Rabu, 01 Agustus 2007

Kejutan

Namaku Ranti, gadis perawan tua yang sudah berumur tiga puluh tahunan. Aku tidak tahu kesialan apa yang menimpaku hari ini. Pak Brian seharian memarahiku karena aku memecahkan coffee pot saat pengunjung kafe ini sedang ramai-ramainya. Padahal coffee pot itu seharga satu bulan gajiku. Jadi bisa dibayangkan berapa kali aku harus mencicil dari gajiku untuk menggantinya. Sebetulnya tragedi pecahnya coffee pot itu bukan sepenuhnya kesalahanku. Mungkin memang sudah waktunya coffee pot itu untuk diganti dan dibelikan yang baru. Sialnya, kok kebetulan aku yang ketiban sial bertugas membuat kopi pagi itu, dan entah setan dari mana yang menyebabkan coffee pot itu tiba-tiba pecah saat air panas diseduhkan ke dalam poci kopi itu. Dasar sial ! Tapi seperti semua orang Indonesia yang selalu mempunyai ilmu ikhlas, aku pun akhirnya merelakan gajiku dipotong selama empat bulan lamanya untuk mencicil penggantian coffee pot itu dengan yang baru. Mungkin sudah nasibku, selalu memperoleh ketidakberuntungan dalam hidup ini. Tapi seperti kata orang tua-tua dulu, yang lalu biarlah berlalu. Aku pun mencoba untuk tidak memikirkan kejadian itu lagi.
“Ranti, tolong dong anterin kopi dan croissant ini ke meja nomor delapan,” terdengar suara Lili meminta tolong.
“OK,” jawabku singkat.
Aku pun segera menuju meja nomor delapan sambil membawa nampan yang berisi pesanan pengunjung yang sekarang duduk di meja nomor delapan itu.
“Ini Pak, pesanannya,” kataku pada pria bertubuh tinggi besar itu.
“Ranti, kaukah itu ?” kata pria yang duduk di meja nomor delapan itu sambil menurunkan koran yang dibacanya.
“Jonas, sedang apa kamu di sini ?” tanyaku yang tanpa sadar telah menanyakan pertanyaan tolol itu. Tentu saja ia di sini untuk makan kue dan minum kopi, goblok, jawabku pada diriku sendiri.
“Kebetulan aku sedang ada perlu di daerah perkantoran dekat-dekat sini, tapi kelihatannya aku datang terlalu awal. Jadinya, daripada bengong mending nongkrong di sini sambil minum kopi,” jawab pria bernama Jonas yang selama beberapa tahun lalu sempat mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan. Kejadian itu sudah lama berlalu. Kami sempat berpacaran saat aku dan Jonas masih duduk di bangku kuliah. Kini kami sama-sama sudah lulus kuliah, namun nasiblah yang membedakan kehidupan kami. Jonas yang anak seorang pengusaha kaya, tentu saja meneruskan mengelola perusahaan milik orang tuanya. Sedangkan aku, Ranti, seorang gadis yang berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan hanya bisa memperoleh pekerjaan sebagai seorang waitress di sebuah kafe ternama di kota ini. Mencari pekerjaan saat ini demikian sulit, dan akhirnya ijazahku tidak begitu banyak menolong saat aku demikian membutuhkan pekerjaan. Akhirnya pekerjaan apa pun asalkan halal aku jalani. Maka terdamparlah aku di sini sebagai seorang waitress alias pelayan kafe. Ironis memang. Namun itulah hidup.
Jonas memandangku selama beberapa saat, melihatku mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Setelah beberapa lama ia pun berkomentar sambil terus menatapku.
“Kamu tetap cantik seperti dulu, seperti saat pertama kali kita bertemu.”
Aku hanya terdiam, sambil tersenyum masam. Teringat olehku perpisahan kami beberapa tahun yang lalu. Aku memutuskan hubunganku dengan Jonas karena aku merasa minder dan selalu berseberangan saat kami dihadapkan pada realita bahwa ia anak orang kaya dengan gaya hidup borjuis, sementara aku hanyalah gadis sederhana yang kemana-mana selalu berhemat. Memang semua itu salahku, karena aku dulu telah memutus tali cinta di antara kami, padahal Jonas begitu mencintaiku.
“Lho, kok ngelamun ?” tanya Jonas mengagetkanku, mengembalikan kesadaranku ke alam nyata.
“Ah, enggak,” jawabku berbohong.
“Ngomong-ngomong, kamu tetap tinggal di alamatmu yang dulu ?” tanya Jonas lagi.
“Ya, tetap dengan alamat yang dulu.”
“Boleh aku sekali-kali mampir ke rumahmu ? Itu kalau kamu tidak berkeberatan dengan kunjunganku,” tanya Jonas ragu-ragu.
“Ah, enggak. Aku masih single, kok. Silahkan kalau mau main ke rumah,” jawabku dengan sedikit kikuk. Aku demikian goblok, jawabanku kok kesannya murahan banget, mana menawarkan diri lagi. Ah, biar saja. Mungkin Jonas hanya sekedar berbasa-basi. Dia tidak mungkin mau berkunjung ke rumahku setelah perlakuan kasarku beberapa tahun yang lalu. Ya, aku sempat memaki-maki pria itu dengan kata-kata kasar saat aku sedang bertengkar dengannya. Aku pula yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan asmara kami, sementara sebenarnya Jonas masih sangat mencintaiku. Mungkin ia masih saja mencintaiku seperti dulu ? Ah, semoga saja itu terjadi. Di umurku yang sudah kepala tiga ini, aku masih saja sendiri dan tidak menjalin komitmen dengan siapa pun. Aku mulai khawatir dengan kondisiku yang mulai dijuluki dengan sebutan perawan tua oleh beberapa temanku yang iseng. Aku berharap banyak, agar aku dan Jonas bisa bersatu kembali seperti dulu dan saling mencintai. Semoga Tuhan masih mau berbaik hati memberikan kesempatan kedua untukku. Aku masih saja terpaku berdiri di hadapan Jonas, mengingat semua kilasan peristiwa di masa lalu, kenangan cinta kami berdua. Tiba-tiba datang seorang wanita cantik tinggi semampai yang langsung duduk di samping Jonas. Jonas pun tersenyum pada wanita itu, lalu kembali memandangku.
“Perkenalkan, ini Tiara, istriku, kami baru saja menikah beberapa bulan yang lalu,” kata Jonas memperkenalkan wanita yang sekarang duduk di sebelahnya itu.
Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar kepalaku di siang hari bolong. Musnah sudah semua harapanku untuk menjadi Nyonya Jonas Kartasubrata. Entah mereka melihat atau tidak perubahan mimik yang ada di wajahku. Yang jelas saat ini aku merasa bahwa wajahku berubah pucat pasi. Aku berusaha memaksakan diri untuk tersenyum dan bersalaman dengan istri Jonas, sambil menawarkan mau pesan makanan dan minuman apa. Wanita cantik itu mengangguk sambil tersenyum dan memesan makanan dan minuman persis seperti yang dipesan oleh suaminya. Aku pun segera berlalu dan menyuruh Lili saja untuk mengantarkan makanan dan minuman pesanan istri Jonas itu. Aku sungguh malu karena teringat betapa ge-er-nya diriku saat Jonas meminta ijin untuk berkunjung ke rumahku. Tentu saja ia bermaksud untuk berkunjung ke rumahku dengan istrinya, tidak mungkin ia datang seorang diri. Aku betul-betul malu. Entah apa aku sanggup menemui mereka berdua bila mereka betul-betul jadi bertamu ke rumahku. Semua ini terjadi karena ketololanku beberapa tahun yang lalu karena menyia-nyiakan cinta tulus Jonas kepada diriku. Dasar bodoh !

0 komentar: