Rabu, 01 Agustus 2007

Secercah Cahaya Matahari untuk Hari Esok

Hari begitu dingin. Angin malam begitu menggigit dan merasuk ke dalam tulang. Sesekali terdengar suara tembakan di kejauhan. Aku merangkul anak-anak asuhku yang ketakutan. Kami segera berlindung ke dalam ruang perlindungan bawah tanah. Di sana mungkin bisa sedikit aman. Malam ini aku masih harus membuat sebuah liputan. Mungkin liputanku sedikit bisa mengubah keadaan, menciptakan secercah harapan demi perdamaian di bumi yang sedang bersengketa ini. Perbedaan yang ada sering kali menimbulkan kebencian. Setiap manusia selalu mau menang sendiri dan terkadang melupakan prinsip kesetaraan. Setiap manusia seharusnya menghormati kesetaraan itu demi kemanusiaannya. Kebencian dan kemarahan hanyalah menghilangkan sifat kemanusiaan. Peperangan hanya akan menghasilkan rasa kesakitan, kepedihan dan kebencian tak berkesudahan.
Dua tahun sudah negeri asing ini dikobarkan oleh api perang dan kebencian. Sebagai wartawan yang bekerja pada sebuah media berskala internasional, aku harus bisa bersikap obyektif dalam membuat sebuah liputan kejadian. Walau hati nurani menangis, namun aku harus tegar melihat demikian banyak manusia saling membunuh hanya demi sebuah perbedaan. Terdengar salah satu anak asuhku kembali menjerit dan menangis ketakutan. Bunyi sirene udara kembali nyaring terdengar di kejauhan, diiring suara ledakan bom-bom yang berjatuhan. Satu atau dua dari itu terdengar begitu dekat dan serasa membuat tuli telinga. Aku berusaha tetap tenang sambil tersenyum pada wajah-wajah mungil tak berdosa yang sudah tak berayah dan tak berbunda. Mereka semua yatim dan miskin papa. Hanya kepadakulah mereka mencari kasih sayang seorang ibu. Walau aku belum pernah menikah dan masih muda, namun pandangan kasih mereka menganggapku tak ubahnya bagaikan ibu mereka yang telah tiada.
Seorang gadis kecil dengan burqoh yang meliputi wajah dan tubuhnya memelukku erat. Setengah jam lagi aku harus pergi. Setengah jam lagi Amir dengan mobilnya akan menjemputku demi mendapatkan liputan berita untuk malam ini. Tak peduli betapa ganasnya api perang, sebuah liputan berita harus segera terkirim lewat satelit malam ini. Berita itu harus terkirim lewat transponder lima yang sudah disewa oleh perusahaan televisi tempat aku bekerja. Lima jam adalah waktu yang kubutuhkan demi sebuah berita, karena lebih dari waktu itu satelit sewaan akan mengorbit keluar dari wilayah negeri asing ini. Hanya pada waktu-waktu tertentu saja, satelit tersebut tepat berada di atas wilayah negeri yang sedang dilanda konflik dan kecamuk perang ini. Dan saat itu terjadi, aku sudah harus memperoleh berita yang segera dikirim lewat transponder lima. Proses uplink beberapa berita yang kudapat paling tidak membutuhkan waktu sekitar satu jam, dan itu berarti waktuku hanya tinggal empat jam lagi untuk memperoleh paling tidak sebuah berita berharga yang akan ditonton oleh jutaan mata di berbagai penjuru dunia.
Aku harus segera bersiap-siap. Pelan-pelan aku bergerak menuju sebuah sudut dari ruangan bunker kecil ini. Di sudut itu terdapat sebuah kotak kardus yang berisi pakaian-pakaianku. Kuambil pakaian burqoh warna hitam-hitam yang ada dalam kardus, lalu segera kupakai. Rasa hangat langsung terasa menyelimuti tubuhku yang semula menggigil kedinginan. Di balik baju burqohku, aku memakai kaos t-shirt dan celana jeans casualku. Pakaian burqoh ini hanyalah untuk membuat diriku merasa sedikit aman agar tidak terlalu menyolok serta lebih bisa membaur dengan budaya lokal saat aku sedang meliput berita laporan dari tempat kejadian. Bukan sembarang kejadian, namun berita kejadian seputar perang dan konflik. Langsung dari tempat kejadian. Benar-benar mengerikan bukan? Namun itu semua adalah bagian dari resiko pekerjaanku sebagai seorang reporter jaringan televisi berita internasional.
Rumah penampungan ini jauh dari pusat kota. Terletak di desa kecil terpencil yang telah ditinggalkan. Tak seorang pun akan mencurigai desa ini karena letaknya yang begitu terpencil dekat sebuah bukit kecil curam yang menyembunyikan kota kecil ini dari pandangan. Walau tempat ini aman, aku tak boleh gegabah. Aku harus menjaga anak-anak ini sampai Fatimah dari lembaga bidang pengungsian UNHCR siap dengan dokumen-dokumen yang akan menyelamatkan anak-anak ini keluar dari negeri mereka yang sedang bertikai. Hanya beberapa lembar dokumen yang dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa-nyawa kecil tak berdosa ini. Jangan sampai jiwa-jiwa mereka yang suci teracuni oleh kebencian yang demikian marak menyebar di negeri asing ini. Anak-anak ini harus berhasil terbang ke Dubai dalam beberapa pekan ke depan. Satu-satunya yang selalu kukhawatirkan adalah bila mereka tidak bisa bertahan hidup sampai saat mereka harus pergi mengungsi ke negeri lain secara aman dengan bantuan UNHCR.
Lampu tanda panggilan masuk di pesawat telepon genggamku berkedip-kedip. Mereka sudah sampai, kataku dalam hati setelah terdengar dering tiga kali dan muncul nama Mary di Caller ID ponselku. Telepon yang kugunakan adalah telepon satelit yang langsung terhubung ke VSAT, karena semua provider layanan ponsel sudah tidak aktif lagi sejak negeri asing ini dilanda perang. Amir datang bersama Abdul, Mary dan Fatimah. Abdul,Mary, dan Fatimah akan bertugas menjaga anak-anak ini sementara aku berangkat meliput berita bersama Amir. Semoga tidak terjadi apa-apa malam ini. Semoga anak-anak ini semua selamat dan bisa menatap matahari besok pagi. Tak ada yang pasti di daerah konflik perang. Seseorang bahkan bisa kehilangan nyawanya sebelum ia benar-benar menyadarinya. Semoga Tuhan senantiasa melindungi kami semua. Mary adalah petugas dari UNHCR yang berasal dari Inggris. Mary beragama Islam. Abdul adalah suami Mary. Abdul berasal dari Irak, namun sekarang sudah berganti kewarganegaraan Uni Emirat Arab, dan ini paling tidak bisa sedikit membantu dalam pengurusan dokumen-dokumen bagi anak-anak yatim ini yang selanjutnya akan berstatus pengungsi korban perang.
Aku bergegas keluar dari bunker persembunyian kami. Segera saja aku berpapasan dengan Abdul dan Mary. Kuserahkan kunci-kunci yang aku pegang kepada mereka berdua. Segera saja terdengar langkah-langkah kaki mereka yang semakin jauh terdengar menuruni anak-anak tangga melingkar yang jauh menuju perut bumi. Aku segera berlari masuk ke dalam mobil Land Rover modifikasi yang dilengkapi dengan perangkat peralatan broadcast atau penyiaran itu. Mobil itu dikemudikan oleh Amir. Langkahku sedikit lambat karena aku memakai burqoh. Sesekali kuangkat kain burqohku agak sedikit tinggi untuk mempermudah langkahku berlari menuju mobil yang sudah menungguku sejak tadi. Amir sudah siap dengan kamera. Pria itu menyetir dengan sangat hati-hati di tengah gelapnya malam. Langit yang gelap sesekali diwarnai oleh cahaya terang kilatan roket-roket yang diluncurkan oleh kedua belah pihak yang sedang berperang. Kilatan-kilatan itu tampak begitu indah namun mengerikan. Hampir sama dengan indahnya bias cahaya utara (aurora borealis) yang sempat kulihat beberapa bulan lalu saat aku membuat sebuah liputan di Kanada. Terdengar bunyi dentuman-dentuman di kejauhan. Tidak seperti orang normal yang bergerak menjauhi keributan dan peperangan, kami justru mendekati lokasi terjadinya perang. Benar-benar tindakan nekad. Namun harus bagaimana lagi. Sudah menjadi resiko pekerjaan.
Kuambil kamera video yang sebenarnya cukup berat itu. Kupanggul kamera itu di bahuku. Kucoba mengarahkan kamera itu ke arah sumber bunyi ledakan. Kuatur agar bisa melihat di kejauhan dalam kegelapan malam. Kamera video ini dilengkapi dengan teknologi night eyes yang bisa melihat dalam kegelapan. Masih belum terlihat apa-apa. Hanya gelapnya padang pasir di kanan kiri kami. Mungkin masih jauh, pikirku. Segera kumatikan lagi kamera video yang aku panggul. Amir menoleh sesekali sambil mengajakku mengobrol untuk memecah keheningan dan ketegangan. Suasana benar-benar mencekam. Beberapa menit lagi dan kami akan segera memasuki kota Mosul yang membara oleh api perang. Kendaraan melaju dengan kencang, dan sedikit bergoncang-goncang. Semoga semuanya baik-baik saja.
Kami segera memarkir mobil di sebuah gang sempit yang gelap begitu kami memasuki kota Mosul. Pelan namun pasti kami bergerak menyusuri lorong-lorong gelap berlindung di bawah bayang-bayang bangunan gedung yang sebagian sudah roboh atau tinggal separuh. Suara baku tembak semakin nyaring terdengar dan sangat memekakkan telinga. Kami berusaha mencari arah suara tembakan dan melihat kilatan-kilatan api yang keluar dari moncong-moncong berasap yang memuntahkan peluru di mana-mana. Amir mencoba mengarahkan kamera ke arah sumber-sumber suara letusan dan tembakan. Ia tersenyum simpul. Tampaknya ia berhasil mendapatkan sebuah angle yang bagus. Segera saja ia menggerak-gerakkan tangannya untuk memberi isyarat agar aku mengikutinya. Segera saja aku berlari mengikutinya sambil terus berkomentar memberikan beberapa keterangan yang terhubung langsung dengan mikrofon tanpa kabel yang terselip di kerah bajuku. Suaraku langsung terekam dengan baik. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk menyunting dan menggabungkan suara dan gambar liputan kami nanti, sebelum akhirnya kami akan melakukan proses meng-uplink berita beberapa jam ke depan. Rupanya baku tembak seru telah terjadi di depan kami. Terdengar suara langkah-langkah orang berlarian di depan kami. Kami pun segera mengikuti mereka namun tetap menjaga jarak agar kami tidak dicurigai dan tetap tidak terlihat. Akan sangat berbahaya bila kami sampai terlihat oleh kedua belah pihak yang berperang. Karena itu bisa berakibat fatal. Setiap orang pasti tidak akan percaya bahwa kami adalah reporter televisi walaupun kami membawa kamera video yang demikian berat. Setiap orang pasti akan cenderung bersikap paranoid di tengah medan perang seperti ini.
Untunglah kami segera menemukan tempat persembunyian yang pas di balik sebuah reruntuhan bangunan yang tidak sepenuhnya runtuh. Tiba-tiba pundakku ditepuk oleh seseorang. Orang itu menjerit panik dan histeris sambil menarik-narik bajuku. Aku terlompat kaget setengah mati. “Mati aku!” demikian pikirku. Namun kekhawatiranku tidak beralasan. Ternyata orang yang tadi menarik-narik bajuku tak lain adalah seorang wanita dengan seorang anak kecil yang sedang digandengnya. Ia memohon dan menceritakan segala apa yang telah terjadi padaku dalam bahasa Arab. Aku mendengarkannya, sambil sesekali menterjemahkan omongan wanita itu ke dalam bahasa Inggris sebagai pengantar berita yang sedang aku liput saat ini. Amir segera mengarahkan kamera videonya ke arah wanita itu. Ia pun sesekali bertanya mengenai beberapa hal, juga dalam bahasa Arab. Rupanya wanita itu dan anaknya belum sempat mengungsi saat pertempuran meletus. Ia terpisah dari suami dan kedua anaknya yang lain. Ia menjerit dan menangis panik karena mengkhawatirkan mereka. Aku berusaha menenangkan wanita itu dengan kata-kata lembut sambil mengusap punggung wanita itu dan sesekali merangkulnya untuk sedikit menghibur. Amir terus merekam adegan itu dengan kamera videonya. Aku pun kembali menterjemahkan beberapa narasi ke dalam bahasa Inggris.
