itu. Di sana-sini tampak meja-meja kecil yang penuh berisi kue-kue aneka rasa yang menggugah selera. Juga ada beberapa meja panjang yang dihiasi oleh rangkaian bunga indah aneka warna. Di atas meja panjang itu terdapat aneka penganan dan hidangan utama pesta resepsi pernikahan itu. Tamu-tamu yang datang langsung menuju mempelai pengantin dan tuan rumah untuk bersalaman. Setelah itu barulah para tamu menuju ke berbagai meja hidangan yang tersebar di berbagai penjuru halaman rumah yang cukup luas itu. Alunan musik lembut dengan suara seorang penyanyi terdengar mengalun mewarnai suasana indah pesta itu. Sayup-sayup terdengar lagu lama yang berjudul "Stand By Your Man" dinyanyikan oleh seorang penyanyi cantik dengan suaranya yang merdu. Menyusul lagu "What A Wonderful World" yang dinyanyikan oleh pria paruh baya yang juga adalah seorang penyanyi. Rupanya pesta ini telah dipersiapkan dengan baik. Suasananya begitu indah dan syahdu.
Sambil menikmati hidangan makan malam, Nesya tampak menikmati alunan musik romantis yang terdengar begitu lembut di telinganya. Sesaat setelah selesai makan, terdengar ajakan dari pembawa acara yang mengajak seluruh tamu yang hadir untuk mengiringi dansa pasangan pengantin baru itu. Armand mengulurkan tangannya mengajak Nesya berdansa. Dengan malu-malu, Nesya menyambut tangan Armand yang terulur padanya. Segera keduanya tenggelam dalam alunan musik lembut yang mengiringi pesta dansa itu.
Lama juga mereka berdua berdansa. Beberapa lagu berlalu dan keduanya masih diam dalam keheningan masing-masing, sampai akhirnya Armand-lah yang memulai pembicaraan dengan membisikkan beberapa patah kata di telinga Nesya.
"I care about you, Nesya."
"I love you. Gue cinta elo," bisiknya lembut.
"Sudah cukup lama gue mengagumi elo, dan diam-diam mencintai elo. Namun selama ini gue belum mempunyai keberanian untuk mengutarakannya."
Hati Nesya bergemuruh saat mendengar pernyataan cinta Armand, pria yang selama ini diam-diam dikaguminya. Malam ini tak akan terlupakan. Kenangan indah malam ini akan tetap terukir di dalam relung hati Nesya. Ini adalah kali pertama Nesya jatuh cinta, dan ternyata gayung pun bersambut tanpa melalui lika-liku cinta yang rumit.
Terdengar Armand berbisik lagi di telinga Nesya.
"Elo begitu cantik, dan gue seringkali selalu merasa minder saat gue ingin mendekati elo."
"Karena itulah gue meminta bantuan Sinta, saudara sepupu gue."
Nesya terhenyak kaget. Jadi selama ini Sinta ternyata adalah saudara sepupu Armand. Pantas saja dia mau saja dimintai bantuan untuk mencomblangi mereka berdua. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Nesya pun mengeluarkan kata-kata setelah beberapa kali mengatur nafasnya.
"Gue juga mencintai dan mengagumi lo, Armand."
"Bahkan sejak pertama gue ngeliat lo di turnamen bola basket sekolah kita."
"Tapi gue juga gak berani mendekati lo karena lo selalu dikelilingi cewek-cewek yang mengidolakan elo."
"Gue takut kecewa dan sakit hati, karena itulah gue berusaha mengabaikan suara hati gue."
"Apakah lo benar-benar serius mencintai gue ? Karena gue takut suatu saat gue akan kehilanganmu, dan saat itu terjadi gue tentu tak kuasa menanggung kepedihan hatiku. Apakah lo benar-benar serius cinta ama gue ?"
Armand menghela nafas dan dengan suaranya yang sedikit parau karena gugup, terdengar ia berbisik.
"Gue akan selalu mencintai lo, Nesya."
"Elo cinta sejati gue."
Keduanya pun kembali terdiam dan tenggelam dalam alunan musik lembut, berdansa dan terus berdansa. Jutaan kata tak terucapkan untuk sekedar menggambarkan luapan isi hati mereka yang sedang berbunga-bunga. Malam itu mereka pun tersenyum sambil terus berdansa. Di kejauhan tampak Sinta dan Hasan, kekasihnya tersenyum melihat mereka berdua. Keduanya sengaja berdansa di kejauhan sambil mengamati Armand dan Nesya yang terus berdansa sampai saat pesta benar-benar telah berakhir.
Sudah dua jam sejak Nesya diantar pulang kembali ke rumah, dan ia tak kunjung bisa memejamkan kedua matanya. Pikirannya menerawang jauh ke awang-awang. Masih terbayang olehnya kenangan indah di pesta malam itu. Impian indah cintanya telah menjadi kenyataan. Setelah beberapa saat ia pun akhirnya bisa memejamkan kedua matanya. Langit malam itu begitu cerah, diterangi oleh cahaya bulan yang menjadi saksi keajaiban cinta mereka berdua. Selamat tidur Nesya. Semoga bermimpi indah. Mimpi indah tentang cerita cinta kalian berdua....


Mudik

Sudah dua puluh tahun ini Tarjo Subagio tidak pulang ke tanah kelahirannya, Malang, Jawa Timur, Indonesia. Sudah dua puluh tahun sejak kematian Emak, ibu yang sangat disayanginya. Kematian sang ibu saat itu begitu menggoncang diri dan jiwanya. Kematian karena kondisi kemiskinan yang begitu menghimpit keluarganya saat itu. Saat itu pula ia memutuskan untuk melupakan semua penderitaannya dan berusaha mengubah nasib dan peruntungan keluarga ini dengan pergi mengadu nasib ke negeri seberang lautan, Australia. Saat itu sahabatnya, Ruslan yang bekerja sebagai buruh pemetik apel di sebuah perkebunan apel di Australia, kebetulan sedang mudik ke tanah air. Ruslan pun mengajaknya untuk ikut mengadu nasib di negeri seberang lautan itu. Walau terasa berat meninggalkan keluarga yang sangat dicintainya, adik-adiknya yang baru lulus SMA, Patmo dan Wati, namun Tarjo dengan segenap tekadnya ingin mengubah hidup dan masa depannya.
Ia sudah bosan terus menerus hidup dalam lingkungan yang sama, dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan. Maka ia pun langsung menyanggupi tawaran Ruslan saat mengajaknya ikut mengadu nasib ke negeri seberang lautan, Australia. Saat itu tergambar jelas di benak Tarjo bahwa ia akan bisa mengumpulkan uang dolar sebanyak-banyaknya di negeri makmur seberang lautan itu. Ruslan yang sudah bertahun-tahun bekerja di perkebunan apel di Australia itu panjang lebar menceritakan pengalamannya dan juga uang yang berhasil ia kumpulkan sehingga ia bisa terus mengirimi keluarganya dolar demi dolar dan juga membangun rumah berdinding tembok di desanya, rumah yang sangat indah dan termegah di desa itu. Ruslan bercerita bagaimana besarnya gaji yang ia terima setiap bulannya hanya dari bekerja sebagai buruh pemetik apel di Australia. Jumlahnya jauh lebih besar daripada gaji yang biasa diterima oleh Joko, sahabatnya yang lain yang juga mengadu nasib bekerja sebagai sopir pribadi sebuah keluarga kaya di Riyadh, Saudi Arabia.
“Orang-orang bule tidak sepelit orang-orang Arab di Saudi Arabia sana”, kilah Ruslan pada Tarjo.
“Setiap bulannya saja, aku bisa mengumpulkan uang dari gajiku sebagai pemetik apel, kurang lebih dua puluh juta rupiah, itu setelah aku konversi ke kurs mata uang rupiah”, jelas Ruslan panjang lebar.
“Belum lagi kalau aku di malam hari bekerja paruh waktu sebagai pelayan di sebuah kafe di kota terdekat di sana, aku bisa mengumpulkan dolar lebih banyak lagi, karena setiap jamnya aku dibayar paling tidak lima dolar Australia”, kata Ruslan menambahkan.
Mata Tarjo terbelalak mendengar begitu banyak dan mudahnya uang dolar yang bisa diperoleh di negeri seberang lautan sana. Apalagi saat itu Ruslan mudik ke desanya bersama istrinya yang cantik dan anak-anak mereka yang lucu-lucu. Istri Ruslan cantik seperti bintang film di televisi negeri ini, dia gadis bule yang sudah masuk Islam saat Ruslan menikahinya. Anak-anak Ruslan pun cukup unik, mereka berbicara dalam tiga bahasa, bahasa Jawa, bahasa Indonesia dan tentu saja bahasa Inggris. Anak-anak Ruslan pun juga tetap menggemari berbagai penganan dan kue-kue khas Malang. Jadi walau sudah lama tinggal di negeri seberang lautan, mereka tetap tidak meninggalkan budaya, adat, sopan santun serta kebiasaan orang Jawa.
Akhirnya setelah berpamitan kepada seluruh adik-adiknya, para tetangganya, para paman dan bibinya, Tarjo pun berangkat ke Australia bersama Ruslan dan keluarganya. Saat itu Tarjo nekad hanya bermodalkan uang tabungannya yang sebesar lima ratus ribu untuk uang pegangan. Uang itu sudah ia tukarkan ke dalam mata uang dolar, jadi bisa dibayangkan betapa sedikit dan tidak berartinya jumlah uang yang dibawanya saat sudah berubah menjadi uang dolar. Jumlah yang sangat kecil, namun hanya itu satu-satunya uang yang dimilikinya. Ruslan-lah yang membayar semua keperluan persiapannya, mulai dari pengurusan paspor, visa hingga tiket pesawat. Bolak-balik Ruslan menelpon ke Australia, ke perusahaan perkebunan tempat ia bekerja. Rupanya ia berkonsultasi dan meminta persetujuan bosnya yang kebetulan sedang mencari tambahan tenaga kerja baru untuk bekerja di perkebunan. Bolak-balik pula Ruslan dan Tarjo harus pergi ke Jakarta untuk mengurus surat-surat ijin kerja dan visa kerja ke kantor kedutaan Australia di Jakarta. Rupanya perusahaan perkebunan apel tempat Ruslan bekerja juga terus menghubungi kantor kedutaan Australia di Jakarta untuk melengkapi berbagai persyaratan, surat-surat perijinan, dokumen job order, dokumen sponsorship, dan juga mengenai masalah kontrak kerja. Mereka juga bersedia memberikan sponsorship penuh atas biaya keberangkatan Tarjo ke Australia, tentu saja setelah mendapat referensi penuh dari Ruslan yang sangat mengenal diri Tarjo dengan baik. Ruslan pun bersedia menjadi penjamin bagi kehidupan Tarjo nanti di Australia saat ia belum menerima gaji. Walau pun urusan pengurusan ijin kerja dan berbagai hal lainnya tidak mudah dan cukup rumit, namun akhirnya Tarjo bisa berangkat juga ke Australia.
Itu dua puluh tahun yang lalu. Sekarang Tarjo bukan lagi bekerja sebagai buruh pemetik apel. Ia sudah menjadi juragan apel ! Tarjo menikah dengan anak dari pemilik perkebunan apel itu dan ia pun turut mengurusi bisnis perkebunan apel milik keluarga istrinya tersebut ! Tarjo yang sekarang sudah sarjana ! Ia meneruskan pendidikannya sampai ke jenjang sarjana di sebuah perguruan tinggi ternama di Australia sana. Tentu saja dengan biaya dari keluarga istrinya yang pemilik perkebunan apel itu. Tarjo sekarang adalah sarjana agribisnis dan ia sekarang bahkan akan berencana mengambil gelar doktor dalam bidang yang sama di universitas di Australia sana. Tapi itu nanti setelah sekembalinya dari Indonesia. Tarjo yang sekarang bisa berbicara bahasa Inggris dan Perancis, selain bahasa ibunya, bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Istrinya adalah seorang warga negara Australia keturunan Perancis, jadi mau tidak mau akhirnya ia pun mulai belajar bahasa Perancis dan Inggris. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Sekarang ia cukup fasih dan mudah bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dan Perancis, sefasih dirinya saat berbicara dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.
Tarjo mudik ke Malang bersama istrinya, Mary Granier, dan kedua anaknya, Jeff dan Steven. Lengkapnya : Jeffrey Granier Subagio dan Steven Granier Subagio. Sama seperti Ruslan, Tarjo pun akhirnya menikahi wanita Australia. Istri Tarjo sangat cantik, berambut pirang, bermata biru dan berkulit putih mulus bagai mutiara. Anak-anak Tarjo berperawakan tinggi dan tegap, berkulit putih, bermata biru dan berambut pirang. Bentuk rahang dan alis mereka mirip dengan rahang dan alis tarjo. Namun hidung mereka mancung, tidak seperti Tarjo yang berhidung pesek. Kedatangan Tarjo cukup menghebohkan warga desa. Mereka kaget karena kedatangan Tarjo yang tiba-tiba dengan membawa anak dan istrinya dari Australia. Mereka juga keheranan melihat anak-anak Tarjo yang berpenampilan serta berperawakan seperti turis. Mereka seakan tak percaya bahwa dalam diri anak-anak Tarjo juga mengalir darah Indonesia, darah bapaknya yang orang Jawa asli, penduduk desa itu dua puluh tahun yang lalu. Anak-anak Tarjo saat ini masih kuliah di sebuah universitas ternama di Australia, mereka mengambil jurusan agribisnis, sama seperti Tarjo. Mungkin kelak merekalah yang akan meneruskan bisnis perkebunan keluarga seperti yang dilakukan oleh Tarjo saat ini.
Kabar kedatangan Tarjo segera menyebar dengan cepat. Dan saat Tarjo dan keluarganya sampai di depan rumah peninggalan orang tua Tarjo, adik-adiknya, Wati dan Patmo sudah lama menanti mereka di depan rumah lengkap bersama keluarga mereka. Segera saja kedua adiknya itu berhambur memeluk diri Tarjo dan menghujaninya dengan ciuman karena rasa kangen yang sudah tertimbun begitu lamanya, dua puluh tahun ! Waktu yang tidak sedikit ! Walau mereka sering berkomunikasi lewat telepon dan e-mail, namun rasa rindu tak akan bisa tergantikan hanya oleh suara dan tulisan. Rasa rindu yang begitu indah tak tergambarkan saat bisa bertemu pandang, berpelukan serta bertatap muka langsung dengan anggota keluarga yang begitu dicintai dan disayangi !
Patmo, adik Tarjo sekarang adalah juragan sapi. Dia beternak dan berdagang sapi. Berkat modal bantuan uang yang dikirimkan oleh Tarjo sejak bertahun-tahun yang lalu, usahanya kini semakin berkembang dan mengantarkannya menuju kesuksesan. Anak-anak Patmo, laki-laki semua, dan saat ini mereka mulai kuliah dan mengambil jurusan ilmu peternakan di Fakultas Peternakan – Universitas Brawijaya, Malang. Rupanya mereka ingin meneruskan bisnis usaha ayahnya kelak saat mereka lulus kuliah. Istri Patmo, Susanti, mempunyai usaha bordir dan membuka butik kecil-kecilan, butik busana muslim dengan bordiran indah. Cukup laris dan maju pula usaha istri Patmo itu.
Wati, adik Tarjo yang bungsu sekarang mempunyai usaha depot dan katering. Berkat Tarjo pulalah, ia bisa mengembangkan usaha di bidang makanan. Anak-anak Wati, kedua-duanya perempuan dan sekarang masih duduk di bangku sekolah menengah. Mereka mengambil studi di sekolah kejuruan tataboga dan ilmu gizi. Rupanya kelak mereka juga ingin meneruskan usaha depot dan katering ibunya. Suami Wati, Imron, seorang dosen di Universitas Negeri Malang. Mereka bertemu saat Wati dengan usaha kateringnya sedang melakukan persiapan konsumsi dan hidangan untuk acara seminar yang diselenggarakan di Universitas Negeri Malang. Kebetulan saat itu Imron bertindak selaku panitia dalam kegiatan acara tersebut. Keduanya kemudian semakin akrab dan sering bertemu, hingga suatu hari Imron melamar Wati. Karena kedua orang tua Wati sudah tiada, maka yang bertindak sebagai wali dalam pernikahan Wati adalah Patmo. Kejadian itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Kini anak-anak Wati sudah besar dan sudah duduk di bangku sekolah menengah. Prestasi sekolah mereka tidak pernah mengecewakan dan mereka adalah anak-anak yang giat dan tekun serta tidak biasa diam berpangku tangan, sama seperti ibu mereka.
Setelah melepas rindu satu sama lain, akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah, dan meneruskan obrolan kangen mereka yang tertunda selama dua puluh tahun ini.
“Ngipi opo yo aku mang bengi ?” (Mimpi apa ya aku tadi malam ?) kata Wati membuka pembicaraan. “Ujug-ujug katekan dayoh saka adoh” (Tiba-tiba kedatangan tamu dari jauh), demikian tutur Wati sambil membawa baki yang penuh dengan cangkir berisi coklat susu. Di belakangnya diiringi oleh anak-anaknya dengan membawa berbagai makanan dan jajanan buatan sendiri. Kebetulan hari ini hari Minggu, jadi anak-anak Wati sedang libur sekolah, sehingga mereka bisa turut pula bergabung bersama reuni keluarga ini. Patmo beserta istri dan anak-anaknya juga turut berjejal-jejal dalam ruang tamu yang tidak seberapa besar itu. Akhirnya karena terlalu penuh, anak-anak mereka memutuskan bergabung dengan anak-anak dari Wati dan juga anak-anak dari Tarjo yang sedari tadi sedang asyik mengobrol, bersenda gurau sambil memberi makan ikan di kolam ikan yang ada di halaman belakang rumah.
“Wis suwi yo ora ketemu, malih pada pangling” (Sudah lama ya tidak bertemu, jadi semua pada pangling), ucap Padmo tiba-tiba. “Rasane ora kateg yen ora ketemuan langsung. Ora kateg yen mung tilpun-tilpunan utawa surat-suratan liwat e-mail wae,” (Rasanya kurang puas kalau tidak bertemu langsung. Kurang puas kalau hanya ngobrol lewat telepon saja atau surat menyurat lewat e-mail saja) sambung Padmo lagi. Tarjo yang tak kalah rindunya kepada kedua adiknya itu pun segera menyahut, “Lha wong pancene, urip nang monco, adoh saka endi-endi, banjur kepriye ? Luwih becik ngirim dhuwit timbangane bola bali mulih nanging ora nggowo opo-opo” (Ya memang kita hidup di negeri manca, jauh dari mana-mana, lalu bagaimana ? Lebih baik mengirim uang daripada kita sering mudik tanpa membawa apa-apa, kan lebih baik kalau uangnya dikirim saja untuk membantu modal usaha kalian), jawab Tarjo sambil tertawa. Kedua adiknya pun mengangguk mengiyakan.
Wati yang dari tadi seakan tak percaya bahwa kakak tertuanya sudah bisa berkumpul kembali bersama mereka, kemudian tersadar bahwa dari tadi ia belum mengajak tamu-tamunya makan siang. “Oalah, sampek lali aku. Ayo padha dhahar ! Dhaharane wis tak cepakno ndik ruang makan. Ayo monggo sedaya ! Sepurane lek rasane ora pati enak, wong pancene panganan ndeso ! Ayo monggo sedaya padha dhahar, monggo . . . (Oalah, sampai lupa aku. Ayo kita semua pada makan siang ! Hidangannya sudah aku siapkan di ruang makan. Ayo semua dipersilahkan makan ! Mohon maaf kalau rasanya kurang enak dan kurang berkenan, maklum hidangan di desa, seadanya ! Ayo silahkan semuanya, kita makan siang sama-sama, ayo .. . .).
Mereka pun berbondong-bondong menuju ruang makan sambil terus berbincang-bincang melepaskan rasa rindu yang selama ini begitu memenuhi dada. Walau terpisah oleh jarak dan waktu akhirnya keluarga ini bisa berkumpul kembali seperti dahulu, walau tidak untuk selamanya, namun paling tidak mereka bisa melewatkan tahun baru bersama-sama di negeri kelahiran mereka, Indonesia. Selamat tahun baru 2008 ! Semoga harapan baru dan masa depan lebih baik segera menyongsong di depan kita !


Sudut Gelap Suatu Kota

Orang tuaku memberiku nama Tugimin. Hari ini malam minggu. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Warung kopiku semakin ramai saja. Semua tipe manusia malam hadir malam ini. Beberapa para pria kesepian sedang duduk menyeruput kopi. Para pekerja seks komersial sedang duduk melirik ke sana ke mari. Duduk pula para manusia transeksual sedang sibuk mencari kencan. Ada pula beberapa anak muda kos-kosan berkerumun di salah satu sudut. Mungkin mereka mencari sesuatu di tempat ini. Warungku memang warung malam. Tempat berkumpulnya para manusia malam. Warungku sudah buka sejak pukul delapan malam. Di warungku tersedia aneka penganan dan kopi hangat untuk sekedar menolong mereka para manusia malam, yang masih sering terlihat berkeliaran di tengah malam. Sebuah tempat untuk melepas lelah bagi mereka yang bingung dan bimbang setelah capai berkeliaran. Warung sederhana milikku hadir di sini di suatu sudut gelap kota ini.
Warung kopiku cukup ramai oleh para pengunjung. Warung sederhana ini adalah sumber kehidupanku. Aku hanyalah rakyat kecil tanpa daya. Berusaha menapaki kehidupan dengan berjualan kopi dan penganan. Bukan maksudku menjual maksiat. Namun apalah daya diriku kalau warungku menjadi tempat berkumpulnya para manusia malam. Bukan salahku bila sebagian besar pelangganku adalah para manusia malam. Manusia malam adalah juga manusia. Para manusia kesepian yang butuh sedikit penghargaan, dan bukannya cercaan atau bahkan penghakiman. Di sini mereka bebas bercerita tentang segala kedukaan, segala kebimbangan, dan juga segala keputusasaan. Di sini mereka tidak akan mendengar cercaan dan kemunafikan. Di sini tidak ada lagi penghakiman. Semua menjadi diri sendiri. Di warungku mereka semua para mendapat penghargaan sebagai manusia seutuhnya, yang juga butuh dihargai, diperlakukan setara, tanpa cibiran, tanpa cercaan.
Di sini semua adalah teman. Teman-teman kehidupan yang berbagi suka duka. Semua bebas menjadi diri sendiri, melepas semua topeng kepura-puraan, karena pada dasarnya mereka semua merasakan perihnya kedukaan dan beratnya kehidupan. Tidak perlu lagi semua topeng itu. Tidak perlu lagi ada perasaan malu dan takut. Semua berbagi cerita kehidupan, di sini, di warung malam, warung kopi dan penganan. Semua orang merasakan kehangatan akan sebuah persahabatan dan penghargaan bagi kemanusiaan. Semua orang butuh kasih sayang dan percakapan untuk sekedar mengurangi beratnya beban kehidupan, kedukaan maupun keputusasaan. Semua berkumpul di warung malam milikku yang sederhana yang memancarkan secercah kerlap-kerlip cahaya di tengah gelapnya malam. Suatu sudut gelap kehidupan yang mungkin jauh dari jangkauan, sebuah sudut yang terbuang dan jangan sampai terlupakan, hanya karena mereka hidup tersia-siakan. Warung malamku adalah warung kopi kehidupan. Warung kopi yang tetap buka hingga tengah malam dan menjadi saksi geliat malam sebuah kota dengan ribuan cerita duka kehidupan.
Para pelanggan warung kopiku begitu banyak. Ada yang bernama Warti, seorang wanita pekerja seks komersial. Dandanannya sederhana, parfumnya semerbak mewangi dengan aroma murahan. Wanita itu sering merokok, untuk melepas stres, katanya. Warti sudah bertahun-tahun menekuni profesi kelamnya sebagai pekerja seks kelas bawah. Namun pernah ia mendapat pelanggan tetap yang berasal dari kalangan atas. Pria tua itu memberikan uang yang cukup banyak padanya untuk sekali kencan. Pria tua kesepian itu membutuhkan sentuhan kasih sayang dan penghargaan, suatu hal yang sudah lama tidak didapatnya dari istrinya yang mata duitan dan tukang belanja. Pria tua itu merindukan sosok wanita sederhana tanpa tuntutan yang macam-macam. Mungkin itulah sebabnya pria tua kaya itu mencari wanita seperti Warti yang sederhana dan tanpa banyak tanya. Konon pria tua kaya itu adalah seorang pejabat tinggi. Entah benar atau tidak, Warti tidak peduli. Baginya yang penting ia bisa makan hari ini dari uang imbalan yang diberikan oleh pria tua itu. Pelanggan Warti yang lain konon ada yang berprofesi sebagai seorang tentara. Pria muda tegap itu konon bahkan terlanjur mencintai Warti dan mengajaknya menikah, pria itu terus membujuk Warti agar meninggalkan lembah hitam kehidupan yang dijalaninya. Namun Warti menolak, ia sudah kepalang basah, walau ia sebenarnya juga jatuh hati pada pria tegap itu, namun ia tak sampai hati merusak karir ketentaraan yang dijalani pria itu karena menikahi dirinya. Bukankah untuk menjadi seorang istri tentara ia harus menjalani serangkaian tes medis keperawanan, dan jelas hal itu akan membongkar belangnya sebagai seorang pelacur, karena jelas ia sama sekali sudah tidak perawan sejak bertahun-tahun yang lalu. Ia tidak sampai hati membuat malu pria yang dicintainya itu. Cinta tidak harus selalu memiliki, demikian ujarnya di antara isak tangisnya tatkala harus berpisah dari pujaan hatinya.
Ada lagi pelanggan warungku yang bernama Sutanto, siang hari berprofesi sebagai satpam sebuah perusahaan ternama, dan di malam hari bermetamorfosis menjadi Tania, wanita transeksual alias waria. Sutanto hanya ingin menjadi dirinya sendiri di malam hari. Biarlah ia menjalani hidup penuh kepura-puraan di siang hari, namun yang jelas di malam hari ia ingin menjadi dirinya sendiri, melepas semua topeng kepura-puraannya. Sutanto bukanlah seorang waria pelacur. Ia tidak selalu minta dibayar setiap kali kencan dengan pria-pria iseng yang ditemuinya. Namun bila ia diberi sejumlah uang, tentu saja ia tidak akan pernah menolak, namanya juga rejeki, demikian ujarnya. Pernah ada suatu cerita lucu, saat Sutanto sedang bermetamorfosis menjadi waria, salah satu calon teman kencannya tak lain adalah rekan seprofesinya sebagai satpam. Kontan saja tanpa ba bi bu, ia langsung ngacir. Takut ketahuan, katanya. Kalau ketahuan, kan malu, mau ditaruh di mana muka ini. Apalagi kalau sampai terdengar oleh anak istri, bisa malu tak karuan aku, demikian katanya. Dengan bermodal dandanan menor, rambut palsu dan parfum semerbak, Sutanto alias Tania tampil menjadi primadona di antara para waria, karena ia yang berparas paling cantik menurut ukuran para pria-pria iseng jalanan yang mungkin mencari selingan yang lain daripada yang lain. Di antara para pengunjung yang paling sering nongol di warungku adalah Tinus dan kawan-kawannya. Kabarnya mereka mempunyai klub mobil VW. Hampir tiap malam mereka selalu melakukan konvoi dan nongkrong di jalan-jalan utama kota ini. Kalau sudah capek baru mereka semua berbondong-bondong mampir minum kopi dan makan pisang goreng di warungku ini. Mereka sudah menjadi pelanggan setia warung ini bahkan sejak mereka masih kuliah. Kini entah apa pekerjaan mereka, namun yang jelas hampir tiap malam mereka selalu mampir ke sini dan baru pulang menjelang pukul tiga pagi. Di sini mereka ngobrol ngelantur sana-sini sambil asyik merokok, minum kopi dan makan pisang goreng dan aneka kue yang tersedia di warung kopi ini. Konon mereka adalah para pria putus asa yang berulang kali kecewa karena cinta dan bertekad bahwa tanpa cinta pun mereka bisa bertahan hidup dan menghabiskan malam penuh hura-hura bersama rekan-rekan mereka. Itulah hidup. Tak ada yang sempurna di dunia fana ini. Semuanya penuh ilusi. Tiap orang memandang bahwa orang lain lebih beruntung dari dirinya, dan tidak pernah bersyukur atas apa yang sudah ia punya. Padahal setiap orang pasti selalu mempunyai versi penderitaan yang berbeda hidup di dunia ini. Tak ada yang sempurna.
Di sini, di warung kopiku, semua kedok, beban derita dan rasa kecewa diungkap dan diceritakan panjang lebar. Mungkin dengan menceritakan setiap versi penderitaan dan kekecewaan hidup kita pada orang lain, penderitaan dan beban yang terasa sesak menghimpit dada agak lebih menjadi ringan daripada sebelumnya. Itulah keuntungan mempunyai banyak kawan untuk saling berbagi cerita dan saling menghibur satu sama lain. Hampir setiap orang pasti mempunyai penderitaan. Penderitaan itu terjadi akibat keinginan dan obsesi yang selalu dicita-citakan ternyata tidak kesampaian. Semua rasa kecewa itu mengendap menjadi rasa frustasi dan kesedihan. Hal terbaik yang bisa dilakukan tentunya adalah pasrah dan tidak terlalu menyiksa diri sendiri dengan target-target. Biarlah hidup ini mengalir dengan sendirinya. Biarlah kita menemukan takdir kita seiring dengan perjalanan waktu, tanpa harus menyiksa diri dengan keinginan dan obsesi yang muluk-muluk. Setiap orang yang menjadi dirinya sendiri dan membuang semua topeng kepalsuan, serta selalu mendengarkan suara hatinya akan bisa menemukan kebahagiaan dan ketenangan. Mungkin itulah yang dicari orang di warung kopiku, suasana nyaman. Suasana di mana orang merasa nyaman menjadi dirinya sendiri dan membuang semua kepalsuan meski hanya sekejap saja. Semuanya terjadi di suatu sudut gelap kota ini. Banyaknya naungan pepohonan besar yang menutupi cahaya rembulan membuat warung kopiku menjadi bersuasana remang-remang dengan cahaya lampu petromak yang temaram. Itulah sebabnya warung kopiku sering disebut warung remang-remang. Tidak semua warung remang-remang menawarkan kemaksiatan. Di sini orang hanya berkumpul untuk berbagi cerita kehidupan. Suatu kejujuran yang murni datang dari dalam hati. Menjadi diri sendiri bukanlah dosa. Justru kemunafikan dan kepalsuan yang ada di luar sanalah yang menjadi sumber dari segala dosa. Warungku menawarkan penyejuk hati bagi hati yang terluka oleh penderitaan hidup. Kedamaian dan penghargaan adalah dua hal yang paling banyak dicari orang di warungku yang sederhana, di satu sudut gelap kota ini.

Kejutan

Namaku Ranti, gadis perawan tua yang sudah berumur tiga puluh tahunan. Aku tidak tahu kesialan apa yang menimpaku hari ini. Pak Brian seharian memarahiku karena aku memecahkan coffee pot saat pengunjung kafe ini sedang ramai-ramainya. Padahal coffee pot itu seharga satu bulan gajiku. Jadi bisa dibayangkan berapa kali aku harus mencicil dari gajiku untuk menggantinya. Sebetulnya tragedi pecahnya coffee pot itu bukan sepenuhnya kesalahanku. Mungkin memang sudah waktunya coffee pot itu untuk diganti dan dibelikan yang baru. Sialnya, kok kebetulan aku yang ketiban sial bertugas membuat kopi pagi itu, dan entah setan dari mana yang menyebabkan coffee pot itu tiba-tiba pecah saat air panas diseduhkan ke dalam poci kopi itu. Dasar sial ! Tapi seperti semua orang Indonesia yang selalu mempunyai ilmu ikhlas, aku pun akhirnya merelakan gajiku dipotong selama empat bulan lamanya untuk mencicil penggantian coffee pot itu dengan yang baru. Mungkin sudah nasibku, selalu memperoleh ketidakberuntungan dalam hidup ini. Tapi seperti kata orang tua-tua dulu, yang lalu biarlah berlalu. Aku pun mencoba untuk tidak memikirkan kejadian itu lagi.
“Ranti, tolong dong anterin kopi dan croissant ini ke meja nomor delapan,” terdengar suara Lili meminta tolong.
“OK,” jawabku singkat.
Aku pun segera menuju meja nomor delapan sambil membawa nampan yang berisi pesanan pengunjung yang sekarang duduk di meja nomor delapan itu.
“Ini Pak, pesanannya,” kataku pada pria bertubuh tinggi besar itu.
“Ranti, kaukah itu ?” kata pria yang duduk di meja nomor delapan itu sambil menurunkan koran yang dibacanya.
“Jonas, sedang apa kamu di sini ?” tanyaku yang tanpa sadar telah menanyakan pertanyaan tolol itu. Tentu saja ia di sini untuk makan kue dan minum kopi, goblok, jawabku pada diriku sendiri.
“Kebetulan aku sedang ada perlu di daerah perkantoran dekat-dekat sini, tapi kelihatannya aku datang terlalu awal. Jadinya, daripada bengong mending nongkrong di sini sambil minum kopi,” jawab pria bernama Jonas yang selama beberapa tahun lalu sempat mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan. Kejadian itu sudah lama berlalu. Kami sempat berpacaran saat aku dan Jonas masih duduk di bangku kuliah. Kini kami sama-sama sudah lulus kuliah, namun nasiblah yang membedakan kehidupan kami. Jonas yang anak seorang pengusaha kaya, tentu saja meneruskan mengelola perusahaan milik orang tuanya. Sedangkan aku, Ranti, seorang gadis yang berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan hanya bisa memperoleh pekerjaan sebagai seorang waitress di sebuah kafe ternama di kota ini. Mencari pekerjaan saat ini demikian sulit, dan akhirnya ijazahku tidak begitu banyak menolong saat aku demikian membutuhkan pekerjaan. Akhirnya pekerjaan apa pun asalkan halal aku jalani. Maka terdamparlah aku di sini sebagai seorang waitress alias pelayan kafe. Ironis memang. Namun itulah hidup.
Jonas memandangku selama beberapa saat, melihatku mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Setelah beberapa lama ia pun berkomentar sambil terus menatapku.
“Kamu tetap cantik seperti dulu, seperti saat pertama kali kita bertemu.”
Aku hanya terdiam, sambil tersenyum masam. Teringat olehku perpisahan kami beberapa tahun yang lalu. Aku memutuskan hubunganku dengan Jonas karena aku merasa minder dan selalu berseberangan saat kami dihadapkan pada realita bahwa ia anak orang kaya dengan gaya hidup borjuis, sementara aku hanyalah gadis sederhana yang kemana-mana selalu berhemat. Memang semua itu salahku, karena aku dulu telah memutus tali cinta di antara kami, padahal Jonas begitu mencintaiku.
“Lho, kok ngelamun ?” tanya Jonas mengagetkanku, mengembalikan kesadaranku ke alam nyata.
“Ah, enggak,” jawabku berbohong.
“Ngomong-ngomong, kamu tetap tinggal di alamatmu yang dulu ?” tanya Jonas lagi.
“Ya, tetap dengan alamat yang dulu.”
“Boleh aku sekali-kali mampir ke rumahmu ? Itu kalau kamu tidak berkeberatan dengan kunjunganku,” tanya Jonas ragu-ragu.
“Ah, enggak. Aku masih single, kok. Silahkan kalau mau main ke rumah,” jawabku dengan sedikit kikuk. Aku demikian goblok, jawabanku kok kesannya murahan banget, mana menawarkan diri lagi. Ah, biar saja. Mungkin Jonas hanya sekedar berbasa-basi. Dia tidak mungkin mau berkunjung ke rumahku setelah perlakuan kasarku beberapa tahun yang lalu. Ya, aku sempat memaki-maki pria itu dengan kata-kata kasar saat aku sedang bertengkar dengannya. Aku pula yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan asmara kami, sementara sebenarnya Jonas masih sangat mencintaiku. Mungkin ia masih saja mencintaiku seperti dulu ? Ah, semoga saja itu terjadi. Di umurku yang sudah kepala tiga ini, aku masih saja sendiri dan tidak menjalin komitmen dengan siapa pun. Aku mulai khawatir dengan kondisiku yang mulai dijuluki dengan sebutan perawan tua oleh beberapa temanku yang iseng. Aku berharap banyak, agar aku dan Jonas bisa bersatu kembali seperti dulu dan saling mencintai. Semoga Tuhan masih mau berbaik hati memberikan kesempatan kedua untukku. Aku masih saja terpaku berdiri di hadapan Jonas, mengingat semua kilasan peristiwa di masa lalu, kenangan cinta kami berdua. Tiba-tiba datang seorang wanita cantik tinggi semampai yang langsung duduk di samping Jonas. Jonas pun tersenyum pada wanita itu, lalu kembali memandangku.
“Perkenalkan, ini Tiara, istriku, kami baru saja menikah beberapa bulan yang lalu,” kata Jonas memperkenalkan wanita yang sekarang duduk di sebelahnya itu.
Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar kepalaku di siang hari bolong. Musnah sudah semua harapanku untuk menjadi Nyonya Jonas Kartasubrata. Entah mereka melihat atau tidak perubahan mimik yang ada di wajahku. Yang jelas saat ini aku merasa bahwa wajahku berubah pucat pasi. Aku berusaha memaksakan diri untuk tersenyum dan bersalaman dengan istri Jonas, sambil menawarkan mau pesan makanan dan minuman apa. Wanita cantik itu mengangguk sambil tersenyum dan memesan makanan dan minuman persis seperti yang dipesan oleh suaminya. Aku pun segera berlalu dan menyuruh Lili saja untuk mengantarkan makanan dan minuman pesanan istri Jonas itu. Aku sungguh malu karena teringat betapa ge-er-nya diriku saat Jonas meminta ijin untuk berkunjung ke rumahku. Tentu saja ia bermaksud untuk berkunjung ke rumahku dengan istrinya, tidak mungkin ia datang seorang diri. Aku betul-betul malu. Entah apa aku sanggup menemui mereka berdua bila mereka betul-betul jadi bertamu ke rumahku. Semua ini terjadi karena ketololanku beberapa tahun yang lalu karena menyia-nyiakan cinta tulus Jonas kepada diriku. Dasar bodoh !

Sebuah Cerita

“Setuk-setuk seblung blegedeg enyeng-enyeng,” demikian suara Tanteku (Bibi), Siska, menyanyikan sebuah lagu sebelum tidur dalam bahasa Jawa untuk kucingnya yang bernama Fioni. Sebuah lagu tanpa arti yang sekedar asal bunyi. Namun demikian Fioni merasa senang dengan lagu itu. Kucing anggora itu merem melek kesenangan. Dasar manja !
Fioni bertambah gendut saja. Kucing pemakan sampah itu seharian kerjanya hanya makan, nonton tv dan tidur. Huh, aku terkadang jengkel melihat sikap manja hewan berbulu tebal itu. Tanteku Siska demikian menyayangi dan memperhatikan kucing manja itu. Bahkan setiap seminggu sekali, tanteku itu selalu menelepon salon kucing keliling untuk datang ke rumahnya demi memandikan dan merawat tubuh kucing gendut itu. Walau pun sudah diberi makan cukup, Fioni tetap saja suka mengorek-ngorek tempat sampah yang ada di dapur Tanteku. Tak jarang ia menemukan begitu banyak kepala udang, jeroan atau kepala ikan dalam tempat sampah itu. Tempat sampah bagaikan sebuah kuil suci bagi Fioni. Hampir setiap saat ia selalu mengunjungi tempat sampah itu dan betah berlama-lama untuk meneliti apa saja isinya hari ini.
Kali ini Fioni membikin ribut seisi rumah tanteku. Sudah seharian ini Fioni tidak pulang. Bagaikan kehilangan anak yang dicintainya, tanteku bingung dan berjalan hilir mudik menuju ruang teras depan untuk melihat kalau-kalau kucing gendut itu sudah pulang. Tapi tetap saja hewan berhidung pesek itu tak juga muncul. Akibatnya bisa dibayangkan, tanteku bertambah bingung dan panik. Hampir saja ia menelepon polisi untuk melaporkan kehilangan kucingnya, kalau saja aku tidak mengingatkan beliau bahwa Fioni hanyalah seekor kucing, bukan manusia ! Tiba-tiba entah dari mana datangnya, terdengar suara kucing mengeong. Kontan saja tanteku terloncat kaget dari tempat duduknya. Dengan sedikit panik, tanteku mencari-cari suara kucing yang tadi sempat terdengar. Ternyata suara itu terdengar dari pintu halaman samping. Daun pintu terdengar ditubruk-tubruk oleh sesuatu. Mungkin itu Fioni ! Tanteku segera saja bergegas menuju pintu yang menghubungkan rumah ini dengan halaman samping. Ternyata benar, itu suara Fioni. Kucing gendut itu tampak terduduk lemas dengan tubuh yang kotor dan luka-luka di sekujur tubuh. Kucing itu mengeong dan mendengking dengan nada memelas. Tanteku menjerit histeris. Apa yang telah terjadi pada kucing kesayangannya yang berharga jutaan itu ?!
Melihat keadaan Fioni saat itu aku sudah dapat menduga kalau kucing bandel itu baru saja berkelahi dengan sesama kucing lain. Entahlah, mungkin ia berkelahi dan bergulat dengan kucing kampung sebelah di sebuah kubangan lumpur atau tanah yang kotor. Buktinya terlihat tubuh Fioni demikian kotor, penuh oleh lumpur dan tanah yang sudah mengering. Terlihat pula luka-luka dan darah yang sudah mengering di sekujur tubuhnya. Mungkin kucing betina itu berkelahi dengan sesama kucing betina lain untuk memperebutkan cinta Si Brewok, kucing jantan milik tetangga sebelah, atau mungkin juga demi memperebutkan sesuatu yang kami tidak tahu. Ah, sudahlah. Yang penting, Fioni sudah kembali ke tengah-tengah keluarga kami, walau dalam kondisi yang mengenaskan.
Tanteku segera menggendong kucing malang itu dan memeluknya begitu lama. Kemudian ia pun segera menaruh kucing itu di tempat tidur empuknya yang ada di sudut dapur. Dapur memang wilayah kekuasaan Fioni. Bisa dibilang ia adalah Sang Maharatu (bukan Maharaja) Dapur, Yang Mulia Fioni. Tiba-tiba tanteku buru-buru memencet sederet nomor telepon. Wanita itu ternyata mendatangkan jasa salon kucing keliling, hingga dokter hewan secara bersamaan. Petugas salon kucing keliling segera datang dan kemudian memandikan Fioni dengan begitu banyak busa dan shampo. Kucing itu sedikit berontak karena luka-luka yang banyak terdapat di sekujur tubuhnya. Rupanya rasa perih begitu terasa oleh kucing itu. Tanteku menatap kucing malang itu dengan pandangan iba, dalam hati sebetulnya ia tidak tega melihat Fioni dimandikan dalam keadaan penuh luka, namun itu harus dilakukan agar tidak terjadi infeksi.
Tak lama kemudian Bu Agnes, dokter hewan yang sudah bertahun-tahun menjadi dokter pribadi Fioni datang dengan menjinjing tas dokternya seperti biasa. Dokter hewan yang satu ini begitu telaten dan sabar menghadapi berbagai hewan bermasalah seperti halnya Fioni yang terkenal sebagai kucing pemberontak. Selama beberapa saat dengan penuh ketelatenan, diobatinya luka-luka Fioni dengan menggunakan kapas yang telah dibubuhi cairan antiseptik. Ia juga menyuntikkan cairan antibiotik dan anti tetanus ke tubuh hewan gendut itu. Fioni mengeong keras dengan nada berontak sekaligus ketakutan. Namun tidak beberapa lama ia sudah tenang kembali. Tanteku menggendong kucing gendut itu kembali ke singgasananya, tempat tidur kecil dengan begitu banyak bantal dan boneka kain di sudut dapur. Betul-betul hewan manja yang sangat beruntung karena mempunyai juragan seperti tanteku ini.
Kejadian itu sudah terjadi tiga bulan yang lalu. Kini Fioni sudah tidak lagi menghuni rumah tanteku. Ia hilang dua minggu silam. Entah diculik orang, atau minggat bersama kucing jantan yang lain. Maklum, kucing betina yang satu ini terkenal genit, buktinya sering ia tidak pulang ke rumah sehingga menimbulkan kepanikan yang luar biasa bagi tanteku. Ternyata ketidakpulangannya kali ini benar-benar untuk selamanya. Mungkin ia sudah menemukan belahan hatinya di luar sana. Mungkin pula ia sudah dijual di pasar hewan oleh para pencurinya. Atau lebih gawat lagi, mungkin saja kucing gendut itu tewas tertabrak kendaraan entah di mana, karena kebiasaannya yang keluyuran ke mana saja.
Kini tanteku sudah mempunyai seekor kucing baru untuk menggantikan posisi Fioni. Namun kucing itu bukanlah dari jenis kucing mahal seperti Fioni. Kucing milik tante ini hanyalah dari jenis kucing kampung biasa. Rupanya pedagang sayur keliling langganan tanteku merasa iba melihat kesedihan yang bersemayam di hati tante selama beberapa waktu. Akhirnya ia membawakan tanteku seekor kucing kecil mungil yang cantik. Seekor kucing kampung yang walau terkesan murahan, namun bulunya bersih dan terawat baik. Anak kucing itu ternyata dilahirkan oleh kucing milik wanita pedagang sayur keliling itu. Si kucing mungil itu kini telah tumbuh sehat menjadi kucing gendut yang berbulu lebat dan cantik. Semua ini karena tanteku begitu baik merawat anak kucing itu dengan memberikan vitamin, makanan dan perawatan terbaik yang bisa diperoleh oleh seekor kucing. Kucing beruntung itu diberi nama Fiona, versi lain dari kenangan akan Fioni, kucing gendut yang pernah mengisi hari-hari indah keluarga kami.

Indahnya Kepalsuan

“Iya, lho, Jeng, betul itu !” sahut Mirna menimpali komentar Bu Nadia yang sedang menceritakan uneg-unegnya seputar kehidupan sosial mereka sebagai keluarga terpandang di negeri ini. Mereka selalu saja tak pernah luput dari sorotan media dengan berita miring yang tak ada habisnya.
“Pernah lho Jeng, saat kita sedang di Senayan City, tiba-tiba ada reporter televisi nyelonong sambil menanyakan berbagai pertanyaan yang sama sekali tidak etis, kurang ajar banget lho, Jeng,” sambung Bu Nadia meneruskan ceritanya. Wanita narsis itu tak habis-habisnya menceritakan berbagai cerita seputar kehidupan keluarganya yang terhormat. Mirna hanya manggut-manggut mendengarkan semua cerita Bu Nadia. Mirna hanyalah seorang wanita OKB – Orang Kaya Baru. Suaminya tiba-tiba menjadi seorang jutawan karena harta warisan peninggalan pamannya yang memiliki ribuan hektar tanah perkebunan baik di Jawa maupun di Sumatra.
Mirna bergabung dengan klub para wanita jetset ini atas jasa baik temannya, Natasya, yang sudah lebih dulu bergabung dengan dengan klub ini beberapa tahun yang lalu saat ia menikah dengan seorang juragan eksportir kayu asal Kalimantan. Kini ia merasa sangat bahagia setelah bergabung dengan perkumpulan wanita kaya ini. Selalu saja ada kegiatan yang bisa dikerjakan setiap harinya. Entah itu berkunjung ke klub janapada sambil main golf dan melakukan konferensi pers dengan media massa setempat atau televisi nasional yang dengan setia meliput kegiatan mereka, atau menghadiri lelang barang-barang antik yang diselenggarakan oleh balai lelang Christies. Mirna merasa sangat terhormat, ia kini bukan lagi wanita pelayan bar seperti dulu. Dengan mengikuti perkumpulan wanita kelas atas inilah, satu-satunya cara untuk bisa meningkatkan derajat, martabat dan menunjukkan eksistensi dirinya sebagai wanita terhormat.
Semuanya kini telah jauh berbeda. Kini Mirna tidak perlu lagi bersusah payah naik bis kota ke mana pun ia pergi. Seorang sopir yang digaji oleh suaminya, selalu dengan setia mengantarkannya ke mana saja. Mobil sedan Alfa Romeo serial terbaru berwarna hitam itu sepenuhnya sudah menjadi hak milik Mirna, saat suami tercinta menghadiahkan mobil mewah itu saat Mirna berulang tahun. Ya, ia kini bukanlah Mirna yang dulu, wanita bertampang kusam dengan kosmetik murahan. Mirna kini adalah wanita terhormat yang hanya mau menggunakan kosmetik buatan Eropa. Perubahan gaya berdandan saja tidak cukup buat Mirna, seluruh pakaiannya pun harus buatan impor. Kutang dari Swedia, celana dalam dari Perancis, gaun panjang buatan Inggris, dan busana kasual sehari-hari harus buatan Australia. Sepatunya pun tidak mau kalau hanya sekedar buatan Cibaduyut, sepatunya harus buatan Italia. Itulah Mirna yang sekarang. Mirna bagaikan toko butik berjalan setiap ia pergi ke pertemuan wanita jetset yang tak pernah ketinggalan dihadirinya. Pertemuan itu tak lain adalah sekedar ajang pamer bagi para istri untuk menghabiskan uang suaminya dengan memakai pakaian dan perhiasan serba mahal.
“Jeng Safitri, ini lho, saya punya barang baru, kalung berlian bagus dari Afrika, tebel dan gede, lho Jeng, “ terdengar Bu Sofia tak mau kalah menarik perhatian ibu-ibu yang hadir. Lagaknya seperti mau menghampiri Bu Safitri demi menawarkan kalung indah dagangannya, tapi maksudnya tentu saja untuk mendapatkan perhatian dari seluruh undangan yang hadir. Suara cempreng wanita itu sengaja dikeras-keraskan biar semua mendengar perkataannya. Benar saja, semua perhatian langsung tertuju kepada Bu Sofia. Apalagi saat mendengar kata-kata kunci, “berlian”. Sebuah kata itu langsung bisa menyedot perhatian demikian besar dari siapa saja. Dalam sekejap, mereka pun mengerubungi Bu Sofia, bagaikan sekelompok lalat mengerubungi daging busuk.
“Mana Jeng, lihat berliannya.”
“Waduh, indahnya.”
“Iya, ya, besar lagi. Wah berapa harganya ini, Jeng ?
“Ah, nggak mahal koq ?!”
“Iya, nggak mahalnya itu berapa, Jeng ?”
“Cuma 150 juta rupiah, Jeng. Murah kan ? Ini asli buatan Afrika, lho !”
“Ya, ampun murahnya. Lihat dong. Wuih, iya, bagus bener, nih !”
“Bisa dicicil nggak ?”
“Ya nggak, to Jeng. Nanti orang Afrikanya nggak makan sebulan kalo harus dicicil !”
“Wah, sayang ya. Padahal aku mau beli lima biji yang kayak gini.”
“Begini aja Jeng. Kalau beli lebih dari satu, dapat diskon 25%. Gimana ?”
“Kalau harganya segitu, ya tetap kemahalan, Jeng.”
“Kalau cari yang murah, ya cari aja di pasar Senen.”
“Ya, ampun, Jeng. Jangan marah dong ! Kita kan cuma nawar, boleh syukur, kalo nggak boleh, yo wis !”
Semua pun dibikin ribut oleh berlian yang dibawa Bu Sofia. Kerumunan itu terus membicarakan berlian indah yang sempat memukau begitu banyak mata itu. Sampai acara selesai pun, masih saja pembicaraan berlanjut seputar perhiasan mewah itu. Tampaknya setiap orang begitu berambisi untuk memiliki perhiasan mahal itu walau pun mereka bersaing untuk mendapatkannya dengan cara yang murah. Tampaknya tidak seorang pun yang benar-benar berniat secara serius untuk membelinya secara tunai. Semuanya berpikiran untuk membeli perhiasan itu secara kredit, dan kalau bisa malah diusahakan untuk mengemplang (menunggak hutang/tidak membayar hutang) saat harus membayar. Maklum itu kan kebiasaan orang-orang berduit di negeri ini. Gayanya saja yang sok berduit, padahal bisanya cuma ngutang. Saat ditagih, sudah tidak heran lagi kalau mereka bakal berkelit, dan kalau perlu menghilang dari peredaran.
Mirna masih terbayang-bayang oleh kilauan cahaya berlian itu yang berpendar-pendar saat terkena sinar lampu. Akan menjadi sebuah kebanggaan besar, bila ia bisa memiliki berlian itu. Sebuah aset berharga yang bisa mengantarkannya kepada tangga kepopuleran sebagai seorang wanita jetset. Kalung itu akan menjadikannya sebagai seorang primadona pesta saat suaminya mengajaknya pergi ke pesta-pesta mewah pertemuan para pengusaha. Sebuah peluang yang tidak boleh dipandang remeh.
“Aku harus memiliki kalung itu,” pikir Mirna. Tapi bagaimana caranya ? Untuk memintanya secara langsung kepada suaminya, jelas ia merasa malu. Baru bulan kemarin, suami tercinta membelikan ia sebuah mobil mewah buatan Italia, masa sekarang harus minta lagi dibelikan kalung berlian. Tapi kalung berlian itu begitu menawan dan menggoda hatinya. Masa dilewatkan begitu saja. Cahaya putih dan kebiruan berlian itu masih teringat dalam benaknya. Bahkan bisa menjadi mimpi buruk bila ia gagal memiliki benda yang satu itu.
Akhirnya setelah melalui negosiasi yang ulet dengan suami tercinta, Mirna bisa juga mendapatkan keinginannya. Sang suami memberikan ijin untuk membeli kalung berlian itu melalui transfer bank. Mirna segera berjingkrak kesenangan sambil melompat dan menciumi suaminya. Sang suami hanya bisa tersenyum melihat tingkah polah istrinya yang seperti anak kecil saat minta dibelikan permen.
Keesokan paginya, Mirna langsung menghubungi Bu Sofia melalui telepon. Ia berniat membeli 2 buah kalung sekaligus. Pembayarannya dilakukan secara transfer melalui bank. Bu Sofia tampak begitu gembira mendengar kesanggupan Mirna membeli barang dagangannya. Segera saja ia mengantar dua kalung berlian itu ke rumah Mirna saat transfer uang sudah masuk ke rekeningnya. Mereka berdua tertawa-tawa senang. Bu Sofia senang karena dagangannya laku, sementara Mirna merasa senang karena memiliki dua buah kalung berlian besar-besar yang semuanya bisa dipamerkannya nanti di pesta-pesta kaum jetset. Setelah berbasa-basi sejenak, akhirnya keduanya berpisah. Bu Sofia minta diri untuk pulang ke rumahnya. Mirna pun mengantar Bu Sofia sampai ke gerbang depan. Satpam rumahnya mengangguk dan tersenyum ramah melepas kepergian Bu Sofia.
Dua minggu berlalu sudah. Mirna merasa begitu bahagia dan tidak sabar. Malam ini adalah malam pertemuan bisnis suaminya dengan para kolega. Kesempatan inilah yang ia tunggu-tunggu demi memamerkan kalung berliannya yang indah. Mirna mematut-matut dirinya di depan walking closet yang ada di kamarnya. Sambil mencoba berbagai gaun yang ia padu padankan sendiri, Mirna memasang kalung berlian itu di lehernya. Tak lupa ia mencoba sepatu berhak tinggi yang baru dibelikan oleh suaminya saat pulang dari Italia beberapa hari yang lalu. “Wah, aku akan kelihatan semakin cantik,” demikian gumam Mirna mengagumi dirinya sendiri.
Malam yang ditunggu pun tiba sudah. Berdua berangkat dengan suaminya, dada Mirna naik turun berdebar-debar menunggu bagaimana reaksi para istri kolega suaminya saat melihat kalung berlian yang dipakainya. Dalam hati Mirna ingin mendapatkan banyak pujian, karena tampil cantik malam itu, lengkap dengan kalung berliannya. Mereka sampai di depan sebuah gedung pertemuan megah dengan pilar-pilar yang demikian tinggi. Tampak beberapa tukang parkir, membukakan pintu mobil para hadirin yang datang. Mereka berdua segera melangkah masuk menuju tempat pertemuan. Sopir pribadi Mirna dan suaminya segera berlalu membawa mobil mewah Aston Martin warna hitam itu menuju pelataran parkir.
Pesta malam itu begitu meriah. Sebuah jamuan makan malam yang diselingi pembicaraan bisnis oleh para suami. Para istri bergerombol saat makan malam diakhiri, mereka tampaknya ingin memamerkan kehebatan masing-masing. Para suami masih sibuk meneruskan pembicaraan bisnisnya dengan bergerombol di sudut yang lain. Mirna menebarkan senyuman dan pesonanya kepada para istri pengusaha lain yang hadir malam itu. Beberapa di antara mereka tampak berbisik dan tertawa kecil melihat penampilan Mirna. Mirna pun tak sabar menunggu komentar mereka. Akhirnya setelah sekian lama menunggu, komentar pun keluar dari bibir para wanita kaya itu.
“Wah, Jeng, kalungnya bagus banget. Beli di mana ?”
“Iya butiran berliannya koq besar-besar banget, beli di mana ya, Jeng ?” tanya beberapa wanita yang ada sambil sesekali melirik sana-sini sambil tersenyum agak sinis. “Ah, ini aku beli langsung lho dari Afrika. Murah banget koq harganya,” sahut Mirna sambil menyombong di depan sekumpulan wanita yang mengajaknya bicara.
“Jauh bener, Jeng. Memangnya di Indonesia nggak ada, ya ? Koq, jauh-jauh harus beli dari Afrika ?” kata salah seorang wanita sambil mengedipkan matanya.
“Kalau dibilang jauh, ya memang jauh. Tapi itu lho Jeng. Kepuasannya kalau bisa beli langsung di Afrika, tidak tergantikan oleh apa pun. Lagi pula kan berlian asli Afrika terkenal paling bagus kualitasnya,” kata Mirna tak mau kalah.
“Kalau memang dari Afrika, tapi koq seperti itu ya ? Boleh lihat dari dekat nggak, Jeng ?” kata seorang wanita lain yang berpenampilan agak judes.
“Silahkan. Bagus kan kalung saya ?” kata Mirna menyombong lagi.
“Lho, ini sih bukan berlian, Jeng,” kata wanita itu lagi, “ini palsu !”
“Jeng Mirna, memang serius beli di Afrika sana ? Wah kalau begitu ini namanya celaka dua belas, Jeng. Sudah jauh-jauh beli di Afrika. Eh, berliannya ternyata palsu. Benar kan, Jeng Respati ? Lihat saja. Ayo ke sini, teman-teman. Tolong diperhatikan, apa benar kata saya ?”
Wanita-wanita itu pun berkerumun mengelilingi Mirna sambil melihat lebih dekat kalung berlian yang sedang dipakainya. Mereka berkomentar macam-macam sambil berdecak-decak. Beberapa bahkan berkomentar sinis dan bernada menghina. Mirna hanya bisa berdiri lemas mendengar semua komentar ibu-ibu kenalannya itu. Matanya berkunang-kunang. Wajahnya pucat pasi. Hilang semua impian indahnya untuk mendengarkan pujian dari semua tamu yang hadir malam itu. Yang ada hanyalah rasa malu akibat semua orang membicarakan kalung palsu yang dipakainya saat itu. Mirna menjadi bahan tertawaan dan gunjingan para wanita kaya itu. Para wanita yang hanya memikirkan penampilan palsu mereka sebatas pada perhiasan mahal yang mereka pakai. Tak seorang pun di antara mereka yang benar-benar memiliki kecantikan hati dan kemuliaan budi. Mereka tak pernah peduli bahwa masih banyak orang di negeri ini yang hidup dalam kemiskinan, kekurangan makan dan berselimut penderitaan. Saat Mirna mendatangi rumah Bu Sofia di kawasan perumahan mewah di kota itu, di depan rumah itu telah terpampang sebuah papan pengumuman besar bertuliskan, “Rumah ini disita oleh negara.” Pintu pagar rumah itu digembok dari luar dengan rantai besar, sementara tak kelihatan satu pun penghuni rumah itu yang tampak. Rumah itu sepertinya telah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Mirna hanyalah korban akibat keserakahan dan angkara murkanya sendiri.
Orang-orang seperti Mirna dan kelompoknya itu begitu banyak bertebaran di negeri ini. Tiada lagi nurani dan kepedulian terhadap sesama. Hati mereka dipenuhi oleh ambisi dan angkara murka. Tak heran karunia dan berkah dari Tuhan tak pernah menghampiri mereka. Harta yang demikian melimpah ruah dengan mudahnya menguap begitu saja, karena kurangnya amal dan rasa solidaritas terhadap sesama manusia. Hidup mereka tidak akan pernah bahagia. Merekalah seharusnya yang disebut sebagai kaum miskin, karena tak pernah puas dengan harta yang mereka miliki, berapa pun banyaknya.

Akal Bulus

Suhu udara hari ini begitu panas. Matahari bersinar terik memancarkan sinarnya yang demikian menyilaukan mata. Penumpang bis antar kota berdesak-desakan di dalam bis yang sudah penuh sesak oleh penumpang. Bau keringat dan bau apak menyerang hidung-hidung yang gelagapan mencari udara segar untuk mengisi paru-paru yang sudah demikian kotor terpolusi oleh buruknya udara kota. Di sana-sini tampak beberapa manusia kota yang dengan angkuhnya menghembuskan asap-asap rokok, seakan tak peduli dengan kondisi sekeliling yang sudah demikian pengap.
Penumpang bis kembali terhuyung-huyung untuk yang kesekian kalinya, saat bis tiba-tiba mendecit mengerem tiba-tiba. Rupanya ada serombongan anak sekolah yang menyeberang jalan dengan seenaknya. Untunglah mereka tidak tertabrak. Sopir bis pun mengeluarkan serangkaian kata-kata mutiara sumpah serapah yang seakan sudah biasa terdengar bagaikan iklan radio bagi telinga-telinga manusia kota besar. Orang tak lagi kaget saat mendengar kata-kata indah yang terucap dari mulut yang sudah terdidik untuk mengucapkan kata-kata kotor. Mulut dengan gigi-gigi yang menghitam akibat terlalu sering mengisap nikotin dari beratus-ratus rokok yang diisap sepanjang tahun ini.
Beberapa pengamen jalanan tampak buru-buru meloncat naik ke dalam bus saat melihat kendaraan besar ini memperlambat jalannya akibat ruas jalan yang mulai macet di sana-sini. Suara-suara sumbang kaleng rombeng kembali membahana. Beberapa penumpang menutup telinga atau sekedar berpaling risih mendengar suara-suara yang tak tentu nada itu. Suasana benar-benar membosankan. Sesekali terdengar umpatan atau pun teriakan marah akibat kaki-kaki yang demikian sering terinjak dan tergencet di sana-sini. Beberapa penumpang lain tampak terkantuk-kantuk sambil berdiri bergelayutan di sepanjang tiang yang tertambat di bagian atap bis antar kota ini. Senyum-senyum penuh kepalsuan terlihat di mana-mana tatkala para penumpang yang begitu bosan berusaha membunuh kejenuhan dengan mengajak ngobrol penumpang lain yang kebetulan sedang duduk di sebelah mereka. Celoteh-celoteh palsu sekedar pemanis bibir terdengar di mana-mana.
Tiba-tiba terdengar teriakan marah dari beberapa penumpang yang berdiri di bagian belakang bis. Umpatan-umpatan dan makian meluncur deras dari mulut-mulut mereka yang menghitam. Rupanya ada yang baru saja membaca berita di koran bahwa tim sepak bola kesayangan mereka kalah telak oleh kesebelasan musuh bebuyutan yang menang dengan siasat licik. Terdengar lagi ucapan-ucapan mencela tim kesebelasan musuh. Tanpa pernah diduga rupanya ungkapan marah itu menyinggung beberapa orang yang berdiri bergelayutan di bagian depan bis dekat tempat duduk pak sopir. Mereka itu ternyata adalah suporter fanatik kesebelasan musuh yang tadi sempat dicaci maki dan dinistakan. Merasa tidak terima, terdengar umpatan-umpatan kemarahan untuk membalas komentar orang-orang yang berasal bagian belakang bis antar kota ini. Walhasil, suasana semakin memanas dan memicu keributan. Adu mulut dan serangkaian kata-kata kotor kembali membahana. Akhirnya beberapa orang berperangai kasar yang tadinya berdiri di bagian belakang bis bergerak dengan tiba-tiba menuju bagian depan bis hendak melabrak para suporter fanatik kesebelasan musuh. Kembali terdengar jerit kesakitan para penumpang yang kakinya kembali terinjak-injak oleh serombongan manusia-manusia kasar itu.
Tangisan anak-anak kecil yang masih berada dalam gendongan ibu-ibu muda kembali terdengar. Tangisan itu adalah pertanda ketakutan anak-anak yang mungkin nuraninya belum terbiasa mendengar kata-kata jahat yang sepertinya sudah demikian lumrah terdengar. Beberapa orang tua berusaha menenangkan tangis anak-anaknya. Dua kubu yang sedang berseteru itu seakan tak peduli dengan kekacauan yang semakin menjadi-jadi di dalam bis yang sudah semakin tidak nyaman ini. Hingga tibalah suasana yang demikian memuncak saat terjadi baku hantam antara rombongan orang yang berasal dari bagian belakang bis dengan rombongan suporter fanatik kesebelasan musuh. Pak sopir yang ketakutan bisnya mengalami kecelakaan buru-buru menepikan kendaraan besar ini menuju tepi jalan.
Gerakan bis yang tiba-tiba ini kontan saja menyebabkan kendaraan besar ini oleng dan kembali menimbulkan jeritan dari para penumpang yang ketakutan. Akhirnya bis berhenti di tepi jalan. Sang sopir yang marah serta ketakutan itu akhirnya berusaha bersikap tegas dengan menyuruh dua kubu yang berseteru itu berhenti bersengketa atau terpaksa harus turun menyelesaikan masalah mereka sendiri. Rupanya rasa marah dan dendam yang sudah membuncah di dada mereka membuat mereka memilih alternatif kedua, yaitu turun dari bis antar kota ini. Beberapa penumpang bernapas lega. Bau keringat kecut yang tadinya memancar demikian menyengat dari ketiak-ketiak busuk para suporter fanatik sekaligus manusia-manusia kasar itu tidak lagi semerbak memenuhi atmosfer udara bis yang sudah demikian pengap ini. Bis pun kembali melaju menuju tempat tujuan. Kelegaan hati di dada para penumpang tidak lagi berlangsung lama saat beberapa dari mereka menjerit histeris ketika menyadari bahwa dompet-dompet yang tadinya menghuni saku belakang celana tiba-tiba raib tak tentu rimbanya.
Ternyata dua kubu yang tadi berseteru tak lebih hanyalah sekumpulan copet yang pandai berakting mengalihkan perhatian para penumpang. Ada-ada saja akal bulus manusia sekarang dalam memanfaatkan segala kesempatan. Komunitas penumpang bis ini hanyalah salah satu contoh kecil dari sedemikian banyak akal bulus dan tipu muslihat berkedok huru-hara yang semakin marak terjadi di negeri ini. Manusia-manusia yang demikian mudah terintimidasi dan terprovokasi tak lebih hanyalah sasaran empuk dari para pembuat skenario kekacauan yang berusaha memetik keuntungan bagi diri mereka atau kelompok mereka sendiri tanpa peduli pada hati nurani dan belas kasih terhadap sesama. Selamat datang di dunia nyata, dunia yang penuh kekacauan dan miskin rasa cinta.

Anak Penjual Batik

Bunyi klakson mobil yang memekakkan telinga mengagetkan aku dan ibuku yang sedang berjalan menyusuri jalanan becek menuju pasar. Hampir saja ibuku jatuh karena kaget. Pagi ini seperti biasa sebelum berangkat sekolah, aku mengantar ibuku pergi ke pasar sambil membantu beliau membawa buntelan besar dagangan yang berisi kain-kain batik bekas. Ibuku bekerja sebagai penjual kain batik kaki lima di pasar tradisional sejak aku masih kecil. Bahkan sepertinya kain batik tak ubahnya sudah seperti hidupnya. Kalau sudah bicara masalah dunia perbatikan, ibuku adalah jagonya. Mulai dari kain batik khas Jawa buatan Yogya, Solo, hingga kain batik Madura, tak mungkin ada yang terlewat bila seseorang mengajak ibuku berdiskusi seputar masalah batik. Aneka jenis kualitas batik dikumpulkan oleh ibuku, mulai dari yang kualitas nomor satu atau biasa disebut dengan istilah primisima hingga yang kain batik dengan kualitas yang biasa-biasa saja. Semua kain batik dagangan ibuku adalah kain batik bekas yang dikumpulkannya dari para tetangga, teman, sanak saudara hingga orang-orang yang pernah mendengar nama ibuku yang mulai agak terkenal dari mulut ke mulut sebagai salah satu penjual kain batik bekas dengan harga miring di kota ini. Sering kali ibuku menerangkan kepadaku berbagai hal seputar perawatan kain batik, dan kalau sudah asyik menerangkan ibuku akan dengan sangat telaten mendeskripsikan berbagai hal sampai ke bagian yang paling detil dari lika-liku berjualan kain batik. Beberapa kenalan ibuku memang adalah pengrajin batik yang tersebar di berbagai daerah, dan tampaknya ibuku belajar banyak dari mereka. Rupanya ilmunya itu diturunkannya padaku.
Sepanjang perjalanan menuju pasar biasa dimanfaatkan oleh ibuku untuk menjelaskan berbagai hal seputar dunia kain batik, tanpa peduli apakah aku tertarik atau tidak. Tampaknya “ideologi” kain batik berusaha ditanamkan oleh ibuku agar melekat benar di otakku ini. Akhirnya tanpa sadar aku pun mulai tertarik dan mengerti sedikit-sedikit mengenai kain batik dan berbagai hal yang berhubungan dengannya, padahal aku baru duduk di kelas satu SMP.
“Jangan lupa nanti sepulang sekolah langsung ke tempat jualannya ibu ya, Nduk,” pesan ibuku saat kami sudah sampai ke pasar.
“Inggih, Ibu – Ya, Ibu,” jawabku mengiyakan. Ibuku tersenyum sambil mengambil beberapa lembar uang ribuan untuk bekalku ke sekolah. Sambil mencium tangan kanan ibuku, aku pun berpamitan hendak menuju ke sekolah. Ibuku mengawasi kepergianku sambil melambaikan tangannya.
Dengan berjualan kain batik inilah ibuku bisa menghidupi keluarga kami yang sederhana, setelah ayah tidak mampu lagi bekerja akibat usianya yang sudah lanjut. Maklum saja, usia antara ayah dan ibuku terpaut jauh. Sebagai anak ke sembilan dari sepuluh bersaudara, aku harus membantu ibuku dalam kegiatan sehari-hari berjualan di pasar. Pagi hari sebelum berangkat sekolah aku akan mengantar ibuku menuju pasar sambil membantunya membawa buntelan besar berisi kain-kain batiknya, dan sepulangnya dari sekolah aku akan menemani beliau hingga sore hari berjualan kain batik. Kakak-kakakku sebagian besar sudah menikah dan pindah ke kota lain, sementara sebagian lagi bertugas mengurus rumah dan merawat ayahku yang seharian hanya bisa duduk lemah atau terbaring di tempat tidur sambil terbatuk-batuk. Ibuku adalah seorang pejuang kehidupan. Beliau tidak pernah menyerah pada kerasnya kehidupan, dan tampaknya prinsip inilah yang berusaha ditanamkan sejak dini di kepalaku.
“Hidup tidak akan pernah memberikan segalanya kepadamu dengan mudah, Nduk,” demikian pesan ibuku berulang kali. “Kamu harus berjuang keras untuk meraih apa pun dalam kehidupan ini,” ulangnya lagi. Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku. Dalam hati aku bersumpah akan berusaha keras dalam segala hal untuk menjadi yang terbaik demi membanggakan hati ibuku yang dengan susah payah dan usaha kerasnya berusaha menopang ekonomi keluarga seorang diri dengan berjualan kain batik. Sebagai seorang gadis belia aku sudah digembleng untuk tidak pernah cengeng dalam menghadapi kehidupan. Jangan pernah melihat ke atas. Kita harus pandai-pandai bersyukur atas apa yang kita punya, begitu ibuku menasehatiku suatu hari. Aku pun semakin jarang mengeluh. Sebaliknya aku semakin keras menempa diriku dengan berbagai ilmu yang kuperoleh di sekolah dan tentu saja banyak membaca berbagai buku yang terkadang kutemukan di pedagang barang loak di pasar. Mulai aneka buku bekas pengetahuan umum, budaya hingga aneka buku pelajaran bahasa asing. Memang sebagian besar uang jajan yang diberikan ibuku habis kugunakan untuk membeli buku, karena tanpa sadar aku mulai menjadi seorang kutu buku. Membaca buku itu demikian mengasyikkan. Seolah kita akan terbawa ke sebuah dunia lain yang penuh akan ilmu, imajinasi dan inspirasi. Dengan gemar membaca buku itulah, aku selalu memperoleh prestasi juara pertama di kelasku.
“Sinau apa, Nduk – belajar apa, Nak ?” tanya ibuku saat melihat aku sedang asyik membaca buku. Besok ada ulangan umum, jadi sudah sejak sore sepulang dari pasar aku asyik membaca buku pelajaran dan buku catatanku.
“Sinau gawe ulangan sesuk, Ibu – belajar buat ulangan besok pagi, Ibu,” jawabku. Ibu berjalan mendekat dan kemudian mengelus kepalaku dengan penuh kasih. Beliau dengan setia menemaniku belajar di ruang makan hingga larut malam sambil melipati dan merapikan kain-kain batik dagangannya. Ruangan-ruangan dalam rumah kami yang kecil dan sederhana mempunyai berbagai fungsi ganda. Ruang makan misalnya, juga berfungsi ganda sebagai ruang belajar. Saat sedang tidak digunakan untuk makan, meja makan segera beralih fungsi menjadi meja belajar dan meja tulis bagi aktivitas kami untuk mengerjakan PR atau pun untuk tempat menaruh tumpukan buku-buku kami saat kami sedang belajar. Aku dan Siti, adikku biasa memanfaatkan ruang makan ini semaksimal mungkin untuk kegiatan belajar kami. Di satu sisi lain meja makan, seperti biasa ibu selalu sibuk melipati dan merapikan kain-kain batik dagangannya. Ayah biasa duduk di ruang tengah mengobrol bersama kakak-kakakku.
Saat malam tiba, ruang tengah berfungsi ganda sebagai ruang tidur bagi kakak-kakakku. Maklum saja, rumah kami yang kecil tidak cukup menampung jumlah anggota keluarga kami yang cukup besar. Kakak-kakakku biasa mengalah dengan tidur beralaskan karpet murah yang dibeli ibu dari pedagang loak di pasar. Aku dan adikku tidur berhimpitan dalam sebuah ruang kamar sempit di sebelah kamar orang tua kami. Walau hidup dalam kesederhanaan, kebersamaan keluarga kami begitu membuatku bahagia. Kasih sayang dan perhatian yang biasa kami curahkan satu sama lain adalah lebih berharga dari apa pun yang ada di dunia ini. Aku berulang kali mengucap syukur kepada Tuhan bahwa aku demikian sering memperoleh beasiswa dan keringanan pembayaran SPP dari sekolah. Semua ini berkat prestasiku yang dari tahun ke tahun selalu berhasil meraih juara pertama pada setiap semester tahun ajaran di sekolah. Beasiswa dan keringanan pembayaran SPP sekolah selalu dengan mudah aku peroleh dan bisa membantu meringankan beban ibuku sebagai penyokong ekonomi keluarga.
“Yen pinter utawa sugih banjur ojo dumeh, Nduk – Kalau pandai atau kaya jangan pernah merasa sombong, Nak,” nasehat ibuku saat mengetahui aku meraih prestasi juara pertama untuk yang kesekian kalinya. Segera aku tersadar agar tidak terlalu larut dalam eforia rasa bangga yang berlebihan. Di atas langit masih ada langit. Aku bukanlah apa-apa dibanding dengan orang lain yang mungkin jauh lebih pandai daripada diriku. Saat ini aku sudah duduk di bangku kelas dua SMA. Sudah bertahun-tahun aku selalu dengan setia mengantar ibuku membawakan barang dagangannya ke pasar, dan aku menikmati setiap kebersamaan yang kami jalin dalam setiap perjalanan menuju pasar.
Mata ibuku masih awas dan jeli dalam memilih mana kain batik yang bermotif dan berkualitas baik serta mana yang tidak Jari-jari tangannya yang sudah mulai keriput masih peka terhadap perbedaan kualitas mana kain batik primisima dan mana yang bukan. Beliau terkadang demikian perfeksionis kalau sudah menyangkut masalah kain batik dagangannya. Ibuku hanya mau menjual kain batik yang masih bagus kondisinya, walau terkadang harga jualnya sangat tidak sepadan dengan usaha kerasnya untuk merawat dan menyulap kondisi kain batik dagagannya itu. Tangannya masih kokoh untuk mencuci kain-kain batik yang begitu banyak jumlahnya dengan larutan klerek - campuran air dan buah klerek yang berfungsi untuk menyulap kain batik agar senantiasa bagus kondisinya. Beliau terkadang begitu keras kepala tidak mau dibantu, tapi setelah beberapa kali mengamati tehnik dan langkah beliau akhirnya suatu hari aku diijinkan untuk membantu mencuci kain-kain batik yang cukup banyak jumlahnya itu. Hingga pada suatu hari aku demikian mahir dalam segala hal yang berhubungan dengan kain batik, mulai dari perawatan, mencuci batik hingga tehnik menjual batik di pasar.
Tak pernah kusangka bahwa bermula dari berlembar-lembar kain batik yang aku geluti setiap hari demi memperoleh rupiah penyambung kehidupan keluarga kami, kain batiklah yang telah mengantarkanku memperoleh beasiswa untuk kuliah hingga ke jenjang pasca sarjana bidang tekstil di sebuah universitas di Belanda. Bisnis kain batik kami selanjutnya diteruskan oleh adikku yang bungsu. Semua ilmu tentang batik aku ajarkan pada adikku tersebut hingga akhirnya ia bisa membuka sebuah toko galeri kain batik antik di kota kecil tempat kami dibesarkan.
Sekarang aku bekerja sebagai salah seorang ahli kain batik di sebuah museum batik di Belanda. Sebuah negeri di belahan bumi lain yang ribuan kilometer jauhnya dari kota kecil tempat aku dulu dibesarkan. Aku bekerja untuk Tropen Museum Amsterdam, sebuah museum ternama di Eropa yang terkenal oleh aneka koleksi kain batik khas Indonesia. Setiap kali aku memandang kain-kain batik yang dipajang di galeri museum, setiap kali itu pula aku selalu teringat kenanganku berjualan batik di pasar tradisional bersama ibuku. Aku tetap Warsih yang dulu, anak seorang penjual kain batik bekas yang beruntung bisa bekerja di sebuah museum ternama dunia di belahan bumi yang lain dan aktif memperkenalkan budaya Indonesia di negeri asing ini. Suamiku adalah seorang pria Belanda sekaligus budayawan dan dosen pengajar di sebuah universitas di Belanda. Ia mengajar tentang seni budaya Indonesia.
Anak perempuan tertuaku, Jamilah, kini sedang kuliah kedokteran sambil magang di rumah sakit GGD. Amstelaand de Merlanden. Kami sekeluarga dengan penuh kasih merawat dan menemani ibuku tercinta hingga saat-saat terakhir beliau. Kata-kata semangat hidup selalu dihembuskan Jamilah dengan lembut di telinga ibuku, menyemangati beliau agar bertambah masa hidup ibuku beberapa waktu ke depan. Wajah bahagia dan senyum puas senantiasa menghiasi raut wajah ibuku. Beliau sangat menikmati memandang indahnya bunga-bunga tulip yang bermekaran di taman kota dari atas kursi rodanya. Gurat-gurat penderitaan di raut wajah beliau seakan terhapus sudah oleh kebahagiaan yang terpancar jelas demi menyaksikan anak cucunya hidup berkecukupan melebihi standar hidup yang pernah diimpikan oleh beliau. Aku atau Jamilah selalu mengajak beliau berjalan-jalan menikmati udara segar di saat akhir pekan.
Hari ini adalah hari peringatan 200 tahun seni batik Indonesia. Momen peringatan ini sudah dipersiapkan dengan baik untuk digelar di Tropen Museum tempat aku bekerja. Masih satu jam lagi sebelum museum resmi dibuka pagi ini dan perayaan akan dimulai. Aku kembali termenung memandang beberapa kain batik kuno bermotif truntum yang dipajang di galeri pameran. Teringat olehku akan perjuangan keras ibuku demi menghidupi kami semua. Kini sudah satu tahun semenjak kematian ibuku. Beliau dimakamkan di kota kecil kelahiranku di Indonesia, seperti yang selalu diinginkan oleh beliau.
Semua bermula dari kain batik. Terdengar sayup-sayup irama gamelan yang mengalun lembut dari ruang utama pameran. Rupanya museum sudah mulai dibuka. Suasana khas Jawa begitu terpelihara dengan baik di sini, di belahan bumi yang lain, ribuan kilometer jauhnya dari negeri asalku, Indonesia. Rasa syukur tak pernah habis terucap setiap kali terngiang nasehat berharga yang kuperoleh dari ibuku, seorang wanita desa sederhana, penjual kain batik bekas di pasar tradisional di sebuah kota kecil di Indonesia.
Rupanya nasehat-nasehat beliau untukku juga disampaikan untuk anakku, Jamilah. “Yen pinter utawa sugih banjur ojo dumeh, Nduk – Kalau pandai atau kaya jangan pernah merasa sombong, Nak,” teringat kembali nasehat ibuku untuk Jamilah anakku setahun yang lalu di saat-saat terakhir sebelum beliau menghembuskan nafas dengan tenang di rumah kediamanku di Oudekaarselan, Amstelveen - Amsterdam, Belanda. Pesan yang sama yang selalu dinasehatkan beliau kepadaku saat aku masih sekolah dulu. Kain-kain batik seakan menjadi saksi perjalanan hidupku. Aku tetap Warsih seperti yang dulu, wanita sederhana anak seorang penjual batik.

Secercah Cahaya Matahari untuk Hari Esok

Hari begitu dingin. Angin malam begitu menggigit dan merasuk ke dalam tulang. Sesekali terdengar suara tembakan di kejauhan. Aku merangkul anak-anak asuhku yang ketakutan. Kami segera berlindung ke dalam ruang perlindungan bawah tanah. Di sana mungkin bisa sedikit aman. Malam ini aku masih harus membuat sebuah liputan. Mungkin liputanku sedikit bisa mengubah keadaan, menciptakan secercah harapan demi perdamaian di bumi yang sedang bersengketa ini. Perbedaan yang ada sering kali menimbulkan kebencian. Setiap manusia selalu mau menang sendiri dan terkadang melupakan prinsip kesetaraan. Setiap manusia seharusnya menghormati kesetaraan itu demi kemanusiaannya. Kebencian dan kemarahan hanyalah menghilangkan sifat kemanusiaan. Peperangan hanya akan menghasilkan rasa kesakitan, kepedihan dan kebencian tak berkesudahan.
Dua tahun sudah negeri asing ini dikobarkan oleh api perang dan kebencian. Sebagai wartawan yang bekerja pada sebuah media berskala internasional, aku harus bisa bersikap obyektif dalam membuat sebuah liputan kejadian. Walau hati nurani menangis, namun aku harus tegar melihat demikian banyak manusia saling membunuh hanya demi sebuah perbedaan. Terdengar salah satu anak asuhku kembali menjerit dan menangis ketakutan. Bunyi sirene udara kembali nyaring terdengar di kejauhan, diiring suara ledakan bom-bom yang berjatuhan. Satu atau dua dari itu terdengar begitu dekat dan serasa membuat tuli telinga. Aku berusaha tetap tenang sambil tersenyum pada wajah-wajah mungil tak berdosa yang sudah tak berayah dan tak berbunda. Mereka semua yatim dan miskin papa. Hanya kepadakulah mereka mencari kasih sayang seorang ibu. Walau aku belum pernah menikah dan masih muda, namun pandangan kasih mereka menganggapku tak ubahnya bagaikan ibu mereka yang telah tiada.
Seorang gadis kecil dengan burqoh yang meliputi wajah dan tubuhnya memelukku erat. Setengah jam lagi aku harus pergi. Setengah jam lagi Amir dengan mobilnya akan menjemputku demi mendapatkan liputan berita untuk malam ini. Tak peduli betapa ganasnya api perang, sebuah liputan berita harus segera terkirim lewat satelit malam ini. Berita itu harus terkirim lewat transponder lima yang sudah disewa oleh perusahaan televisi tempat aku bekerja. Lima jam adalah waktu yang kubutuhkan demi sebuah berita, karena lebih dari waktu itu satelit sewaan akan mengorbit keluar dari wilayah negeri asing ini. Hanya pada waktu-waktu tertentu saja, satelit tersebut tepat berada di atas wilayah negeri yang sedang dilanda konflik dan kecamuk perang ini. Dan saat itu terjadi, aku sudah harus memperoleh berita yang segera dikirim lewat transponder lima. Proses uplink beberapa berita yang kudapat paling tidak membutuhkan waktu sekitar satu jam, dan itu berarti waktuku hanya tinggal empat jam lagi untuk memperoleh paling tidak sebuah berita berharga yang akan ditonton oleh jutaan mata di berbagai penjuru dunia.
Aku harus segera bersiap-siap. Pelan-pelan aku bergerak menuju sebuah sudut dari ruangan bunker kecil ini. Di sudut itu terdapat sebuah kotak kardus yang berisi pakaian-pakaianku. Kuambil pakaian burqoh warna hitam-hitam yang ada dalam kardus, lalu segera kupakai. Rasa hangat langsung terasa menyelimuti tubuhku yang semula menggigil kedinginan. Di balik baju burqohku, aku memakai kaos t-shirt dan celana jeans casualku. Pakaian burqoh ini hanyalah untuk membuat diriku merasa sedikit aman agar tidak terlalu menyolok serta lebih bisa membaur dengan budaya lokal saat aku sedang meliput berita laporan dari tempat kejadian. Bukan sembarang kejadian, namun berita kejadian seputar perang dan konflik. Langsung dari tempat kejadian. Benar-benar mengerikan bukan? Namun itu semua adalah bagian dari resiko pekerjaanku sebagai seorang reporter jaringan televisi berita internasional.
Rumah penampungan ini jauh dari pusat kota. Terletak di desa kecil terpencil yang telah ditinggalkan. Tak seorang pun akan mencurigai desa ini karena letaknya yang begitu terpencil dekat sebuah bukit kecil curam yang menyembunyikan kota kecil ini dari pandangan. Walau tempat ini aman, aku tak boleh gegabah. Aku harus menjaga anak-anak ini sampai Fatimah dari lembaga bidang pengungsian UNHCR siap dengan dokumen-dokumen yang akan menyelamatkan anak-anak ini keluar dari negeri mereka yang sedang bertikai. Hanya beberapa lembar dokumen yang dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa-nyawa kecil tak berdosa ini. Jangan sampai jiwa-jiwa mereka yang suci teracuni oleh kebencian yang demikian marak menyebar di negeri asing ini. Anak-anak ini harus berhasil terbang ke Dubai dalam beberapa pekan ke depan. Satu-satunya yang selalu kukhawatirkan adalah bila mereka tidak bisa bertahan hidup sampai saat mereka harus pergi mengungsi ke negeri lain secara aman dengan bantuan UNHCR.
Lampu tanda panggilan masuk di pesawat telepon genggamku berkedip-kedip. Mereka sudah sampai, kataku dalam hati setelah terdengar dering tiga kali dan muncul nama Mary di Caller ID ponselku. Telepon yang kugunakan adalah telepon satelit yang langsung terhubung ke VSAT, karena semua provider layanan ponsel sudah tidak aktif lagi sejak negeri asing ini dilanda perang. Amir datang bersama Abdul, Mary dan Fatimah. Abdul,Mary, dan Fatimah akan bertugas menjaga anak-anak ini sementara aku berangkat meliput berita bersama Amir. Semoga tidak terjadi apa-apa malam ini. Semoga anak-anak ini semua selamat dan bisa menatap matahari besok pagi. Tak ada yang pasti di daerah konflik perang. Seseorang bahkan bisa kehilangan nyawanya sebelum ia benar-benar menyadarinya. Semoga Tuhan senantiasa melindungi kami semua. Mary adalah petugas dari UNHCR yang berasal dari Inggris. Mary beragama Islam. Abdul adalah suami Mary. Abdul berasal dari Irak, namun sekarang sudah berganti kewarganegaraan Uni Emirat Arab, dan ini paling tidak bisa sedikit membantu dalam pengurusan dokumen-dokumen bagi anak-anak yatim ini yang selanjutnya akan berstatus pengungsi korban perang.
Aku bergegas keluar dari bunker persembunyian kami. Segera saja aku berpapasan dengan Abdul dan Mary. Kuserahkan kunci-kunci yang aku pegang kepada mereka berdua. Segera saja terdengar langkah-langkah kaki mereka yang semakin jauh terdengar menuruni anak-anak tangga melingkar yang jauh menuju perut bumi. Aku segera berlari masuk ke dalam mobil Land Rover modifikasi yang dilengkapi dengan perangkat peralatan broadcast atau penyiaran itu. Mobil itu dikemudikan oleh Amir. Langkahku sedikit lambat karena aku memakai burqoh. Sesekali kuangkat kain burqohku agak sedikit tinggi untuk mempermudah langkahku berlari menuju mobil yang sudah menungguku sejak tadi. Amir sudah siap dengan kamera. Pria itu menyetir dengan sangat hati-hati di tengah gelapnya malam. Langit yang gelap sesekali diwarnai oleh cahaya terang kilatan roket-roket yang diluncurkan oleh kedua belah pihak yang sedang berperang. Kilatan-kilatan itu tampak begitu indah namun mengerikan. Hampir sama dengan indahnya bias cahaya utara (aurora borealis) yang sempat kulihat beberapa bulan lalu saat aku membuat sebuah liputan di Kanada. Terdengar bunyi dentuman-dentuman di kejauhan. Tidak seperti orang normal yang bergerak menjauhi keributan dan peperangan, kami justru mendekati lokasi terjadinya perang. Benar-benar tindakan nekad. Namun harus bagaimana lagi. Sudah menjadi resiko pekerjaan.
Kuambil kamera video yang sebenarnya cukup berat itu. Kupanggul kamera itu di bahuku. Kucoba mengarahkan kamera itu ke arah sumber bunyi ledakan. Kuatur agar bisa melihat di kejauhan dalam kegelapan malam. Kamera video ini dilengkapi dengan teknologi night eyes yang bisa melihat dalam kegelapan. Masih belum terlihat apa-apa. Hanya gelapnya padang pasir di kanan kiri kami. Mungkin masih jauh, pikirku. Segera kumatikan lagi kamera video yang aku panggul. Amir menoleh sesekali sambil mengajakku mengobrol untuk memecah keheningan dan ketegangan. Suasana benar-benar mencekam. Beberapa menit lagi dan kami akan segera memasuki kota Mosul yang membara oleh api perang. Kendaraan melaju dengan kencang, dan sedikit bergoncang-goncang. Semoga semuanya baik-baik saja.
Kami segera memarkir mobil di sebuah gang sempit yang gelap begitu kami memasuki kota Mosul. Pelan namun pasti kami bergerak menyusuri lorong-lorong gelap berlindung di bawah bayang-bayang bangunan gedung yang sebagian sudah roboh atau tinggal separuh. Suara baku tembak semakin nyaring terdengar dan sangat memekakkan telinga. Kami berusaha mencari arah suara tembakan dan melihat kilatan-kilatan api yang keluar dari moncong-moncong berasap yang memuntahkan peluru di mana-mana. Amir mencoba mengarahkan kamera ke arah sumber-sumber suara letusan dan tembakan. Ia tersenyum simpul. Tampaknya ia berhasil mendapatkan sebuah angle yang bagus. Segera saja ia menggerak-gerakkan tangannya untuk memberi isyarat agar aku mengikutinya. Segera saja aku berlari mengikutinya sambil terus berkomentar memberikan beberapa keterangan yang terhubung langsung dengan mikrofon tanpa kabel yang terselip di kerah bajuku. Suaraku langsung terekam dengan baik. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk menyunting dan menggabungkan suara dan gambar liputan kami nanti, sebelum akhirnya kami akan melakukan proses meng-uplink berita beberapa jam ke depan. Rupanya baku tembak seru telah terjadi di depan kami. Terdengar suara langkah-langkah orang berlarian di depan kami. Kami pun segera mengikuti mereka namun tetap menjaga jarak agar kami tidak dicurigai dan tetap tidak terlihat. Akan sangat berbahaya bila kami sampai terlihat oleh kedua belah pihak yang berperang. Karena itu bisa berakibat fatal. Setiap orang pasti tidak akan percaya bahwa kami adalah reporter televisi walaupun kami membawa kamera video yang demikian berat. Setiap orang pasti akan cenderung bersikap paranoid di tengah medan perang seperti ini.
Untunglah kami segera menemukan tempat persembunyian yang pas di balik sebuah reruntuhan bangunan yang tidak sepenuhnya runtuh. Tiba-tiba pundakku ditepuk oleh seseorang. Orang itu menjerit panik dan histeris sambil menarik-narik bajuku. Aku terlompat kaget setengah mati. “Mati aku!” demikian pikirku. Namun kekhawatiranku tidak beralasan. Ternyata orang yang tadi menarik-narik bajuku tak lain adalah seorang wanita dengan seorang anak kecil yang sedang digandengnya. Ia memohon dan menceritakan segala apa yang telah terjadi padaku dalam bahasa Arab. Aku mendengarkannya, sambil sesekali menterjemahkan omongan wanita itu ke dalam bahasa Inggris sebagai pengantar berita yang sedang aku liput saat ini. Amir segera mengarahkan kamera videonya ke arah wanita itu. Ia pun sesekali bertanya mengenai beberapa hal, juga dalam bahasa Arab. Rupanya wanita itu dan anaknya belum sempat mengungsi saat pertempuran meletus. Ia terpisah dari suami dan kedua anaknya yang lain. Ia menjerit dan menangis panik karena mengkhawatirkan mereka. Aku berusaha menenangkan wanita itu dengan kata-kata lembut sambil mengusap punggung wanita itu dan sesekali merangkulnya untuk sedikit menghibur. Amir terus merekam adegan itu dengan kamera videonya. Aku pun kembali menterjemahkan beberapa narasi ke dalam bahasa Inggris.
Tiba-tiba wanita itu menunjuk-nunjuk ke arah sebuah sudut gelap pada seberang jalan, dekat sebuah bangunan besar yang tampaknya masih berdiri kokoh walaupun di sana-sini tampak beberapa bagiannya sudah roboh hancur terkena hantaman rudal dan bazooka. Ternyata ia menceritakan bahwa tentara musuh yang semuanya orang ajam (istilah dalam bahasa Arab untuk menyebut orang bule) tiba-tiba keluar dari bangunan itu dan melontarkan tembakan membabi buta ke mana-mana. Banyak wanita dan anak-anak menjadi korban. Segera saja terjadi baku tembak, demikian menurut ceritanya. Aku segera menterjemahkan rentetan cerita yang diceritakan dalam kecepatan tinggi oleh wanita malang itu. Anaknya menggigil ketakutan dan tangan-tangan mungilnya tampak mencengkeram kedua kaki ibunya, seakan takut terpisah dari ibu yang dikasihinya itu.
Aku sempat ngeri dan terpana saat mendengar cerita yang dituturkan oleh wanita berbaju burqoh itu. Tak pernah kubayangkan bisa ada kebencian yang begitu rupa sehingga sekelompok orang bisa sampai hati membunuh wanita dan anak-anak serta orang-orang tak berdosa hanya karena alasan isyu untuk membasmi terorisme. Kata-kata manis propaganda yang sering kulihat di televisi dengan mengatasnamakan keamanan dunia, mereka para penjajah berkulit putih, berusaha membenarkan tindakan keji mereka yang berkedok topeng kemanusiaan dalam tindakan mereka sebagai polisi dunia dan penegakan hak asasi manusia, suatu hal yang justru mereka langgar sendiri. Aku marah demi melihat semua itu. Aku marah saat melihat kaumku, kaum wanita harus dibantai dengan begitu keji, hanya karena mereka memakai burqoh, dan diduga beragama Islam. Apa yang salah bila seseorang beragama Islam. Bukan agama dan pakaian yang menentukan baik buruknya hati seseorang. Bahkan seorang atheis pun tidak selalu berhati jahat. Begitu banyak orang-orang di luar sana yang mengaku dirinya taat beragama namun perilakunya lebih keji daripada binatang, karena tega dengan mudahnya menghilangkan nyawa orang lain atas pembenaran yang ia karang-karang sendiri. Begitu mudahkah stereotipe buruk tentang Islam, melekat dalam akal pikiran orang-orang ajam itu. Begitu buruknyakah orang-orang ajam itu menilai orang-orang yang beragama Islam? Bukankah paham hak asasi manusia dan kesetaraan seharusnya dibangun atas dasar saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan dan pluralitas yang ada? Ataukah itu hanya sekedar basa-basi pemanis mulut dan akal bulus demi merampok kekayaan minyak negeri Irak melalui pembenaran penegakan perdamaian dan hak asasi manusia di negeri kaya minyak ini?
Aku mengatakan pada ibu itu agar tetap berlindung dan bersembunyi di balik reruntuhan tembok kami ini, karena menurut kami tempat ini benar-benar aman terlindung dengan lokasi yang memang agak tersembunyi. Wanita itu mengangguk sambil terus terisak menahan tangis. Air mata segera meleleh dari kedua bola mataku. Hatiku hancur saat melihat demikian banyak wanita dan anak-anak menjadi korban perang dan ambisi keangkaramurkaan manusia atas nama politik atau apa pun namanya. Aku sama sekali tidak setuju dengan adanya perang. Perang hanya membawa kesengsaraan. Perang hanya menghasilkan sakit hati, kesedihan dan penderitaan. Keluarga yang semula hidup bahagia penuh cinta kasih harus tercerai berai terpisah akibat perang. Entah terpisah karena kematian atau pun terpencar saat harus mengungsi. Benar-benar sebuah kondisi yang mengenaskan dan menyentuh lubuk hati terdalam. Semuanya ini hanyalah bermula dari suatu perbedaan. Entah perbedaan pendapat, cara pandang, perbedaan warna kulit, ras atau agama.
Apakah manusia demikian sombong menghalalkan segala upaya untuk saling membunuh demi ambisinya. Ambisi yang mengatasnamakan stabilitas negara, agama dan politik? Bahkan Tuhan pun melarang umatnya untuk membunuh semut. Setiap kehidupan sangatlah berharga. Apakah manusia sanggup untuk menciptakan sebuah kehidupan? Demikian sombongkah manusia sehingga ia bisa demikian mudahnya mencabut nyawa manusia yang lain sementara ia sendiri tidak bisa menciptakan sebuah kehidupan?
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku, tatkala Amir menggerak-gerakkan tangannya sebagai isyarat agar kami segera bergerak menyusuri bagian-bagian lorong yang aman dari jarak pandang dan tertutup oleh bayang-bayang reruntuhan bangunan kota yang sudah porak-poranda ini. Amir terus mengarahkan kameranya ke berbagai arah. Lensa tele yang terpasang di moncong kamera video menambah berat beban yang dipikul oleh Amir. Namun demikian ia tak pernah mengeluh. Aku terus berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi peperangan yang sedang berkobar di kota ini. Sesekali aku berhenti karena terengah-engah. Napasku serasa tersengal-sengal demi mengikuti langkah kaki Amir yang bergerak begitu cepat berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain. Sesekali ia mengarahkan kameranya ke tumpukan-tumpukan jenazah yang tergeletak berserakan di berbagai tempat. Korban dari kedua belah pihak demikian banyak berjatuhan. Aku terus berkomentar dan membawakan narasi untuk berita yang sedang kuliput saat ini bersama Amir. Tak terasa sudah lebih dari satu jam kami meliput di lokasi perang yang sama sekali tidak aman ini. Sesekali terdengar suara berdesing di dekat kepala kami.
Ya Tuhan, tolong selamatkan aku untuk yang kesekian kalinya, agar aku Kau berikan kesempatan untuk melihat sinar matahari pagi esok hari. Itu adalah nikmat terbesar yang bisa kuperoleh di daerah perang ini. Melihat sinar matahari di pagi hari, seakan setiap sinarnya demikian berharga. Sinar yang memberikan harapan untuk hari esok yang lebih baik. Walau terkadang hari esok yang lebih baik itu tak kunjung datang di daerah yang dilanda perang seperti di Irak ini.
Amir kembali memberikan tanda agar aku segera bergerak mengikutinya untuk kembali menuju mobil. Liputan hari ini sudah selesai. Malam ini kami hanya perlu menyunting berita yang kami dapat ini sebelum akhirnya harus dikirim ke satelit. Tiba-tiba aku teringat pada wanita malang dan anaknya yang tadi sempat kami temui. Kami pun segera bergegas menghampiri tempat persembunyian kami tadi. Di sana masih menunggu wanita itu dan anaknya yang tak pernah lepas menggenggam erat tangan ibunya itu. Aku segera meraih anak itu dan kemudian menggendongnya, sementara tanganku yang lain meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat-erat serta menariknya agar mengikutiku berlari di lorong-lorong gelap yang sedikit tersembunyi, kembali menuju mobil Land Rover kami yang diparkir di kegelapan, jauh di tepi kota Mosul ini. Kami berlari dan terus berlari. Terengah-engah. Berhenti sejenak, dan kemudian berlari lagi. Sesekali kulihat arah koordinat di perangkat GPS yang aku bawa. Arahnya sudah benar.
Akhirnya kami pun selamat sampai kembali ke dalam mobil. Amir segera memacu mobil bergerak laju dengan kecepatan tinggi meninggalkan daerah yang sedang dilanda baku tembak yang cukup seru itu. Aku segera asyik dalam kesibukanku menyunting video hasil rekaman liputan kami, dan melakukan proses uplink saat kami sudah berada jauh dari kota Mosul. Amir menghentikan mobil sejenak di tempat yang aman, sampai seluruh proses uplink selesai dilakukan. Beberapa saat kemudian ponselku berdering, dan seseorang di ujung lain di belahan bumi yang lain telah mengabarkan bahwa proses uplink beritaku sudah berhasil diterimanya, dan kini sedang disiarkan melalui satelit ke seluruh penjuru dunia, disertai himbauan dan seruan mengenai upaya-upaya perdamaian ke seluruh penjuru dunia. Dalam hati aku mengucap syukur, bahwa Tuhan masih memberi umur panjang untuk menatap matahari esok pagi dan berbuat lebih banyak untuk perdamaian dunia melalui liputan beritaku.
Saat kami sampai di rumah penampungan anak tempat aku sehari-hari menghabiskan waktuku bersama anak-anak pengungsi korban perang, hari sudah menjelang pagi. Secercah cahaya tampak bersinar di horison. Masih ada hari esok, kataku dalam hati. Aku pun mengajak masuk wanita pengungsi dan anaknya itu ke dalam rumah. Di dalam rumah, Abdul, Mary dan anak-anak asuhku menyambutku dengan perasaan lega. Mereka semua sudah keluar dari bunker persembunyian. Segera aku melepas baju burqoh yang sejak tadi aku pakai. Kini dalam sekejap aku sudah kembali menjadi Ranti, seorang reporter wanita asal Indonesia. Aku pun kemudian memperkenalkan wanita itu kepada seluruh penghuni rumah penampungan ini, tak lupa kuperkenalkan pula, Abdul, Amir, Mary, dan Fatimah. Wanita yang aku selamatkan tadi ternyata bernama Zulaikha, dan walaupun ia memakai baju burqoh, ternyata ia beragama Kristen. Kami sama sekali tidak menyangka sebelumnya bahwa seorang yang berbaju burqoh bisa juga beragama Kristen.
Baju burqoh memang bukanlah semata-mata monopoli orang yang beragama Islam saja, namun lebih merupakan baju tradisional negara Irak, mungkin semacam baju kebaya bagi para wanita yang hidup di Indonesia. Saat itu aku baru menyadari bahwa baju dan penampilan sama sekali tidak mencerminkan kepribadian dan stereotipe seseorang. Hanya rasa kasih dan sayang yang mengisi hati dan jiwa manusia yang bisa menentukan kualitas keberadaban manusia itu sendiri. Bukan rasnya, bukan agamanya, dan bukan juga kekayaannya. Manusia yang beradab bagiku hanya bisa diukur dari seberapa besar ia sanggup mengasihi dan menyayangi orang lain seperti halnya ia menyayangi dirinya sendiri. Perbedaan dan pluralisme dalam berbagai hal tidak menjadi masalah asalkan seseorang masih mempunyai sikap empati, mau menghargai orang lain, tenggang rasa dan toleransi serta cinta kasih. Selama semua itu ada dalam hati seseorang, bukan tidak mungkin dunia ini akan bisa mencapai perdamaian dan tercipta rasa aman bagi setiap orang. Masih beberapa minggu lagi, dan mungkin Zulaikha akan juga bergabung dalam rombongan pengungsi yang akan segera bertolak menuju Dubai, Uni Emirat Arab. Semoga Tuhan masih memberikan kami kesempatan untuk melihat terbitnya matahari esok hari dan beberapa minggu ke depan saat kami bisa segera meninggalkan bumi yang merah membara oleh api perang ini. Andai seluruh bangsa di muka bumi ini bersatu, betapa indahnya sebuah peradaban yang akan maju berkembang dalam alam perdamaian. Semoga suatu saat perdamaian bisa tercapai di muka bumi walau demikian banyak perbedaan yang menghuni dada setiap manusia.

Selasa, 31 Juli 2007

Tiga Puluh Dua

“Kreeek !”
Kain jarik Mbok Supiyah robek. Mbok Supiyah jatuh berdebum sesaat setelah kain jariknya tersangkut pagar depan rumah juragan Suparna. Bu Suparna berteriak kaget. Istri juragan Suparna itu hendak berlari membukakan pintu pagar depan. Tetapi ternyata semua sudah terlambat. Mbok Supiyah, pembantu rumah tangganya yang tidak sabaran sudah terlebih dahulu memanjat pintu pagar besi yang tingginya dua meter itu. Mbok Supiyah sudah berumur lebih dari lima puluh tahun. Wanita tua itu terkenal keras kepala dan mau menangnya sendiri. Tidak jarang ia sering membantah segala apa yang dikatakan oleh juragannya. Namun keluarga Suparna tak sampai hati untuk memecat Mbok Supiyah yang sudah mereka anggap seperti keluarga sendiri. Kali ini ulah Mbok Supiyah membikin heboh seisi rumah. Mbok Supiyah pingsan ! Rupanya wanita tua itu hendak bermaksud pergi berbelanja pagi-pagi, namun kali ini ia sungguh jengkel karena pintu pagar depan belum juga dibuka, sedangkan ia lupa di mana terakhir kali ia menaruh kunci gembok pagar depan rumah juragannya itu. Akhirnya dengan nekad Mbok Supiyah bermaksud memanjat pintu pagar besi setinggi dua meter itu. Tentu saja di usianya yang sudah tua itu, ia tidak lagi selincah dirinya saat muda dulu. Ia langsung jatuh berdebum setelah terlebih dulu robek kain jariknya. Mbok Supiyah jatuh di halaman depan, bagian terluar dari rumah besar itu. Wanita tua itu langsung jatuh pingsan.
Bu Suparna datang tergopoh-gopoh. Ia datang terlambat. Mbok Supiyah sudah terlanjur jatuh dan pingsan. Bu Suparna baru menyadari bahwa pintu pagar depan masih dalam keadaan terkunci, lengkap dengan gemboknya. Para tetangga datang berkerumun menonton. Perasaan panik dan malu melanda hati Bu Suparna. Buru-buru ia masuk lagi ke dalam rumah. Ia bermaksud mencari kunci gembok. Cukup lama ia mencari, namun sang kunci belum juga ditemukan. Ia berteriak memanggil anak-anaknya. Seluruh anggota keluarga dikerahkan demi mencari kunci gembok pagar depan. Akhirnya putra bungsu Bu Suparna berhasil menemukan kunci gembok itu. Kunci itu terselip di antara majalah-majalah yang berserakan di atas meja di ruang tengah. Rupanya tadi malam Mbok Supiyah menaruh kunci itu di atas meja, diantara majalah-majalah yang berserakan. Pagi harinya ternyata ia lupa di mana terakhir kali ia menaruh kunci gembok pintu pagar depan, hingga akhirnya terjadilah kejadian yang menghebohkan itu.
Pingsannya Mbok Supiyah menimbulkan gosip yang cukup ramai di kalangan para tetangga. Beberapa bahkan berspekulasi bahwa Mbok Supiyah bermaksud melarikan diri dari penganiayaan juragan Suparna. Beberapa tetangga yang lain bahkan menuduh Mbok Supiyah bermaksud melarikan diri karena telah melakukan suatu kesalahan. Tak satu pun dugaan itu terbukti. Namun namanya gosip, ya tetap enak untuk dibicarakan. Alhasil, semakin banyak orang datang berkerumun di depan rumah juragan Suparna. Rudi, putra tertua keluarga Suparna bergegas membuka pintu pagar depan setelah Anton, adiknya berhasil menemukan kunci gembok pintu pagar itu. Pintu pagar pun terbuka, dan para tetangga ramai berceloteh dengan komentarnya masing-masing. Dasar cerewet ! Bukannya menolong Mbok Supiyah yang tertelungkup pingsan, justru mereka bisanya hanya menonton sambil menunjuk-nunjuk Mbok Supiyah. Ada yang tertawa, ada yang bergunjing, ada yang berbisik kasihan, ada yang berteriak marah menuduh keluarga Suparna berlaku kejam kepada pembantunya, dan ada yang hanya terdiam memandang Mbok Supiyah bagaikan seonggok tontonan.
Rudi, Marwan, dan Anton segera menghampiri Mbok Supiyah yang pingsan. Anton membawa minyak kayu putih, ia mengusap-usapkan sapu tangan yang sudah dituangi minyak kayu putih ke bagian hidung Mbok Supiyah supaya wanita tua itu terbangun dari pingsannya. Setelah beberapa saat, akhirnya wanita tua itu terbangun juga. Rudi dan Marwan segera menuntun Mbok Supiyah agar bisa bangun dan masuk ke dalam rumah kembali. Anton bertugas mengusir para tetangga usil yang bisanya hanya menonton tanpa berusaha menolong sedikit pun.
Rudi dan Marwan membawa Mbok Supiyah kembali ke kamar tidur pembantu tua itu. Mbok Supiyah dibiarkan tidur di tempat tidurnya. Bu Suparna datang ke kamar Mbok Supiyah sambil membawa parem kocok dan minyak tawon. Ia merasa khawatir dengan kondisi Mbok Supiyah yang hidup sebatang kara. Hanya keluarga Suparna satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Keluarga Suparna pun sudah menganggap Mbok Supiyah seperti layaknya anggota keluarga sendiri. Bu Suparna mengoleskan parem kocok dan minyak tawon ke seluruh tubuh Mbok Supiyah. Setidaknya itu akan mengurangi rasa linu dan sakit akibat terjatuh tadi. Mbok Supiyah hanya bisa meringis kesakitan setiap bagian tubuhnya diolesi oleh parem kocok dan minyak tawon. Anton menelepon tukang pijat urat yang sudah menjadi langganan keluarga mereka. Tukang pijat itu berjanji akan segera datang secepatnya.
Tak lama kemudian tukang pijat pun datang. Mak Siti namanya. Wanita setengah baya itu terkenal cukup piawai dalam bidangnya. Ahli pijat urut itu pun segera memijat dan membetulkan salah urat yang dialami oleh Mbok Supiyah. Mbok Supiyah mengerang kesakitan, namun Mak Siti dengan sabar berusaha menenangkan Mbok Supiyah yang mengaduh kesakitan. Akhirnya setelah kurang lebih satu setengah jam, Mak Siti telah selesai memijat dan membetulkan salah urat yang dialami oleh Mbok Supiyah. Tak lupa Mak Siti memberikan ramuan jamu berupa aneka macam akar dan rempah-rempah untuk direbus dan airnya diminumkan pada Mbok Supiyah.
Bu Suparna jadi repot merebuskan ramuan jamu itu. Setelah ramuan itu jadi, wanita itu pun segera mengantar segelas besar air rebusan jamu untuk diminumkan pada Mbok Supiyah. Ia pun membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya untuk sarapan pagi Mbok Supiyah. Mbok Supiyah mengucapkan terima kasih pada istri juragannya itu. Ia merasa sangat bersyukur telah bekerja di keluarga ini selama bertahun-tahun, karena mereka telah begitu baik mau menganggapnya seperti keluarga sendiri.


Tujuh hari telah berlalu. Mbok Supiyah sudah sehat kembali seperti sedia kala. Hari ini ia berencana untuk pergi ke pasar. Persediaan bahan makanan dalam kulkas sudah semakin menipis. Ia harus segera berbelanja paling tidak untuk kebutuhan selama seminggu ke depan. Mbok Supiyah sedang sibuk mengingat dan mencatat setiap jenis barang yang akan dibelinya, saat Bu Suparna datang dan menyerahkan sejumlah uang belanja. Wanita itu berkata pada Mbok Suparna untuk membeli tiga buah celana untuk anak-anak laki-lakinya di toko pakaian dekat pasar. Bu Suparna memberitahukan ukuran celana itu. Semuanya berukuran tiga puluh dua, karena ketiga anak laki-lakinya itu semuanya berpostur tinggi besar. Mbok Supiyah pun segera mencatat pesanan Bu Suparna itu. Ia pun segera bergegas berangkat ke pasar.
Dua jam sudah Mbok Supiyah pergi. Bu Suparna menunggu pembantunya itu yang tak kunjung muncul. Ia merasa khawatir, jangan-jangan terjadi apa-apa pada pembantu rumah tangga yang sudah berusia renta itu. Ah, semoga Tuhan selalu melindunginya, demikian bisik Bu Suparna pada dirinya sendiri. Namun rasa gelisah tak kunjung hilang dari hati dan pikirannya. Bu Suparna sedikit khawatir, jangan-jangan pembantunya itu lupa jalan menuju pulang ke rumah ini, dia kan sudah tua, kalau pikun bagaimana ? Tapi untunglah yang dinantikan telah kembali dengan selamat. Mbok Supiyah datang dengan diantar becak. Ia membawa sekeranjang besar belanjaan dan sebuah tas plastik. Bu Suparna segera menghampiri Mbok Supiyah untuk membantu membawakan barang belanjaannya. Syukurlah wanita tua ini sampai di rumah dengan selamat, tak terjadi suatu apa. Bu Suparna menghela napas lega. Ia bersyukur kepada Tuhan. Masih teringat olehnya kejadian seminggu yang lalu, saat Mbok Supiyah terjatuh saat mencoba memanjat pagar. Semoga tidak terjadi kejadian seperti itu lagi. Terkadang pembantu tua itu begitu eksentrik dengan ulahnya yang aneh-aneh. Maklumlah semakin tua biasanya orang selalu bertindak semakin aneh.
Bu Suparna membantu membongkar belanjaan yang dibawa oleh pembantunya itu. Ia memasukkan sebagian sayur mayur dan bahan makanan lain ke dalam kulkas besar yang ada di dapur. Mbok Supiyah pun turut memindahkan barang hasil belanjaannya ke dalam kulkas. Hari ini ia akan memasak sup ayam istimewa, lengkap dengan jamur kancing dan sayur mayur. Mbok Supiyah pun segera menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasaknya untuk menu makan hari ini. Ia pun sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Bu Suparna kembali ke ruang tengah, hendak menelepon sahabat-sahabatnya. Mereka berencana untuk pergi menengok salah seorang kawan yang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Lama juga ia berbicara di telepon. Saat selesai menelepon, tiba-tiba ia teringat akan celana panjang untuk anak-anaknya. Tadi ia menitipkan sejumlah uang pada Mbok Supiyah untuk dibelikan tiga buah celana panjang untuk anak-anaknya. Ketiga celana panjang itu berukuran tiga puluh dua. Bu Suparna pun segera menghampiri Mbok Supiyah untuk menanyakan tiga buah celana untuk anak-anaknya itu. Tak lama kemudian Mbok Supiyah segera menyerahkan sebuah tas plastik yang berisi bungkusan rapi berisi barang titipan istri juragannya itu. Bu Suparna pun segera membuka bungkusan itu. Kini ia terbelalak melihat apa yang ada dalam bungkusan itu. Isinya tak lain adalah tiga buah celana dalam berukuran tiga puluh dua, ukuran celana dalam yang sama sekali bakal tidak akan muat buat ketiga anak laki-lakinya yang bertubuh tinggi besar itu. Celana dalam itu begitu kecil, karena hanya berukuran tiga puluh dua.

Bookmark blog ini

BookmarkAddict.com

Musik

Video Sastra

Loading...

Pengunjung Blog ini

Gemini Man

Keriting Itu Banyak Akalnya
AddThis Social Bookmark Button