Namaku Broto. Firmansyah Subroto. Tubuhku memang gemuk untuk remaja pria seumurku. Tak heran banyak di antara teman-temanku yang memanggilku dengan julukan Gembrot (=gemuk). Julukan yang sama sekali tidak aku sukai, walau aku menyadari bahwa memang tubuhku gemuk sekali. Untuk remaja pria yang baru berumur delapan belas tahun, tubuhku begitu subur laksana bapak-bapak pejabat yang berperut tambun dan berpipi tembem. Beberapa kawanku bahkan ada yang memberikan julukan “Si Bos Besar” kepadaku. Untuk julukan yang terakhir ini aku tidak begitu keberatan. Satu-satunya yang sering kali membuatku jengkel justru julukan “Gembrot” yang memang pas mengena dengan nama akhirku, Subroto. Berulang kali sering terdengar kata-kata menjengkelkan itu.
“Mau kemana, Brot ?”
“Brot, Gembrot, jangan lupa bawa kue yang banyak ya ?”
atau “Dasar Gembrot, kerjanya hanya bisa makan dan tidur saja !”
Huh, aku jadi benar-benar sebel dengan julukan itu dan sekaligus muak dengan diriku sendiri yang ditakdirkan bertubuh gembrot ini. Leherku yang bergelambir saking gemuknya, membuat aku selalu minder saat mendekati teman-teman cewekku. Mereka langsung saja menghindar begitu aku berjalan mendekati mereka. Tak jarang mereka tertawa cekikikan mentertawakan kondisi diriku yang memang jauh dari keren.
“Sudah gembrot, sering keringatan dan jarang pakai parfum lagi !” demikian gunjingan yang sering aku dengar saat aku lewat di dekat teman-teman cewekku. Mereka selalu saja buru-buru menghindar saat aku bergerak mendekat, seakan-akan aku ini tak ubahnya seperti Stegosaurus yang kalau lewat semua bakal minggir biar tidak terinjak.
“Sudahlah, Bos, jangan terlalu dipikirkan. Biar saja mereka menghindar, kalau memang itu mau mereka. Yang penting kan, kita-kita tetap jadi sahabat terbaikmu,” kata sahabatku Andi yang bertubuh kurus kerempeng. Ia sendiri sering diejek dengan julukan si Ceking. Kalau kami berdua lewat, selalu teman-teman kami yang lain membandingkan kami dengan angka sepuluh. “Awas ! The Big Ten mau lewat, ayo pada minggir !” itu yang selalu kami dengar saat kami lewat melintasi sekumpulan anak yang lagi nongkrong di depan kantin sekolah.
“Iya, nggak usah dipikir terlalu berat. Cuekin aja !” kata Gilbert, sahabatku yang lain.
“Atau malah sebaiknya kamu pikirin aja, diratapi dalam-dalam, siapa tahu kamu jadi bisa langsing karena terlalu berlama-lama meratapi nasib sebagai remaja obesitas !” kata sahabatku Tino yang mulutnya selalu ngoceh tak karuan. Tino berperawakan pendek dengan rambutnya yang selalu tegak berdiri seperti anak yang cacingan.
“Hus, ngawur, bukannya menghibur kok malah menyakiti hati teman sendiri,” sahut Roni, sahabat sekaligus tetanggaku yang kebetulan bersekolah di tempat yang sama denganku. Roni bertubuh kelewat tinggi dengan tampang dan wajah yang aneh. Banyak teman-teman yang menjulukinya dengan sebutan Jerapah.
Seperti biasa, kami pun menghabiskan waktu kami di perpustakaan sekolah sambil membaca dan sesekali berceloteh ramai. Komunitas kecil kami seakan demikian terisolir dari dunia luar. Kalau sebagian anak normal lainnya lebih banyak nongkrong dan ngerumpi di kantin sekolah saat jam istirahat, kami berlima lebih banyak menghabiskan waktu di dalam perpustakaan. Entah itu mengerjakan tugas, membaca majalah atau novel, maupun sekedar ngerumpi. Sering kami dimarahi oleh Pak Soni, petugas perpustakaan, karena kami terkadang ngerumpi kelewat ramai sehingga mengganggu konsentrasi para pengunjung perpustakaan yang sedang asyik membaca.
