Rabu, 01 Agustus 2007

Rona Kehidupan

“Gedubrakk !”
Mbok Samiyem jatuh terduduk di atas jalan aspal. Kakinya yang renta tertekuk. Wanita itu mengaduh kesakitan. Tulang-tulangnya serasa bergemeletuk saat tubuhnya jatuh berdebum di kerasnya jalan aspal kota ini. Sambil mengaduh kesakitan, wanita malang itu menghapus tetesan keringat yang mengucur deras di dahi dan lehernya yang keriput. Tak satu pun manusia di sekitar jalan itu yang tergugah hatinya untuk sekedar menolong wanita tua itu. Jaman sudah berubah. Manusia sekarang sudah kehilangan hati dan nurani kemanusiaannya. Tubuh lemah wanita itu berusaha bangkit. Walau dengan terseok-seok, akhirnya berhasil juga ia menepi. Untung saja jalanan tidak begitu ramai siang itu. Mbok Samiyem hidup sebatang kara. Anak cucunya sudah pergi menghadap Sang Pencipta. Kejadian itu terjadi sudah hampir sepuluh tahun yang lalu, saat gempa dahsyat telah mengubur hidup-hidup seluruh sanak keluarganya. Entah bagaimana ceritanya, wanita tua itu bisa bertahan hidup sementara seluruh sanak keluarganya justru pergi meninggalkannya di dunia fana ini seorang diri. Sebatang kara. Mungkin memang sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa. Takdir memang terkadang begitu kejam dan tak pandang bulu. Tapi Mbok Samiyem yang sudah kenyang asam garamnya kehidupan tak lagi kaget akan begitu buruk nasib yang menimpa kehidupannya. Saat ia masih kecil dulu, Mbok Samiyem sudah kehilangan ayah yang dicintainya saat negeri ini berusaha membebaskan diri dari penjajahan Jepang. Sementara ibunya mati terkena virus TBC di saat jaman susah puluhan tahun yang lalu. Kini Mbok Samiyem tinggal menumpang di rumah kardus milik Samijan dan keluarganya. Samijan adalah seorang pemulung sampah yang memiliki seorang istri dan dua orang anak. Mereka semua hidup dari mengais-ngais sampah. Samijan dan keluarganya sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh Mbok Samiyem. Kepada merekalah cinta dan kasih sayang ia curahkan sebagai penebus bagi hatinya yang gersang.
Hari itu sungguh terasa berat bagi Mbok Samiyem. Sudah seharian ini ia berkeliling menjajakan pisang goreng buatannya dan tak satu pun yang laku terjual. Sekarang ia hanya bisa menangisi nasib saat pisang goreng buatannya berserakan di tepi jalan akibat ia terjatuh saat menyeberang jalan tadi. Ia masih terdiam memandangi barang dagangannya yang berserakan di tepi jalan itu. Sebuah tatapan kosong penuh penyesalan, mengapa ia tidak bisa lebih berhati-hati. Tapi ia menyadari bahwa hari ini dirinya sudah sedemikian lelah karena harus berkeliling kota dengan berjalan kaki menjajakan kue buatannya itu. Apalagi saat itu matahari bersinar begitu terik, sehingga menguras segenap tenaga yang ia miliki. Keringatnya masih mengucur deras. Napas masih ngos-ngosan. Mbok Samiyem berusaha menenangkan dirinya sendiri. Rejeki masih bisa dicari, tapi keselamatan adalah yang terpenting. Ia masih bersyukur bahwa saat ia jatuh tadi tidak tertabrak kendaraan yang melintas kencang di jalan utama kota ini. Tuhan masih setia melindungi dan menyayangi dirinya yang sudah renta ini. Mbok Samiyem akhirnya memutuskan untuk beranjak pergi dari tempat itu. Mungkin ia sebaiknya menuju masjid terdekat. Mungkin dengan melakukan ibadah sholat, hati dan pikirannya bisa lebih tenang dan tabah menghadapi cobaan hari itu.
Suasana di masjid tampak sepi karena memang sudah sedikit lewat dari waktu sembahyang dhuhur. Tampak beberapa orang masih duduk berdzikir atau membaca kitab suci Al-Quran di masjid itu. Mbok Samiyem duduk berselonjor sambil bersandar pada pilar masjid, sekedar melepas lelah sejenak sebelum akhirnya beranjak untuk berwudlu.
“Ah, mungkin air wudlu ini bisa sedikit menyejukkan jiwaku yang renta ini,” pikirnya dalam hati.