Tiba-tiba wanita itu menunjuk-nunjuk ke arah sebuah sudut gelap pada seberang jalan, dekat sebuah bangunan besar yang tampaknya masih berdiri kokoh walaupun di sana-sini tampak beberapa bagiannya sudah roboh hancur terkena hantaman rudal dan bazooka. Ternyata ia menceritakan bahwa tentara musuh yang semuanya orang ajam (istilah dalam bahasa Arab untuk menyebut orang bule) tiba-tiba keluar dari bangunan itu dan melontarkan tembakan membabi buta ke mana-mana. Banyak wanita dan anak-anak menjadi korban. Segera saja terjadi baku tembak, demikian menurut ceritanya. Aku segera menterjemahkan rentetan cerita yang diceritakan dalam kecepatan tinggi oleh wanita malang itu. Anaknya menggigil ketakutan dan tangan-tangan mungilnya tampak mencengkeram kedua kaki ibunya, seakan takut terpisah dari ibu yang dikasihinya itu.
Aku sempat ngeri dan terpana saat mendengar cerita yang dituturkan oleh wanita berbaju burqoh itu. Tak pernah kubayangkan bisa ada kebencian yang begitu rupa sehingga sekelompok orang bisa sampai hati membunuh wanita dan anak-anak serta orang-orang tak berdosa hanya karena alasan isyu untuk membasmi terorisme. Kata-kata manis propaganda yang sering kulihat di televisi dengan mengatasnamakan keamanan dunia, mereka para penjajah berkulit putih, berusaha membenarkan tindakan keji mereka yang berkedok topeng kemanusiaan dalam tindakan mereka sebagai polisi dunia dan penegakan hak asasi manusia, suatu hal yang justru mereka langgar sendiri. Aku marah demi melihat semua itu. Aku marah saat melihat kaumku, kaum wanita harus dibantai dengan begitu keji, hanya karena mereka memakai burqoh, dan diduga beragama Islam. Apa yang salah bila seseorang beragama Islam. Bukan agama dan pakaian yang menentukan baik buruknya hati seseorang. Bahkan seorang atheis pun tidak selalu berhati jahat. Begitu banyak orang-orang di luar sana yang mengaku dirinya taat beragama namun perilakunya lebih keji daripada binatang, karena tega dengan mudahnya menghilangkan nyawa orang lain atas pembenaran yang ia karang-karang sendiri. Begitu mudahkah stereotipe buruk tentang Islam, melekat dalam akal pikiran orang-orang ajam itu. Begitu buruknyakah orang-orang ajam itu menilai orang-orang yang beragama Islam? Bukankah paham hak asasi manusia dan kesetaraan seharusnya dibangun atas dasar saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan dan pluralitas yang ada? Ataukah itu hanya sekedar basa-basi pemanis mulut dan akal bulus demi merampok kekayaan minyak negeri Irak melalui pembenaran penegakan perdamaian dan hak asasi manusia di negeri kaya minyak ini?
Aku mengatakan pada ibu itu agar tetap berlindung dan bersembunyi di balik reruntuhan tembok kami ini, karena menurut kami tempat ini benar-benar aman terlindung dengan lokasi yang memang agak tersembunyi. Wanita itu mengangguk sambil terus terisak menahan tangis. Air mata segera meleleh dari kedua bola mataku. Hatiku hancur saat melihat demikian banyak wanita dan anak-anak menjadi korban perang dan ambisi keangkaramurkaan manusia atas nama politik atau apa pun namanya. Aku sama sekali tidak setuju dengan adanya perang. Perang hanya membawa kesengsaraan. Perang hanya menghasilkan sakit hati, kesedihan dan penderitaan. Keluarga yang semula hidup bahagia penuh cinta kasih harus tercerai berai terpisah akibat perang. Entah terpisah karena kematian atau pun terpencar saat harus mengungsi. Benar-benar sebuah kondisi yang mengenaskan dan menyentuh lubuk hati terdalam. Semuanya ini hanyalah bermula dari suatu perbedaan. Entah perbedaan pendapat, cara pandang, perbedaan warna kulit, ras atau agama.
Apakah manusia demikian sombong menghalalkan segala upaya untuk saling membunuh demi ambisinya. Ambisi yang mengatasnamakan stabilitas negara, agama dan politik? Bahkan Tuhan pun melarang umatnya untuk membunuh semut. Setiap kehidupan sangatlah berharga. Apakah manusia sanggup untuk menciptakan sebuah kehidupan? Demikian sombongkah manusia sehingga ia bisa demikian mudahnya mencabut nyawa manusia yang lain sementara ia sendiri tidak bisa menciptakan sebuah kehidupan?
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku, tatkala Amir menggerak-gerakkan tangannya sebagai isyarat agar kami segera bergerak menyusuri bagian-bagian lorong yang aman dari jarak pandang dan tertutup oleh bayang-bayang reruntuhan bangunan kota yang sudah porak-poranda ini. Amir terus mengarahkan kameranya ke berbagai arah. Lensa tele yang terpasang di moncong kamera video menambah berat beban yang dipikul oleh Amir. Namun demikian ia tak pernah mengeluh. Aku terus berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi peperangan yang sedang berkobar di kota ini. Sesekali aku berhenti karena terengah-engah. Napasku serasa tersengal-sengal demi mengikuti langkah kaki Amir yang bergerak begitu cepat berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain. Sesekali ia mengarahkan kameranya ke tumpukan-tumpukan jenazah yang tergeletak berserakan di berbagai tempat. Korban dari kedua belah pihak demikian banyak berjatuhan. Aku terus berkomentar dan membawakan narasi untuk berita yang sedang kuliput saat ini bersama Amir. Tak terasa sudah lebih dari satu jam kami meliput di lokasi perang yang sama sekali tidak aman ini. Sesekali terdengar suara berdesing di dekat kepala kami.
Ya Tuhan, tolong selamatkan aku untuk yang kesekian kalinya, agar aku Kau berikan kesempatan untuk melihat sinar matahari pagi esok hari. Itu adalah nikmat terbesar yang bisa kuperoleh di daerah perang ini. Melihat sinar matahari di pagi hari, seakan setiap sinarnya demikian berharga. Sinar yang memberikan harapan untuk hari esok yang lebih baik. Walau terkadang hari esok yang lebih baik itu tak kunjung datang di daerah yang dilanda perang seperti di Irak ini.
Amir kembali memberikan tanda agar aku segera bergerak mengikutinya untuk kembali menuju mobil. Liputan hari ini sudah selesai. Malam ini kami hanya perlu menyunting berita yang kami dapat ini sebelum akhirnya harus dikirim ke satelit. Tiba-tiba aku teringat pada wanita malang dan anaknya yang tadi sempat kami temui. Kami pun segera bergegas menghampiri tempat persembunyian kami tadi. Di sana masih menunggu wanita itu dan anaknya yang tak pernah lepas menggenggam erat tangan ibunya itu. Aku segera meraih anak itu dan kemudian menggendongnya, sementara tanganku yang lain meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat-erat serta menariknya agar mengikutiku berlari di lorong-lorong gelap yang sedikit tersembunyi, kembali menuju mobil Land Rover kami yang diparkir di kegelapan, jauh di tepi kota Mosul ini. Kami berlari dan terus berlari. Terengah-engah. Berhenti sejenak, dan kemudian berlari lagi. Sesekali kulihat arah koordinat di perangkat GPS yang aku bawa. Arahnya sudah benar.
Akhirnya kami pun selamat sampai kembali ke dalam mobil. Amir segera memacu mobil bergerak laju dengan kecepatan tinggi meninggalkan daerah yang sedang dilanda baku tembak yang cukup seru itu. Aku segera asyik dalam kesibukanku menyunting video hasil rekaman liputan kami, dan melakukan proses uplink saat kami sudah berada jauh dari kota Mosul. Amir menghentikan mobil sejenak di tempat yang aman, sampai seluruh proses uplink selesai dilakukan. Beberapa saat kemudian ponselku berdering, dan seseorang di ujung lain di belahan bumi yang lain telah mengabarkan bahwa proses uplink beritaku sudah berhasil diterimanya, dan kini sedang disiarkan melalui satelit ke seluruh penjuru dunia, disertai himbauan dan seruan mengenai upaya-upaya perdamaian ke seluruh penjuru dunia. Dalam hati aku mengucap syukur, bahwa Tuhan masih memberi umur panjang untuk menatap matahari esok pagi dan berbuat lebih banyak untuk perdamaian dunia melalui liputan beritaku.
Saat kami sampai di rumah penampungan anak tempat aku sehari-hari menghabiskan waktuku bersama anak-anak pengungsi korban perang, hari sudah menjelang pagi. Secercah cahaya tampak bersinar di horison. Masih ada hari esok, kataku dalam hati. Aku pun mengajak masuk wanita pengungsi dan anaknya itu ke dalam rumah. Di dalam rumah, Abdul, Mary dan anak-anak asuhku menyambutku dengan perasaan lega. Mereka semua sudah keluar dari bunker persembunyian. Segera aku melepas baju burqoh yang sejak tadi aku pakai. Kini dalam sekejap aku sudah kembali menjadi Ranti, seorang reporter wanita asal Indonesia. Aku pun kemudian memperkenalkan wanita itu kepada seluruh penghuni rumah penampungan ini, tak lupa kuperkenalkan pula, Abdul, Amir, Mary, dan Fatimah. Wanita yang aku selamatkan tadi ternyata bernama Zulaikha, dan walaupun ia memakai baju burqoh, ternyata ia beragama Kristen. Kami sama sekali tidak menyangka sebelumnya bahwa seorang yang berbaju burqoh bisa juga beragama Kristen.
Baju burqoh memang bukanlah semata-mata monopoli orang yang beragama Islam saja, namun lebih merupakan baju tradisional negara Irak, mungkin semacam baju kebaya bagi para wanita yang hidup di Indonesia. Saat itu aku baru menyadari bahwa baju dan penampilan sama sekali tidak mencerminkan kepribadian dan stereotipe seseorang. Hanya rasa kasih dan sayang yang mengisi hati dan jiwa manusia yang bisa menentukan kualitas keberadaban manusia itu sendiri. Bukan rasnya, bukan agamanya, dan bukan juga kekayaannya. Manusia yang beradab bagiku hanya bisa diukur dari seberapa besar ia sanggup mengasihi dan menyayangi orang lain seperti halnya ia menyayangi dirinya sendiri. Perbedaan dan pluralisme dalam berbagai hal tidak menjadi masalah asalkan seseorang masih mempunyai sikap empati, mau menghargai orang lain, tenggang rasa dan toleransi serta cinta kasih. Selama semua itu ada dalam hati seseorang, bukan tidak mungkin dunia ini akan bisa mencapai perdamaian dan tercipta rasa aman bagi setiap orang. Masih beberapa minggu lagi, dan mungkin Zulaikha akan juga bergabung dalam rombongan pengungsi yang akan segera bertolak menuju Dubai, Uni Emirat Arab. Semoga Tuhan masih memberikan kami kesempatan untuk melihat terbitnya matahari esok hari dan beberapa minggu ke depan saat kami bisa segera meninggalkan bumi yang merah membara oleh api perang ini. Andai seluruh bangsa di muka bumi ini bersatu, betapa indahnya sebuah peradaban yang akan maju berkembang dalam alam perdamaian. Semoga suatu saat perdamaian bisa tercapai di muka bumi walau demikian banyak perbedaan yang menghuni dada setiap manusia.

0 komentar: