Ternyata kantor pengacara Subagio, Mintarja, Pratisto Sumarmo, dan Sudirja berpenampilan megah. Maklum, mereka bukan pengacara kelas kacangan.
Sumarmo menerima saya di ruang kerjanya. Ia sebaya dengan saya, berumur awal 60-an. Rambutnya mulai kelabu, sedangkan matanya tajam. Setelan jasnya rapi sekali dan mahal punya. Pokoknya, sosoknya berwibawa.
“Semalam, setelah menelpon Anda, saya menelpon putri saya, Alicia,” katanya. “Ketika didesak, ia mau juga mengaku bahwa penelepon gelap menghubunginya lagi, untuk mengulangi ancamannya. Namun, Alicia tetap tidak mau menceritakan secara rinci apa yang dikatakan penelepon itu.”
“Bagaimana keadaan putri Anda ?” tanya saya. Menurut dia baik-baik saja, tetapi saya tidak yakin. Dia . . .dia . . .’kan baru berumur 23 tahun.”
“Dia tidak sendirian ‘kan hari ini ?”
“Tidak. Salah seorang teman wanitanya menginap di apartemennya.”
Saya terdiam beberapa detik.
“Pak Sumarmo, Anda bersungguh-sungguh meminta jasa saya ? Kemarin sudah saya katakan lewat telepon, saya mungkin tidak bisa berbuat banyak dalam kasus seperti ini. Setiap tahun polisi dan kantor telepon mengusut ratusan pengaduan perihal penelepon gelap . . .”
“Siapa tahu . . .,” tukasnya.
“…bahkan mereka yang memiliki fasilitas, cuma bisa menangkap atau mengenali beberapa penelepon gelap saja. Lagi pula hampir tak seorang pun dari mereka benar-benar mewujudkan ancaman untuk mencemari wanita yang mereka telepon. Umumnya cuma berani mengancam, tetapi tidak berani berbuat. Kebanyakan takut kepada wanita atau orang sinting. Mereka asal memilih nama dari buku telepon atau iseng-iseng bertanya pada 108.”
“Saya tahu. Polisi pun berkata begitu ketika saya lapori dua hari yang lalu. Namun, pria yang terus menerus menteror Alicia bukan asal memilih nama. Saya kira ia kenal dengan putri saya dan Alicia pun mengenalnya. Saya yakin.”
Saya berniat membuka mulut, tetapi Sumarmo mencegah dengan mengangkat tangannya.
“Saya yakin perlu meminta jasa detektif atau paling tidak seseorang yang bekerja sebagai konsultan keamanan,” katanya pula.
“Orang itu menelepon Alicia tadi malam, padahal nomor teleponnya sudah saya ganti kemarin siang. Nomor itu tidak tercantum di buku telepon !”
“Oh !”
“Mungkinkah orang iseng bisa menemukan nomor telepon yang tidak terdaftar hanya dalam waktu kurang dari 12 jam ?”
“Rasanya memang tidak. Kecuali kalau ia bekerja di kantor telepon atau mempunyai teman yang bekerja di kantor telepon.”
“Rasanya bukan demikian,” sahut Sumarmo. “Saya yakin orang itu kenal baik dengan Alicia. Ia mendapat nomor itu dari Alicia atau dari salah seorang teman baik Alicia.”
“Barangkali Anda mempunyai dugaan, siapa orangnya ?”
“Tidak !”
“Apa kata putri Anda ?”
“Ia bersikeras, pasti orang itu bukan kenalannya.”
“Apakah Anda diberi tahu putri Anda, siapa saja yang ia beri nomor telepon barunya ?”
“Tidak. Ia tidak mau memberi tahu.”
“Mengapa ?”
“Sumarmo tersenyum kecut.
“Hubungan kami agak renggang beberapa bulan ini. Sejak ia bertunangan dengan Dirga Subrata.”
“Anda tidak merestui hubungan mereka ?”
“Memang. Tentu saja Alicia memberontak ketika saya menyatakan pendapat saya.”
“Barangkali ada hal tertentu yang menyebabkan Anda tidak menyukai Dirga ?”
“Saya pikir, ia tidak akan bisa membahagiakan putri saya. Lagi pula Alicia masih terlalu muda untuk menikah.”
Kemudian Sumarmo berdehem.
“Hubungan seorang ayah dengan putrinya kadang-kadang bisa sulit. Apalagi kalau si ayah merupakan orang tua satu-satunya. Saya bercerai ketika Alicia berumur setahun. Sejak itu baik Alicia maupun saya tidak pernah bertemu lagi dengan bekas istri saya.”
Karena tidak menikah lagi maupun tidak menjadi ayah yang baik, saya merasa tidak berwenang memberikan komentar. Sementara itu Sumarmo mengawasi saya sejenak.
“Jadi Anda menerima tawaran saya untuk mengusut kasus ini ?”
“Baik, Pak. Cuma saja, saya harap Anda maklum. Kemungkinan berhasil sangat terbatas. Saya cuma bisa berusaha sekuat tenaga.”
“Memang itu yang saya minta. Anda ingin segera menemui Alicia ?”
“Ya !”
Alicia Sumarmo tinggal di salah sebuah apartemen di Jalan Rasuna Said, dekat kampus Jakarta International College, sejak ia menjadi mahasiswi dua tahun yang lalu. Tadinya ia tinggal di rumah ayahnya di daerah Pantai Marina. Ketika Alicia ketahuan diganggu penelepon gelap, ayahnya membujuknya agar mau kembali ke Pantai Marina, tetapi Alicia bersikeras menolak.
Penelepon gelap mulai mengganggu Alicia dua minggu yang lalu. Pada minggu pertama, Alicia ditelepon tiga kali. Setelah itu hampir setiap hari ia diganggu. Ayahnya baru menengok tiga hari yang lalu, gara-gara Alicia tampak resah dalam sebuah perjamuan keluarga. Setelah didesak-desak, Alicia akhirnya mengaku bahwa ia mendapat gangguan dari seseorang yang mengancamnya lewat telepon. Namun, Alicia menolak menceritakan apa isi ancamannya. Cuma, katanya, suara pria penelepon itu menakutkan dan kata-katanya tidak sopan, mengumbar kata-kata yang tidak senonoh. Begitulah keterangan yang saya peroleh dari Pratisto.
Saya memarkir mobil di Pasar Festival, tak jauh dari tempat tinggal Alicia. Apartemen gadis itu berada di tingkat III. Saya memperkenalkan diri di interkom yang terletak di atas kotak suratnya di lantai dasar. Ia segera memijat tombol yang memungkinkan saya masuk ke lift. Di apartemen C-4 itu saya berhadapan dengan seorang gadis semampai yang anggun. Wajahnya pasti menarik para jurut potret dan pelukis. Rambutnya panjang, lebat, lurus dan berwarna coklat. Matanya coklat keemasan dan bulu matanya yang panjang lentik itu asli. Sinar matanya menunjukkan bahwa sebenarnya ia sama khawatirnya dengan ayahnya. Cuma saja ia berusaha menyembunyikannya.
Alicia meminta maaf karena di ruang tamunya yang kecil dan penuh perabot itu berserakan buku dan kertas.
“Anda tidak sendirian ‘kan Nona Sumarmo ? Kata ayah Anda, Anda ditemani seseorang.”
“Ya. Santi Prawiroadmotjo, teman kuliah saya. Tapi ia ada kuliah pukul 10.00.”
“Ia segera akan kembali ke sini, ‘kan ?”
“Ya. Tapi saya tidak takut sendirian, kok !” jawabnya.
Lalu Alicia berkata bahwa ayahnya terlalu berlebihan, sampai menyewa detektif segala. Ia menduga peneleponnya orang sinting.
Menurut Alicia, ia tidak mengenal suara peneleponnya. Mungkin suara remaja pria, karena nada suaranya tinggi dan sedikit parau. Alicia sependapat dengan saya bahwa penelepon itu sengaja mengubah suaranya.
Kepada saya pun Alicia menolak menceritakan bunyi ancaman yang diterimanya. Pokoknya, kata-katanya condong mengarah pada pelecehan seks, kata-kata jorok yang nadanya bisa mendirikan bulu roma. Alicia ingin sekali teror ini segera berakhir.
“Kepada siapa saja Anda berikan nomor telepon baru Anda?” tanya saya.
“Cuma ayah saya, Santi, Dirga, dan Arman Sujatmiko . . .”
“Tunggu ! Satu-satu ! Siapa Dirga ?”
“Dirga Subrata, tunangan saya. Kami akan menikah bulan Juni.”
“Selamat ! Anda sudah lama mengenalnya ?”
“Kami pertama bertemu tiga bulan yang lalu, waktu ia masih berpacaran dengan Santi. Entah mengapa hubungan mereka putus. Setelah saya berpacaran dengan Dirga, barulah saya bersahabat dengan Santi.”
Dirga mahasiswa Universitas Tunggul Ametung, tetapi tidak tinggal di Jalan Diponegoro, melainkan di Cikini.
“Tadi Anda menyebut Arman Sujatmiko. Siapa dia ?”
“Teman Dirga.”
Arman Sujatmiko ternyata pembantu tukang leding. Ia tetangga Dirga. Mereka bersahabat gara-gara keduanya sama-sama gila olahraga.
“Mengapa Anda memberi nomor telepon Anda kepada Sujatmiko ?” tanya saya.
“Karena ia sahabat Dirga.”
“Ia memintanya ?”
“Tidak. Semalam ia dan Dirga singgah untuk mengajak saya menghadiri pesta kemenangan Batavia United, tetapi saya masih belum selesai ujian. Ketika itulah saya memberi nomor telepon kepada Dirga. Karena Sujatmiko hadir, saya memberinya juga.”
Saya mencatat alamat rumah dan tempat kerja Sujatmiko.
Menurut Alicia, selain mereka, tidak ada orang lain yang tahu nomor telepon barunya.
“Apakah Anda kedatangan tamu yang melihat nomor di pesawat telepon Anda ?”
“Tidak. Tidak ada tamu. Eh, …ada ! Kemarin Niko Pawestri datang pada saat petugas telepon berada di sini. Tapi cuma sebentar. Saya rasa sih tidak mungkin dia melihat nomor telepon saya.”
“Pawestri itu teman Anda ?’
“Ya. Kenalan. Ia asisten dosen di jurusan sejarah dan tinggal di tingkat 5-E.”
“Untuk apa ia datang ?”
“Meminjam buku puisi zaman Renaisance.”
“Ia pernah naksir Anda ?”
Alicia tertawa.
“Niko ? Dia sih cuma berminat pada buku tua dan sejarah !”
“Anda pernah melihat petugas kantor telepon yang kemarin kemari ?”
“Tidak. Tidak pernah.”
“Anda kenal seseorang yang bekerja di kantor telepon ?”
“Tidak. Anda menduga …”
Bel berbunyi. Alicia melirik arlojinya.
“Mungkin Santi. Katanya, ia akan segera kembali begitu selesai ujian.”
Memang benar Santi.
“Pukul berapa sih sekarang ?” begitu kedengaran suaranya ketika pintu dibukakan oleh Alicia.
“Sialan ! Arlojiku mati lagi !” sambungnya.
“Pukul 12.55. Kau tidak perlu ke universitas lagi ‘kan hari ini ?” tanya Alicia.
“Tidak. Aku ingin menonton sinetron di TV. Ujian ternyata lebih lama dari yang kuduga.”
Saat itu keduanya masuk ke ruang duduk.
“Oh ! Anda pasti detektif yang disewa ayah Alicia, “ kata gadis berambut pendek dicat pirang yang sebaya dengan Alicia itu. Ia permisi mengambil Coca Cola ke dapur sementara saya melanjutkan wawancara dengan Alicia.
“Selain Anda, siapa lagi yang memiliki kunci apartemen ini ?”
“Tidak ada.”
“Tunangan Anda ?”
Wajah Alicia berubah merah. Menarik juga melihat ada gadis masih bisa tersipu-sipu di zaman serba boleh ini.
“Tidak !” jawabnya. “Hubungan Dirga dan saya bukan jenis demikian.”
Ketika Santi yang kurus itu muncul sambil menghirup Coca-Cola dari kaleng, saya bertanya kepada teman Alicia itu.
“Apakah Anda memberi nomor telepon Alicia kepada orang lain ?”
“Tidak ! Tentu saja tidak !”
“Apakah Anda menceritakan kepada orang lain bahwa Alicia mempunyai nomor telepon baru ?”
“Tidak.”
“Apakah Anda pernah melepon pada saat Anda bersama orang lain ?”
“Tidak. Saya ‘kan di sini terus sejak . . .”
Saat itu telepon berdering. Alicia menggigit bibirnya. Saya bersikap waspada. Santi tidak jadi mereguk Coca-Colanya.
“Mungkin Dirga. Atau ayah, “ kata Alicia sambil beranjak ke telepon. Saya membuntutinya. Setelah ragu-ragu sejenak, Alicia mengangkat gagang telepon.
“Halo.”
Setelah itu wajahnya pucat. Saya menyambar gagang telepon, tetapi yang saya dengar cuma desiran dan bunyi “klik”, disusul bunyi sambungan lenyap.
“Dia ?” tanya Santi setengah berbisik. Alicia mengangguk.
“Apa dia bilang ?”
Alicia menggelengkan kepala. Rasa takut membuat matanya tampak lebih besar.
“Alicia, apa dia bilang ?”
“Dia bilang …” kata-katanya seperti menyangkut di leher. Baru beberapa detik kemudian bisa keluar.
“Dia bilang, dia akan membunuh saya.”
Kata Alicia, pria itu berkata, “Kalau aku tidak bisa memperolehmu, orang lain pun tidak.”
Saya tinggal beberapa menit lagi di apartemen itu, sebelum meninggalkan Alicia dengan Santi Prawiroadmotjo.
Ancaman itu mungkin saja sekedar omong kosong, tetapi bisa juga si pengancam itu cukup gila untuk melaksanakannya. Adalah tugas saya untuk menganggapnya serius.
Saya tidak bisa segera menghubungi Pratisto Sumarmo, sebab ia sudah memberi tahu bahwa sepanjang siang itu akan berada di ruang sidang pengadilan. Jadi saya pun naik ke tingkat V untuk mengetuk apartemen 5-E.
“Sebentar,” sahut Pawestri. Kedengaran kunci dibuka, kemudian pintu menganga sedikit, tetapi rantainya tetap tercantel.
“Perlihatkan dulu kartu identitas Anda,” katanya.
Setelah puas mengamati fotokopi kartu identitas dan mengamati saya juga, barulah ia membuka cantelan rantai.
“Mesti hati-hati. Soalnya, sudah beberapa kali ada maling masuk ke gedung ini. Saya ‘kan punya sejumlah buku berharga,” katanya.
Pawestri berumur 25-an. Tubuhnya tambun dan rambutnya keriting. Matanya yang coklat itu mengintip dari balik kacamatanya yang bundar kuno. Penampilannya mencerminkan ia kutu buku.
Apartemennya sama dengan apartemen Alicia, cuma jendelanya menghadap ke taman kota dan Lapangan Golf Diamond Park. Perabotnya sederhana dan tanpa imajinasi, tetapi rapi. Dua dinding ruang duduknya ditutupi rak berisi buku. Kebanyakan novel zaman Renaisance yang konon diperolehnya dari lelang buku-buku di Amerika.
Ketika saya perhatikan, ternyata novel-novel itu bukan cuma tua, tetapi juga . . . porno !
“Mestinya Anda cukup berada, sampai bisa membeli buku kuno di Amerika,” kata saya.
“Ah, tidak, “ katanya. “Saya mendapat warisan kecil dari ayah saya tujuh tahun yang lalu. Lumayanlah untuk mengongkosi sekolah, pergi ke Amerika, dan membeli buku,” jawabnya.
Orang ini jauh dari menarik. Ia sangat berminat pada buku-buku porno. Sementara itu Alicia gadis yang sangat menarik. Siapa tahu minat Pawestri terhadap buku-buku porno bukan semata-mata karena alasan akademis. Lagi pula ceritanya tentang buku memberi kesan bahwa ia jenis orang yang obsesif. Bayangkan, ke Amerika pun dikejar !
“Alicia ditelepon lagi, ya ?” tanyanya.
“Dua kali. Sekali semalam. Sekali lagi pagi ini. Yang terakhir tidak porno, tapi mengancam akan membunuh.”
Pawestri kelihatan kaget.
“Jadi Anda paham mengapa saya harus menemukan si penelepon secepat mungkin ?”
“Paham. Tapi apa yang bisa saya lakukan untuk membantu Anda ?”
“Tolong Anda jawab pertanyaan-pertanyaan saya.”
Kemarin, katanya, ketika ia singgah ke tempat Alicia, di sana memang sedang ada petugas telepon. Ia tidak melihat nomor telepon baru Alicia, tetapi ia bisa menduga apa yang kira-kira sedang dikerjakan petugas itu.
Pawestri pernah bertemu dengan tunangan Alicia. Ia tidak suka kepada Dirga Subrata, sebab orangnya sok, cuma memikirkan kepentingannya sendiri dan tidak pandai. Yang dibualkan cuma olahraga dan bir. Padahal Alicia cerdas dan belajar dengan serius. Pawestri heran mengapa Alicia memilih Dirga untuk menjadi tunangannya. Pawestri tidak kenal pada Arman Sujatmiko.
“Mengapa Anda begitu memperhatikan orang-orang yang dikenal oleh Alicia ?” tanya Pawestri. “Anda menduga penelepon itu salah seorang temannya ?”
“Kemungkinan besar demikian. Orang-orang yang diberitahu nomor telepon barunya cuma teman-temannya. Saat ini sudah dua kali ia ditelepon, padahal telepon baru dipasang kemarin siang.”
“Oh !” kata Pawestri. Ia menghela napas. “Kasihan Alicia. Tentu ia sangat tegang.”
“Seorang teman wanita mendampinginya saat ini.”
“Siapa ?”
“Santi Prawiroadmotjo.”
“Oh, si Wanita Komputer ! Saya tidak suka komputer karena dingin, tidak manusiawi,” komentar Manusia Sejarah itu. “Saya lebih suka masa lalu, dengan segala kekurangannya. Masa yang akan datang yang serba mesin menakutkan bagi saya.”
Saya memberinya kartu nama saya, lalu meninggalkannya.
Saat ini rasanya cuma ada tiga orang yang pantas dicurigai : Pawestri, Dirga, dan Sujatmiko. Untuk mengetahui apakah ada orang lain lagi, saya harus mencari Dirga dan Sujatmiko dulu.
Wanita itu mengeluh. Katanya, Dirga sering mengadakan pesta liar yang hingar bingar di apartemennya. Dirga dan para tamunya minum-minum sampai subuh. Gadis yang dibawanya menginap pun berganti-ganti terus.
Wanita itu dan suaminya tidak suka kepada Dirga, karena keluhan mereka selalu diabaikan.
Mengapa Alicia tidak memberitahu tunangannya akan pindah ? pikir saya. Apakah ia sengaja tidak mau memberitahu, ataukah ia memang tidak tahu ? Apakah Alicia tahu tunangannya kerap mengadakan pesta-pesta liar dan mengajak para wanita menginap ? Mungkin Arman Sujatmiko bisa mengungkapkannya.
Saya mendatangi apartemen Arman Sujatmiko. Nama yang tertera di situ bukan namanya, tapi nama seorang wanita, Linda Hapsari. Keadaan apartemen itu lebih buruk lagi daripada apartemen Dirga. Tidak ada orang di apartemen itu. Pada saat saya akan meninggalkannya, muncullah seorang pria muda bertubuh kekar seperti pemain rugby. Rambutnya hitam, tergerai ke bahu, dan kumisnya yang lebat bersambung dengan cambangnya. Pria itu mengenakan pakaian kerja tukang leding. Ia Arman Sujatmiko, yang baru pulang kerja.
Dengan mata galak ia memandang saya. Sinar matanya tidak banyak berubah, ketika saya memperlihatkan fotokopi kartu identitas saya.
“Siapa yang menyewa Anda ? Ayah Alicia ?” tanyanya.
“Ya.”
“Pantas ! Orang mapan memang suka berlebihan. ‘Kan bukan anaknya sendiri saja yang pernah ditelepon yang jorok-jorok. Apa anehnya ! Di Jakarta kan banyak manusia sinting !”
“Tapi tidak banyak yang jiwanya diancam.”
“Memang pria itu mengancam akan membunuh ?”
“Ya, pagi ini.”
“Astaga ! Menurut Anda, dia serius ?”
Arman Sujatmiko berubah galak, ketika diberitahu bahwa orang yang mendapat nomor telepon baru Alicia cuma ayah Alicia, Dirga Subrata, dan dia.
“Anda menuduh saya, ya ?” katanya.
“Siapa menuduh Anda ? Saya datang ke sini untuk bertanya.”
“Bertanya apa ?”
“Anda memberi nomor telepon Alicia kepada orang lain ?”
Sujatmiko mengaku tidak memberikannya kepada siapa-siapa, bahkan juga kepada Linda Hapsari, wanita yang hidup bersamanya. Sujatmiko tidak tahu apakah Dirga memberikan nomor telepon Alicia kepada orang lain.
“Tanya saja kepadanya !” katanya.
“Ia tidak ada di apartemennya.”
Akhirnya, setelah digertak, mau juga Sujatmiko memberi tahu tempat-tempat yang sering dikunjungi Dirga Subrata. Dirga, katanya, biasa ada di rumah minum Imperium sekitar pukul 17.00. Kemungkinan ia juga masih akan kembali ke apartemennya atau menginap di kapal pribadinya, Ocean Cruise.
Menurut Sujatmiko, Dirga Subrata akan segera pindah ke Singapura, karena pada semester yang lalu ia drop-out dari Universitas Tunggul Ametung. Ia akan berangkat bersama seorang temannya, membawa kapal Ocean Cruise ke Singapura. Entah Alicia sudah tahu atau belum.
“Dia ‘kan akan menikah dengan Alicia,” kata saya.
Sujatmiko tertawa.
“Dia bukan jenis pria yang berniat menikah. Alicia ‘kan gadis cantik yang agak membosankan, karena gagasannya kuno. Mana mau dia tidur dengan Dirga kalau tidak dijanjikan akan dinikahi !”
Leher saya serasa tercekik oleh amarah. Kurang ajar Dirga Subrata ! Rupanya janjinya kepada Alicia cuma sekedar gombal. Setelah merasa cukup mengisap madu seorang gadis baik-baik, dengan seenaknya saja ia akan pergi meninggalkan korbannya. Saya tidak heran kalau makhluk seperti itu bisa menjadi penelepon gelap !
Saya mencari Dirga di Imperium. Dia tidak ada. Menurut bartender, Dirga belum datang. Katanya, Dirga minum bir seperti minum air. Bahkan cereal-nya untuk sarapan pun bukan disiram dengan susu, melainkan dengan bir.
Saat itu pukul 17.00. Saya meninggalkan Imperium sebentar untuk menelepon Pratisto Sumarmo. Saya laporkan semua yang saya ketahui, termasuk bahwa Dirga Subrata sering mengadakan pesta liar dan mengajak pelbagai wanita menginap. Namun, saya tidak memberi tahu alasan Dirga Subrata untuk bertunangan dengan Alicia. Kehidupan seks Alicia adalah urusannya sendiri.
Pratisto Sumarmo marah sekali mendengar tingkah laku Dirga Subrata. Sekarang juga ia akan berangkat memberitahu Alicia. Saya memberitahu bahwa saya akan mencari Dirga. Pria itu memberi saya nomor telepon rumahnya, supaya bisa menghubungi dia setiap saat.
Sampai pukul 18.30 Dirga tidak muncul di Imperium. Jadi saya kembali ke apartemennya di daerah Kuningan. Jendelanya di tingkat III terang. Sementara itu di tempat parkir ada mobil Mercedes yang sudah butut. Seorang pria muda bertubuh atletis sedang memuat barang ke bagasi mobil itu.
Dirga segera tahu bahwa saya detektif yang disewa ayah Alicia, karena Sujatmiko sudah meneleponnya. Berlainan dengan Sujatmiko, ia tidak bersikap bermusuhan. Ia memberi kesan sebagai orang yang lurus hati. Wajahnya tampan dan tubuhnya yang atletis itu mirip remaja. Rambutnya panjang dan dicat pirang. Kumisnya pun dicat pirang. Pantas saja banyak wanita yang jatuh hati ! Padahal hatinya busuk !
“Di mana Anda pukul 13.00 siang ini ?” tanya saya.
“Pada saat Alicia menerima telepon gelap, ya ?”
“Di mana Anda ?”
“Bukan saya yang menelepon. Alicia gadis yang istimewa buat saya. Menyakitkan dia adalah hal yang paling tidak saya inginkan di dunia ini. Mengapa Anda merecoki saya, bukan mencari penelepon itu ?”
Saya maju selangkah.
“Jawab pertanyaanku, Dirga. Di mana kau pukul 13.00 ini ?
Ia tidak menjawab, cuma menggabrukkan pintu bagasi dan menjauhi saya. Ketika ia masuk ke mobilnya, saya bergegas menghampiri, tetapi terlambat. Ia keburu menghidupkan mesin dan kabur.
Saya menjemput mobil saya di tempat parkir, lalu pulang. Soalnya, percuma saja saya menyusul ke tempat kapal-kapal ditambat. Saya tidak akan bisa masuk tanpa kunci dan tanpa ada yang membukakan pintu.
Malam itu saya menelepon Pratisto Sumarmo untuk memberi laporan terakhir.
Alicia tidak mau mempercayai keterangan negatif tentang tunangannya. Ia yakin Dirga mencintainya. Pagi ini, ketika Sumarmo menelepon lagi, putrinya tetap pada pendapatnya.
Sumarmo berpesan, agar saya menyampaikan ancamannya kepada Dirga. Kalau Dirga berani mendekati putrinya lagi, Sumarmo akan membunuhnya !
Mendengar ancaman Sumarmo, saya meninggalkan sarapan untuk memacu mobil saya ke tempat Ocean Cruise ditambat di Pantai Marina.
Ketika berkeliling mencari tempat parkir, saya melihat Mercedes tersembunyi di balik traktor. Sulit juga mencari Ocean Cruise di tempat sebesar itu. Untung saya bertemu dengan seorang pria berperawakan petinju, yang memberi tahu tempat kapal itu ditambatkan. Katanya, Dirga tidak tampak sejak pagi.
Kapal fiberglass sepanjang 10 m itu sepi saja. Geladak dan kokpitnya kosong. Saya melompat naik dan menuju ke sebuah ruangan di bawah yang diterangi lampu.
“Dirga !” panggil saya. Tetapi sunyi. Akhirnya saya tiba di dapur yang memperlihatkan sisa-sisa hamburger McDonald dan botol-botol bir kosong serta kaleng-kaleng bekas minuman ringan. Saat itu saya merasa bulu kuduk saya merinding. Saya mempunyai firasat ada sesuatu yang tidak beres.
Dengan hati-hati saya singkapkan tirai ke ruang sebelah. Di sana menggeletak Dirga dengan sebelah kaki menggantung ke geladak. Pelipis kirinya berlubang. Lubang itu hitam oleh darah kering. Sebelah tangannya memegang pistol otomatis Smith & Wesson kaliber 38. Namun, saya yakin ia tidak bunuh diri. Ada yang membunuhnya !
Mesin . . . Tiba-tiba saja otak saya bekerja, menghubung-hubungkan segala macam informasi yang saya peroleh selama ini.
Lima belas menit kemudian, saya memperoleh gambaran lengkap. Saya yakin tahu siapa pembunuh Dirga . Saya pun tahu siapa penelepon yang mengganggu Alicia. Saya merasa khawatir.
Sebenarnya paling baik kalau saya melapor ke polisi, tetapi saya tidak mempunyai bukti. Selain itu saya tidak mempunyai waktu lagi untuk menghubungi teman saya di kepolisian. Saya harus bergegas menyelamatkan Alicia. Jangan-jangan saya sudah terlambat.
Saya ngebut ke apartemen Alicia. Walau berulang-ulang menekan bel di dekat plat namanya yang menempel di dinding keramik, panggilan saya tidak dijawab. Saya menjadi panik. Lalu saya teringat pada Niko Pawestri. Saya tekan tombol 5-E. Pawestri menjawab. Setelah saya memperkenalkan diri, ia membiarkan saya masuk.
Untuk menghemat waktu, saya berlari menaiki tangga ke tingkat III. Rasanya dada saya hampir pecah ketika tiba di depan pintu apartemen C-4. Pintunya terkunci. Percuma saja saya memanggil-manggil dan menggedor-gedor pintu.
Akhirnya ada wanita tetangga Alicia menjengukkan kepala dengan wajah khawatir. Untuk menghemat waktu, saya mengaku bahwa saya polisi. Apakah ia melihat Alicia hari ini ?
“Tidak,” jawabnya.
Pada saat saya mencari penjaga apartemen, Pawestri muncul. Ia sudah menduga saya pergi ke apartemen Alicia.
Ketika saya bertanya apakah ia bertemu Alicia pagi ini, ia menjawab bahwa tadi pagi ia berpapasan dengan Alicia di lobi. Alicia kelihatan sangat risau. Saat itu Alicia bersama Santi Prawiroadmotjo. Mereka berniat meninggalkan gedung sambil membawa koper. Mereka tidak memberi tahu akan ke mana.
“Di mana Santi Prawiroadmotjo tinggal ?” tanya saya.
Pawestri cuma tahu Wanita Komputer itu tinggal di daerah Cikini. Tanpa mempedulikan Pawestri lagi, saya berlari turun. Santi adalah pembunuh Dirga dan penelepon gelap itu !
Di bilik telepon umum, pada buku telepon saya temukan nama Santi. Alamatnya di Apartemen Megaria. Itulah satu-satunya Santi yang bertempat tinggal di Cikini.
Lima belas menit kemudian saya tiba di depan apartemen itu. Di halamannya yang dipenuhi tanaman segar, saya melihat ada mobil. Telapak tangan saya berkeringat ketika tidak ada orang keluar setelah bel pintu ditekan. Waktu saya akan memijat bel lagi, pintu dibuka oleh Santi. Saya menghajar pintu dengan bahu sampai terpentang dan wanita itu pun terpental. Kemudian pintu saya tutup kembali.
“Mana Alicia ?” tanya saya.
“Di kamar,” jawab Santi dengan wajah dan suara datar saja.
Alicia Sumarmo terbaring di ranjang. Ia bergerak sedikit ketika saya memeriksa denyut nadinya yang ternyata jelas terasa. Alicia masih hidup ! Tapi wajahnya sembab dan bibirnya yang kering itu pecah-pecah.
“Apa yang kau berikan kepada Alicia ?” tanya saya kepada Santi.
“Obat tidur,” jawab gadis kurus itu acuh tak acuh, diselingi menghirup Coca-Cola dari kaleng.
“Berapa banyak ?”
“Paling-paling tiga. Dia sangat sedih, karena . . .Dirga tewas.”
“Dari mana dia tahu ? Kau memberitahu ?”
“Bukan. Ayahnya menelepon. Ayahnya ingin membawa Alicia pergi, tapi dia tidak mau. Dia minta menginap di sini. Dari mana Anda tahu soal . . .”
Saya tidak segera menjawab. Di sebuah sudut ruang duduk terdapat pelbagai peralatan elektronik : radio, video, dvd, cassette-recorder, komputer, dan macam-macam lagi. Sebuah mesin penjawab dikaitkan ke telepon.
“Kemarin,” jawab saya, “ketika Alicia menerima ancaman dari telepon, kita bertiga ada di apartemennya. Waktu saya mengambil gagang telepon dari Alicia, saya mendengar desiran dan bunyi ‘klik’ sebelum hubungan putus. Bunyi ‘klik’ selalu terdengar kalau seseorang memutuskan hubungan telepon, tetapi desiran hanya ada kalau kita mempergunakan mesin. Saya baru sadar tadi pagi, ketika memeriksa mesin penjawab telepon saya.”
Santi cuek saja sambil menghirup Coca-Colanya.
“Ada mesin lain yang menghasilkan bunyi desiran dan ‘klik’, yaitu mesin untuk menyampaikan pesan seperti cassette-recorder milikmu itu. Kau ahli elektronik, Santi. Kau merekam pesan di kaset dan menghubungkan rekaman ke telepon dan ke komputer. Lalu kau memprogram komputer supaya menelepon pada saat detektif yang disewa ayah Alicia ada di apartemen Alicia dan kau juga hadir di sana. Maksudmu, agar kau tidak dicurigai sebagai si penelepon gelap. Atau mungkin kau ingin melihat wajah Alicia pada saat kau mengancam akan membunuhnya ?”
“Saya tidak berniat membunuhnya. Saya cuma ingin menyakiti dia, lebih daripada ia menyakiti saya dengan merebut Dirga dari saya. Saya mencintai Dirga dan Dirga pun dulu mencintai saya. Kami akan menikah. Lalu Alicia mengambilnya. Saya ingin Dirga kembali, tetapi ia tidak mau. Ia malah selalu menjemput Alicia ke universitas. Saya benci Alicia.”
“Mengapa kau berpura-pura menjadi pria dan berkata yang jorok-jorok di telepon ?”
“Karena Alicia bilang dia takut dan benci kepada pria yang berbicara begitu.”
Ancaman itu masih ada di kaset, belum dihapus.
Dirga membawa Big Mac dan kentang goreng, tetapi ia tidak ditawari. Pemuda itu makan sendiri dan minum bir. Santi sampai mesti membeli Coca-Cola di mesin otomat. Sesudah tidur bersama, Santi minta diperkenankan ikut ke Singapura. Dirga Subrata menolak betapapun Santi memohon-mohon. Dirga malah menertawakannya. Santi, Alicia, dan para wanita lain sama saja baginya, kata Dirga Subrata. Karena merasa dipermalukan, Santi mengambil pistol penembak yang ada di kapal itu dan menembak kepala Dirga .
“Kini saya tidak ingin menyakiti Alicia lagi,” katanya.
“Apakah Anda akan memanggil polisi sekarang ?”
“Ya,” jawab saya dengan berat hati.
“Silahkan.”










