Hari ini hari Minggu. Teman-temanku yang bertubuh normal selalu saja mempunyai acara dengan pacar mereka masing-masing. Sementara aku dan komunitas kecilku biasanya menghabiskan waktu kami dengan bermain scrable di rumahku. Gilbert, si kutu buku dengan kaca matanya yang tebal selalu saja memenangkan permainan scrable yang kami mainkan. Memang, perbendaharaan katanya dalam bahasa Inggris demikian banyak, tak heran karena ia begitu gemar membaca buku, mulai dari buku berbahasa Indonesia, hingga aneka buku berbahasa Inggris. Konon, bahkan ia dengan cepat sudah membaca seluruh edisi buku Harry Potter yang terbit dalam versi aslinya, bahasa Inggris.
Pagi ini aku sudah menanti teman-temanku yang biasa ngumpul di ruang paviliun samping rumah. Ruang itu memang sudah menjadi daerah kekuasaanku, karena ayahku sudah memberiku hak untuk memanfaatkan ruang itu sebagai ruang belajar dan bermain bersama teman-teman. Mulai dari komputer yang dilengkapi sambungan internet, hingga aneka buku dan permainan semuanya lengkap tersedia di ruang paviliun itu. Kami berlima menyebut ruang paviliun itu dengan nama “Sarang Penyamun”. Nama yang sama sekali tidak mengherankan karena terkadang ruangan itu begitu berantakan, saat kami berlima berkumpul di tempat itu. Ya namanya cowok, serajin-rajinnya tetap saja tidak bisa kalau harus disuruh menjaga kerapian setiap saat. Walau berantakan yang penting ruang itu bersih dan tidak kotor. Cuma barang-barangnya saja yang terkadang asal taruh. Ibuku yang terkadang masuk ke ruangan paviliun itu sampai geleng-geleng kepala melihat kondisi seisi ruangan yang bagaikan kapal pecah, berantakan ! Makanya, kali ini aku dan teman-teman berencana untuk membereskan dan merapikan ruangan paviliun itu, supaya terkesan lebih bersih dan lebih lega saat kami bermain dan mengobrol di dalamnya.
Tak lama kemudian sahabat-sahabatku datang. Mereka berempat datang bersamaan. Rupanya mereka berkumpul di rumah Gilbert lebih dulu baru kemudian menuju rumahku. Memang semua teman yang hendak pergi ke rumahku selalu melewati rumah Gilbert terlebih dulu. Jadi di sanalah mereka biasanya berkumpul sebelum akhirnya beramai-ramai datang ke rumahku. Seperti biasa kerumunan itu begitu ramai dengan aneka cerita dan guyonan mereka. Sambil cekikikan dan nyengir, mereka berempat pun berbondong-bondong menuju paviliun samping.
Tak lama kami pun segera sibuk dengan acara bersih-bersih yang memang sudah kami rencanakan kemarin. Roni bertugas membersihkan langit-langit dengan sebatang sapu bergagang panjang. Tubuhnya yang tinggi membuatnya demikian mudah menyelesaikan tugas itu dalam waktu yang singkat. Andi kebagian tugas menyapu segala debu dan kotoran yang berjatuhan di lantai saat Roni membersihkan langit-langit. Gilbert bertugas merapikan buku-buku dan segala macam kertas yang tadinya berserakan. Ia memang menyukai segala pekerjaan yang berhubungan dengan buku dan kertas-kertas. Tino bertugas mengepel dan membersihkan kolong-kolong meja, kursi dan rak buku. Tubuhnya yang kecil dan pendek sangat tepat untuk melakukan tugas itu. Aku sendiri bertugas mengelap meja, kursi dan rak buku dengan lap basah agar tidak lagi berdebu. Setelah itu aku menuju dapur untuk melihat-lihat isi kulkas dan lemari makan, kalau-kalau ada yang bisa dibawa untuk kudapan kami berlima. Mbok Jah membantuku membuat sirup frambozen yang kemudian dituangkan ke dalam lima buah gelas untuk minuman kami berlima. Akhirnya pekerjaan bersih-bersih itu selesai juga. Kami berlima terduduk lemas kecapekan di sofa usang yang ada di pojok ruangan paviliun ini. Jendela paviliun memang sengaja dibuka lebar-lebar agar angin segar masuk dan debu-debu bisa terbang keluar saat ruangan ini dibersihkan. Tiba-tiba terdengar suara truk memasuki halaman rumah sebelah yang memang sudah sejak setahun terakhir ini tidak lagi dihuni. Rupanya ada tetangga baru yang mau pindah ke rumah sebelah. Memang di kompleks perumahan ini antara rumah yang satu dengan yang lain tidak dibatasi oleh satu pagar pun. Jadi dengan leluasa kami bisa melihat apa yang terjadi di halaman sebelah.
Seorang gadis cantik tampak turun dari mobil sedan yang mengiringi truk pengangkut barang itu. Tampak bersama gadis cantik itu ayah dan ibunya yang bertubuh gembrot, juga seorang anak laki-laki yang masih kecil. Gadis cantik itu bertubuh langsing, sangat berbeda dengan kedua orang tuanya yang bertubuh gembrot. Gadis itu tampaknya melihat kami berlima yang tanpa sadar memperlihatkan kelima wajah tolol kami di jendela yang terbuka. Gadis itu tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Aku pun tanpa sadar membalas lambaian tangannya. Wow, cantiknya, kataku seakan tak sadar. Teman-temanku setuju dengan pendapatku itu. Mereka tampak terbengong-bengong melihat gadis cantik itu memasuki rumah barunya. Setelah beberapa lamanya terbengong-bengong, akhirnya kami pun kembali duduk di kursi sofa panjang usang yang ada di pojok ruangan. Mbok Jah mengetuk pintu paviliun. Wanita tua itu membawa nampan besar berisi aneka kue dan lima buah gelas berisi sirup frambozen. Kami berlima kemudian menyerbu semua kue dan minuman sirup yang disuguhkan oleh Mbok Jah. Hmm, sungguh enak rasanya melepas lelah sambil menikmati aneka kue dan minum segelas sirup manis demi memulihkan tenaga yang tadi sempat terkuras saat membersihkan ruangan paviliun.
Aktivitas ngerumpi dan bermain scrable pun berlanjut. Hanya Si Roni yang tidak ikutan main. Ia sedang asyik bermain game di komputer yang memang tersedia di ruangan paviliun ini. Kami pun asyik menghabiskan waktu berlama-lama dalam “Sarang Penyamun”. Tak sadar hari pun telah berganti siang. Kini Mbok Jah muncul lagi dengan sebakul nasi dan aneka lauk makan siang. Kami pun segera menyantap makan siang kami sambil ngerumpi macam-macam. Tiba-tiba di jendela muncul sesosok wajah cantik yang melongok melihat-lihat ruangan paviliun kami ini. Ternyata wajah cantik itu milik gadis tetangga sebelah yang tadi sempat melambaikan tangan kepada kami. Gadis itu menyapa kami sambil mengajak berkenalan. Namanya Sasha. Sasha Ansinta Maharani. Sungguh nama yang indah. Gadis itu sangat ramah dan tidak sombong. Sangat berbeda dengan teman-teman cewek yang ada di sekolah kami. Tak lama ia pun ikut nimbrung ngerumpi dengan kami berlima. Mbok Jah kembali mengetuk pintu. Ia membawa sebuah piring kosong dan segelas sirup frambozen untuk Sasha. Kami mempersilahkan Sasha ikut bergabung makan siang bersama kami. Pembicaraan kami berlangsung panjang lebar, mulai dari pembicaraan seputar pengalaman masa kecil hingga aneka buku dan makanan favorit. Tak terasa hari sudah semakin sore. Menjelang Maghrib, kelima temanku itu pun berpamitan pulang. Hari ini begitu berkesan. Ada sesuatu yang berbeda. Aku pun melambaikan tangan mengiringi kepergian teman-temanku.
Itu adalah kejadian tiga bulan yang lalu. Kini Sasha sudah menjadi pacarku. Sasha juga bersekolah di tempat yang sama denganku. Sikapnya senantiasa manis dan baik terhadapku. Ia bahkan mulai mempengaruhi teman-teman yang lain agar tidak lagi mengucilkan aku dan kelompokku. Ternyata tidak semua cewek berlaku sombong. Tidak semua cewek hanya memandang seseorang dari penampilan luarnya saja. Sasha adalah seorang gadis yang istimewa. Kecantikannya tidak hanya terlihat dari penampilan luarnya saja, tetapi ia juga memiliki kecantikan yang sebenarnya. Kecantikan hati dan budi yang jauh lebih berharga daripada sekedar kecantikan lahiriah. Perlahan perlakuan buruk teman-temanku terhadap geng kami yang aneh berubah sudah. Mereka mau menerima kekurangan dan keanehan fisik kami. Kami tidak lagi mendapat julukan “Orang-orang aneh” atau “Freaky People”. Semua ini berkat jasa Sasha, seorang gadis cantik yang telah mengubah segalanya. Aku adalah Broto, Si Gembrot, dan aku bangga menjadi diriku sendiri. Buktinya masih ada gadis yang mau mencintai orang sepertiku dengan tulus. Gadis cantik yang bernama Sasha. Aku sangat mencintainya.
“Mau kemana, Brot ?”
“Brot, Gembrot, jangan lupa bawa kue yang banyak ya ?”
atau “Dasar Gembrot, kerjanya hanya bisa makan dan tidur saja !”
Huh, aku jadi benar-benar sebel dengan julukan itu dan sekaligus muak dengan diriku sendiri yang ditakdirkan bertubuh gembrot ini. Leherku yang bergelambir saking gemuknya, membuat aku selalu minder saat mendekati teman-teman cewekku. Mereka langsung saja menghindar begitu aku berjalan mendekati mereka. Tak jarang mereka tertawa cekikikan mentertawakan kondisi diriku yang memang jauh dari keren.
“Sudah gembrot, sering keringatan dan jarang pakai parfum lagi !” demikian gunjingan yang sering aku dengar saat aku lewat di dekat teman-teman cewekku. Mereka selalu saja buru-buru menghindar saat aku bergerak mendekat, seakan-akan aku ini tak ubahnya seperti Stegosaurus yang kalau lewat semua bakal minggir biar tidak terinjak.
“Sudahlah, Bos, jangan terlalu dipikirkan. Biar saja mereka menghindar, kalau memang itu mau mereka. Yang penting kan, kita-kita tetap jadi sahabat terbaikmu,” kata sahabatku Andi yang bertubuh kurus kerempeng. Ia sendiri sering diejek dengan julukan si Ceking. Kalau kami berdua lewat, selalu teman-teman kami yang lain membandingkan kami dengan angka sepuluh. “Awas ! The Big Ten mau lewat, ayo pada minggir !” itu yang selalu kami dengar saat kami lewat melintasi sekumpulan anak yang lagi nongkrong di depan kantin sekolah.
“Iya, nggak usah dipikir terlalu berat. Cuekin aja !” kata Gilbert, sahabatku yang lain.
“Atau malah sebaiknya kamu pikirin aja, diratapi dalam-dalam, siapa tahu kamu jadi bisa langsing karena terlalu berlama-lama meratapi nasib sebagai remaja obesitas !” kata sahabatku Tino yang mulutnya selalu ngoceh tak karuan. Tino berperawakan pendek dengan rambutnya yang selalu tegak berdiri seperti anak yang cacingan.
“Hus, ngawur, bukannya menghibur kok malah menyakiti hati teman sendiri,” sahut Roni, sahabat sekaligus tetanggaku yang kebetulan bersekolah di tempat yang sama denganku. Roni bertubuh kelewat tinggi dengan tampang dan wajah yang aneh. Banyak teman-teman yang menjulukinya dengan sebutan Jerapah.
Seperti biasa, kami pun menghabiskan waktu kami di perpustakaan sekolah sambil membaca dan sesekali berceloteh ramai. Komunitas kecil kami seakan demikian terisolir dari dunia luar. Kalau sebagian anak normal lainnya lebih banyak nongkrong dan ngerumpi di kantin sekolah saat jam istirahat, kami berlima lebih banyak menghabiskan waktu di dalam perpustakaan. Entah itu mengerjakan tugas, membaca majalah atau novel, maupun sekedar ngerumpi. Sering kami dimarahi oleh Pak Soni, petugas perpustakaan, karena kami terkadang ngerumpi kelewat ramai sehingga mengganggu konsentrasi para pengunjung perpustakaan yang sedang asyik membaca.
Hari ini hari Minggu. Teman-temanku yang bertubuh normal selalu saja mempunyai acara dengan pacar mereka masing-masing. Sementara aku dan komunitas kecilku biasanya menghabiskan waktu kami dengan bermain scrable di rumahku. Gilbert, si kutu buku dengan kaca matanya yang tebal selalu saja memenangkan permainan scrable yang kami mainkan. Memang, perbendaharaan katanya dalam bahasa Inggris demikian banyak, tak heran karena ia begitu gemar membaca buku, mulai dari buku berbahasa Indonesia, hingga aneka buku berbahasa Inggris. Konon, bahkan ia dengan cepat sudah membaca seluruh edisi buku Harry Potter yang terbit dalam versi aslinya, bahasa Inggris.
Pagi ini aku sudah menanti teman-temanku yang biasa ngumpul di ruang paviliun samping rumah. Ruang itu memang sudah menjadi daerah kekuasaanku, karena ayahku sudah memberiku hak untuk memanfaatkan ruang itu sebagai ruang belajar dan bermain bersama teman-teman. Mulai dari komputer yang dilengkapi sambungan internet, hingga aneka buku dan permainan semuanya lengkap tersedia di ruang paviliun itu. Kami berlima menyebut ruang paviliun itu dengan nama “Sarang Penyamun”. Nama yang sama sekali tidak mengherankan karena terkadang ruangan itu begitu berantakan, saat kami berlima berkumpul di tempat itu. Ya namanya cowok, serajin-rajinnya tetap saja tidak bisa kalau harus disuruh menjaga kerapian setiap saat. Walau berantakan yang penting ruang itu bersih dan tidak kotor. Cuma barang-barangnya saja yang terkadang asal taruh. Ibuku yang terkadang masuk ke ruangan paviliun itu sampai geleng-geleng kepala melihat kondisi seisi ruangan yang bagaikan kapal pecah, berantakan ! Makanya, kali ini aku dan teman-teman berencana untuk membereskan dan merapikan ruangan paviliun itu, supaya terkesan lebih bersih dan lebih lega saat kami bermain dan mengobrol di dalamnya.
Tak lama kemudian sahabat-sahabatku datang. Mereka berempat datang bersamaan. Rupanya mereka berkumpul di rumah Gilbert lebih dulu baru kemudian menuju rumahku. Memang semua teman yang hendak pergi ke rumahku selalu melewati rumah Gilbert terlebih dulu. Jadi di sanalah mereka biasanya berkumpul sebelum akhirnya beramai-ramai datang ke rumahku. Seperti biasa kerumunan itu begitu ramai dengan aneka cerita dan guyonan mereka. Sambil cekikikan dan nyengir, mereka berempat pun berbondong-bondong menuju paviliun samping.
Tak lama kami pun segera sibuk dengan acara bersih-bersih yang memang sudah kami rencanakan kemarin. Roni bertugas membersihkan langit-langit dengan sebatang sapu bergagang panjang. Tubuhnya yang tinggi membuatnya demikian mudah menyelesaikan tugas itu dalam waktu yang singkat. Andi kebagian tugas menyapu segala debu dan kotoran yang berjatuhan di lantai saat Roni membersihkan langit-langit. Gilbert bertugas merapikan buku-buku dan segala macam kertas yang tadinya berserakan. Ia memang menyukai segala pekerjaan yang berhubungan dengan buku dan kertas-kertas. Tino bertugas mengepel dan membersihkan kolong-kolong meja, kursi dan rak buku. Tubuhnya yang kecil dan pendek sangat tepat untuk melakukan tugas itu. Aku sendiri bertugas mengelap meja, kursi dan rak buku dengan lap basah agar tidak lagi berdebu. Setelah itu aku menuju dapur untuk melihat-lihat isi kulkas dan lemari makan, kalau-kalau ada yang bisa dibawa untuk kudapan kami berlima. Mbok Jah membantuku membuat sirup frambozen yang kemudian dituangkan ke dalam lima buah gelas untuk minuman kami berlima. Akhirnya pekerjaan bersih-bersih itu selesai juga. Kami berlima terduduk lemas kecapekan di sofa usang yang ada di pojok ruangan paviliun ini. Jendela paviliun memang sengaja dibuka lebar-lebar agar angin segar masuk dan debu-debu bisa terbang keluar saat ruangan ini dibersihkan. Tiba-tiba terdengar suara truk memasuki halaman rumah sebelah yang memang sudah sejak setahun terakhir ini tidak lagi dihuni. Rupanya ada tetangga baru yang mau pindah ke rumah sebelah. Memang di kompleks perumahan ini antara rumah yang satu dengan yang lain tidak dibatasi oleh satu pagar pun. Jadi dengan leluasa kami bisa melihat apa yang terjadi di halaman sebelah.
Seorang gadis cantik tampak turun dari mobil sedan yang mengiringi truk pengangkut barang itu. Tampak bersama gadis cantik itu ayah dan ibunya yang bertubuh gembrot, juga seorang anak laki-laki yang masih kecil. Gadis cantik itu bertubuh langsing, sangat berbeda dengan kedua orang tuanya yang bertubuh gembrot. Gadis itu tampaknya melihat kami berlima yang tanpa sadar memperlihatkan kelima wajah tolol kami di jendela yang terbuka. Gadis itu tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Aku pun tanpa sadar membalas lambaian tangannya. Wow, cantiknya, kataku seakan tak sadar. Teman-temanku setuju dengan pendapatku itu. Mereka tampak terbengong-bengong melihat gadis cantik itu memasuki rumah barunya. Setelah beberapa lamanya terbengong-bengong, akhirnya kami pun kembali duduk di kursi sofa panjang usang yang ada di pojok ruangan. Mbok Jah mengetuk pintu paviliun. Wanita tua itu membawa nampan besar berisi aneka kue dan lima buah gelas berisi sirup frambozen. Kami berlima kemudian menyerbu semua kue dan minuman sirup yang disuguhkan oleh Mbok Jah. Hmm, sungguh enak rasanya melepas lelah sambil menikmati aneka kue dan minum segelas sirup manis demi memulihkan tenaga yang tadi sempat terkuras saat membersihkan ruangan paviliun.
Aktivitas ngerumpi dan bermain scrable pun berlanjut. Hanya Si Roni yang tidak ikutan main. Ia sedang asyik bermain game di komputer yang memang tersedia di ruangan paviliun ini. Kami pun asyik menghabiskan waktu berlama-lama dalam “Sarang Penyamun”. Tak sadar hari pun telah berganti siang. Kini Mbok Jah muncul lagi dengan sebakul nasi dan aneka lauk makan siang. Kami pun segera menyantap makan siang kami sambil ngerumpi macam-macam. Tiba-tiba di jendela muncul sesosok wajah cantik yang melongok melihat-lihat ruangan paviliun kami ini. Ternyata wajah cantik itu milik gadis tetangga sebelah yang tadi sempat melambaikan tangan kepada kami. Gadis itu menyapa kami sambil mengajak berkenalan. Namanya Sasha. Sasha Ansinta Maharani. Sungguh nama yang indah. Gadis itu sangat ramah dan tidak sombong. Sangat berbeda dengan teman-teman cewek yang ada di sekolah kami. Tak lama ia pun ikut nimbrung ngerumpi dengan kami berlima. Mbok Jah kembali mengetuk pintu. Ia membawa sebuah piring kosong dan segelas sirup frambozen untuk Sasha. Kami mempersilahkan Sasha ikut bergabung makan siang bersama kami. Pembicaraan kami berlangsung panjang lebar, mulai dari pembicaraan seputar pengalaman masa kecil hingga aneka buku dan makanan favorit. Tak terasa hari sudah semakin sore. Menjelang Maghrib, kelima temanku itu pun berpamitan pulang. Hari ini begitu berkesan. Ada sesuatu yang berbeda. Aku pun melambaikan tangan mengiringi kepergian teman-temanku.
Itu adalah kejadian tiga bulan yang lalu. Kini Sasha sudah menjadi pacarku. Sasha juga bersekolah di tempat yang sama denganku. Sikapnya senantiasa manis dan baik terhadapku. Ia bahkan mulai mempengaruhi teman-teman yang lain agar tidak lagi mengucilkan aku dan kelompokku. Ternyata tidak semua cewek berlaku sombong. Tidak semua cewek hanya memandang seseorang dari penampilan luarnya saja. Sasha adalah seorang gadis yang istimewa. Kecantikannya tidak hanya terlihat dari penampilan luarnya saja, tetapi ia juga memiliki kecantikan yang sebenarnya. Kecantikan hati dan budi yang jauh lebih berharga daripada sekedar kecantikan lahiriah. Perlahan perlakuan buruk teman-temanku terhadap geng kami yang aneh berubah sudah. Mereka mau menerima kekurangan dan keanehan fisik kami. Kami tidak lagi mendapat julukan “Orang-orang aneh” atau “Freaky People”. Semua ini berkat jasa Sasha, seorang gadis cantik yang telah mengubah segalanya. Aku adalah Broto, Si Gembrot, dan aku bangga menjadi diriku sendiri. Buktinya masih ada gadis yang mau mencintai orang sepertiku dengan tulus. Gadis cantik yang bernama Sasha. Aku sangat mencintainya.
0 komentar:
Poskan Komentar