Mbok Samiyem segera bergegas sholat di bagian ruang khusus kaum wanita. Di sana begitu banyak rukuh yang bisa dipakai, karena memang disediakan bagi para pengunjung masjid yang tidak sempat membawa rukuh dari rumah. Setelah selesai sholat, begitu lama ia berdzikir dan berdoa. Tak terasa air matanya menetes saat ia mengadukan nasibnya kepada Yang Maha Kuasa. Wanita tua itu duduk berlama-lama di masjid itu, berdzikir, membaca puja-puji bagi Tuhan dan berdoa panjang lebar agar ada sedikit perubahan pada nasibnya yang sudah sedemikian lama mengalami ketidakberuntungan. Mungkin terlalu lama, sehingga ia pun jatuh tertidur. Ia terbangun saat ada beberapa orang wanita membangunkannya. Rupanya hari itu sudah sore dan para jamaah sudah berdatangan untuk melakukan sholat Ashar. Mbok Samiyem pun segera beranjak menuju tempat berwudlu yang ada di halaman samping masjid ini. Tak berapa lama ia pun segera bergabung dengan para jamaah lainnya untuk melakukan sholat Ashar.
Hari begitu cepat berlalu. Setelah selesai sholat ia pun bergegas pulang. Tidak ada gunanya berlama-lama berkeliling sepanjang jalanan kota ini, karena toh semua barang dagangannya sudah berserakan di tanah tadi saat ia terjatuh. Hari ini ia harus pulang dengan tangan hampa. Tapi tidak mengapa, karena toh ia masih bisa makan layaknya orang-orang kaya walau pun makan malam masih harus menunggu pukul sebelas malam nanti. Saat itu ia akan berbondong-bondong bersama dengan rekan-rekan pemulung menuju tempat-tempat sampah restoran cepat saji bermerek asing di kota ini.
Hanya itulah satu-satunya harapan untuk makan enak. Karena setiap malam, saat restoran-restoran cepat saji tutup, biasanya para pegawai restoran tersebut membawa berkarung-karung plastik ayam goreng, burger, dan pizza yang tidak laku terjual untuk dibuang di tempat sampah khusus yang memang sengaja dibangun untuk menampung makanan-makanan mahal itu. Makanan mahal yang harus berakhir di tempat sampah walau sebenarnya masih bisa dimakan karena belum basi. Walau miskin, Mbok Samiyem merasa sangat bersyukur kepada Tuhan karena masih memberikan kesempatan padanya untuk selalu bisa makan enak di malam hari. Walau untuk itu ia harus menunggu hingga pukul sebelas malam, saat para pegawai restoran membuang berkarung-karung plastik makanan mahal yang tidak laku atau tidak habis terjual. Makanan mahal itu begitu berlimpah jumlahnya sehingga masih bisa disisakan untuk sarapan besok pagi. Makanan yang jelas tidak akan pernah terbeli bila ia harus membelinya di restoran mahal itu. Tapi buat apa harus membeli, kalau ia bisa mendapatkannya dengan gratis di sini, di tempat sampah dekat halaman parkir restoran mahal itu. Biasanya begitu banyak manusia yang mengantre demi mendapatkan makanan. Semuanya tertib dan tidak berebut karena jumlahnya memang sangat berlimpah.
Sore itu ia sudah sampai di rumah kardus keluarga Samijan, tempat ia menumpang hidup. Dengan tersenyum ia menyambut anak-anak keluarga Samijan yang datang menyambutnya. Walau tersenyum kecut karena tak satu pun barang dagangannya yang laku, Mbok Samiyem bersenda gurau dengan anak-anak keluarga Samijan yang sudah dianggap sebagai cucunya sendiri. Samijan dan istrinya rupanya belum kembali, mungkin mereka masih sibuk mengais-ngais tempat sampah karena pekerjaan mereka sebagai pemulung. Jadi ia memanfaatkan waktunya untuk mendongeng kepada anak-anak keluarga Samijan yang lucu-lucu. Anak-anak yang masih belum mengerti sedikit pun tentang pahit getirnya kehidupan. Ia mendongeng tentang negeri yang indah, negeri di mana semua penduduknya hidup serba berkecukupan, berpakaian bagus dan memiliki rumah yang indah. Negeri yang hanya ada dalam alam khayalan. Negeri yang mungkin kelak bisa dikunjungi bila kita tetap tekun beriman dan bertakwa kepada Tuhan walau sedemikian miskinnya kita. Anak-anak keluarga Samijan mendengarkan setiap dongengan Mbok Samiyem dengan penuh perhatian. Tak berapa lama dongeng Mbok Samiyem terhenti. Kepala wanita tua itu terkulai lemah. Jantungnya berhenti berdetak. Wanita tua itu telah tiada. Ia betul-betul sudah pergi. Pergi menuju negeri indah yang selama ini diimpi-impikannya. Negeri indah di mana tiada lagi penderitaan, kelaparan dan sakit hati. Negeri indah di mana ia bisa hidup kekal selamanya memperoleh kebahagiaan yang tidak pernah diperolehnya di dunia ini. Sayup-sayup terdengar suara adzan Maghrib di kejauhan, menyerukan panggilan agar orang-orang berbondong-bondong menuju masjid demi memperoleh tiket menuju negeri indah seperti yang pernah diceritakan oleh Mbok Samiyem.

0 komentar: