Didin terbatuk-batuk untuk ke sekian kalinya. Dalam hati Didin mengutuki beberapa penumpang yang merokok di sampingnya. Asap rokok di sekitarnya bagaikan kabut pagi yang demikian tebal. Sebal rasanya setiap kali menjumpai manusia-manusia perokok yang tak tahu diri seperti mereka itu. Mereka pikir kendaraan angkot ini hanya mengangkut manusia-manusia macam mereka. Sepertinya mereka tak pernah berpikir bagaimana orang lain merasa keberatan dengan begitu banyak asap yang menyesakkan dada. Didin tak habis pikir, mengapa Tuhan menciptakan manusia-manusia yang tidak punya perasaan seperti mereka. Manusia-manusia yang hanya memikirkan kepentingan dan kepuasan diri semata tanpa pernah memikirkan apa akibat yang mereka timbulkan. Sesekali para manusia perokok itu meludah, mengeluarkan dahak kental yang keluar dari paru-paru mereka yang busuk.
“Hooekk, cuuh !”
“Uhuk..uhuk..khkheerk....hooeekk, cuuh !”
Terdengar suara jorok menjijikkan itu bersahut-sahutan. Mereka meludah seenaknya di lantai kendaraan angkot yang sarat penumpang itu. Para penumpang lain memandang dengan jijik pada manusia-manusia perokok itu. Didin merasa napasnya begitu sesak. Ia takut kalau-kalau penyakit asmanya kambuh di atas kendaraan angkot ini. Sebagai pria muda, ia mengutuki kaumnya sendiri, kaum pria. Mengapa pria harus selalu merokok ? Mengapa pria perokok selalu merugikan manusia lain tanpa mempunyai sedikit pun empati, bahwa tidak semua orang menyukai kehadiran mereka yang selalu dikelilingi oleh asap rokok ? Dasar manusia-manusia egois ! Negeri ini penuh dengan manusia-manusia macam mereka ! Tak heran negeri ini tidak juga menjadi negara maju sejak berpuluh tahun lalu. Selalu saja ada manusia-manusia bebal macam mereka yang demikian egois dan mau menang sendiri.
“Semua ini gara-gara suku Indian !”
“Kalau saja mereka tidak memperkenalkan rokok pada peradaban manusia, tentu aku tidak akan mengalami semua penderitaan ini,” keluh Didin dalam hati.
Dibukanya jendela kaca angkot yang sedang ditumpanginya itu. Sial ! Jendela kaca itu macet tidak bisa dibuka ! Hilang sudah harapannya untuk bisa menghirup udara segar yang bertiup dari luar kendaraan angkot yang sedang melaju kencang itu. Di kanan kiri jalan, tampak comberan dan air berwarna hitam yang menggenang di sana-sini. Para pedagang kaki lima memadati kanan kiri jalan. Sampah-sampah tampak berserakan di mana-mana. Hampir tiada lagi kesan negeri indah mutiara khatulistiwa. Yang ada sekarang hanyalah negeri jorok sampah di mana-mana.
Kendaraan angkot yang ditumpangi Didin tidak lagi bisa berlari kencang. Kendaraan macet di mana-mana ! Antrean kendaraan yang berjalan lambat berpuluh meter terjadi sudah ! Semua ini gara-gara para pedagang kaki lima yang memadati tepian jalan. Di luar, tampak asap berwarna abu-abu keputihan mengepul memenuhi sepanjang jalan. Kendaraan-kendaraan yang macet itu terus saja mengepulkan asap polusi. Para perokok di dalam angkot itu tak kunjung berhenti mengepulkan asap rokoknya. Didin semakin kesal ! Kalau saja ia bertubuh tinggi kekar, akan digamparnya mereka satu per satu biar mereka sadar bahwa perbuatan mereka itu sungguh merugikan banyak orang. Menjadi perokok pasif sungguh lebih berbahaya daripada sekedar menjadi seorang perokok. Tidakkah mereka mengerti hal itu ? Atau mungkin mereka memang bebal dan tidak pernah mau tahu apa akibat dari tindakan mereka ! Para manusia perokok tak ubahnya bagaikan para pembunuh berdarah dingin. Para pembunuh yang membunuh manusia di sekitar mereka perlahan-lahan, namun pasti.
Lama juga deretan kemacetan itu terjadi. Kendaraan angkot yang ditumpangi Didin tak juga melaju. Kalau pun bergerak, paling hanya sejauh satu meter saja. Semuanya itu berlangsung setengah jam lamanya. Didin semakin gelisah. Rasa marah, kesal, benci, dan muak memenuhi dadanya. Sampai kapan manusia-manusia negeri ini sadar akan kepentingan umum, sadar akan kebersihan dan ketertiban, kapan mereka akan sadar akan semua itu ? Didin memimpikan kebersihan negeri-negeri Eropa, negeri di mana semua orang sadar akan kedudukan, hak dan tanggung jawabnya sebagai warga masyarakat. Negeri dimana jalan-jalan begitu bersih dari sampah, bebas dari asap rokok, bebas dari orang meludah, dan bebas dari orang-orang yang mau menangnya sendiri. Bukannya ia benci kepada negeri sendiri, tapi ia sudah sangat muak dengan kondisi negeri ini yang bukannya tambah baik dari tahun ke tahun namun justru kondisinya semakin parah dan memprihatinkan. Orang-orang semakin sulit memperoleh pekerjaan, orang-orang semakin miskin dan kelaparan, orang-orang semakin tidak disiplin dan budaya jorok mewabah di mana-mana. Sepertinya sangat mustahil bagi negeri ini untuk berubah menjadi negeri-negeri indah dan bersih seperti di Eropa sana. Didin tidak pernah pergi ke Eropa. Ia hanya melihat keindahan negeri-negeri itu dari layar televisi dan halaman-halaman majalah asing di perpustakaan kota. Keindahan gambar-gambar negeri asing itu membuat dirinya begitu iri akan keberuntungan para warga negara negeri-negeri maju tersebut.
Mungkin sebaiknya negeri ini tidak perlu lagi menerapkan paham demokrasi. Percuma saja ! Begitu banyak manusia negeri ini yang selalu salah menafsirkan arti demokrasi. Demokrasi berarti bisa berbuat seenak udelnya, seenaknya sendiri. Demokrasi berarti bisa berbuat menang sendiri tanpa peduli akan nasib orang lain. Mungkin bila negeri ini menerapkan prinsip totaliter atau diktatorisme, akan lebih baik, karena begitu banyak manusia bermental budak di negeri ini. Para manusia yang hanya takut pada hukuman, tanpa pernah memiliki kesadaran dari dalam lubuk hati dan nurani bahwa mereka seharusnya peduli pada lingkungan sekitar. Kalau saja ia menjadi seorang pemimpin diktator negeri ini, ingin rasanya menerapkan hukuman tembak mati di tempat bagi para penjahat, koruptor, pencipta polusi, para manusia perokok yang merokok seenaknya tanpa peduli tempat dan waktu, dan para manusia jorok yang suka membuang sampah sembarangan. Hampir dapat dipastikan, pasti negeri ini akan segera berubah menjadi surga yang indah permai, negeri indah mutiara khatulistiwa, bila diterapkan aturan kejam seperti itu. Tapi sayang beribu sayang, Didin hanyalah seorang pria pengangguran yang sakit-sakitan. Ia bukanlah pemimpin negeri ini. Ia juga bukan seorang diktator. Semua impian kosong ini tidak akan pernah mengubah kondisi negeri ini.
Negeri ini sudah sangat rusak parah. Pencemaran dan polusi di mana-mana. Penebangan hutan secara liar terjadi di mana-mana. Akibatnya banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Sama seperti alam negeri ini yang sudah sangat rusak parah, demikian juga dengan para manusianya. Manusia-manusia negeri ini sudah kehilangan nuraninya. Hidup tanpa jiwa. Hidup tanpa akal sehat dan empati. Korupsi terjadi di mana-mana. Rakyat miskin menderita. Penggusuran rumah dan kebakaran terjadi di mana-mana, lalu di atas lahan yang terbakar itu dibangunlah pusat-pusat perbelanjaan. Ladang dan sawah berubah menjadi lahan parkir dan perkantoran. Rakyat tergusur tinggal di bawah jembatan. Sampah menumpuk di mana-mana. Sampah masyarakat juga menumpuk di mana-mana. Kesal rasanya menjadi saksi hidup semua kebobrokan yang terjadi di negeri ini. Rasa muak sudah memenuhi dada dan kepala Didin.
Kendaraan angkot yang ditumpangi Didin masih saja terseok-seok menambah terus jumlah penumpangnya walau banyak di antara penumpang yang telah duduk tergencet di sana-sini. Didin pun pingsan karena semua pikiran kesal yang memenuhi kepalanya dan juga akibat begitu banyak asap rokok yang telah dihirupnya. Para manusia perokok itu terus saja asyik menghirup asap jahanam dan menghembuskannya. Mereka tidak pernah peduli pada nasib Didin yang pingsan karena kumat penyakit asmanya. Inilah keajaiban hidup di negeri indah mutiara khatulistiwa. Mutiaranya telah habis dibeli oleh para cukong negeri-negeri tetangga. Yang tersisa hanyalah sampah dan mayat hidup. Manusia penduduk negeri ini hidup dalam penderitaan, bergelimang sampah dan dosa. Mereka bagaikan mayat hidup yang hidup tanpa jiwa dan nurani. Sungguh suatu keajaiban yang hanya bisa ditemui di negeri indah mutiara khatulistiwa !
“Hooekk, cuuh !”
“Uhuk..uhuk..khkheerk....hooeekk, cuuh !”
Terdengar suara jorok menjijikkan itu bersahut-sahutan. Mereka meludah seenaknya di lantai kendaraan angkot yang sarat penumpang itu. Para penumpang lain memandang dengan jijik pada manusia-manusia perokok itu. Didin merasa napasnya begitu sesak. Ia takut kalau-kalau penyakit asmanya kambuh di atas kendaraan angkot ini. Sebagai pria muda, ia mengutuki kaumnya sendiri, kaum pria. Mengapa pria harus selalu merokok ? Mengapa pria perokok selalu merugikan manusia lain tanpa mempunyai sedikit pun empati, bahwa tidak semua orang menyukai kehadiran mereka yang selalu dikelilingi oleh asap rokok ? Dasar manusia-manusia egois ! Negeri ini penuh dengan manusia-manusia macam mereka ! Tak heran negeri ini tidak juga menjadi negara maju sejak berpuluh tahun lalu. Selalu saja ada manusia-manusia bebal macam mereka yang demikian egois dan mau menang sendiri.
“Semua ini gara-gara suku Indian !”
“Kalau saja mereka tidak memperkenalkan rokok pada peradaban manusia, tentu aku tidak akan mengalami semua penderitaan ini,” keluh Didin dalam hati.
Dibukanya jendela kaca angkot yang sedang ditumpanginya itu. Sial ! Jendela kaca itu macet tidak bisa dibuka ! Hilang sudah harapannya untuk bisa menghirup udara segar yang bertiup dari luar kendaraan angkot yang sedang melaju kencang itu. Di kanan kiri jalan, tampak comberan dan air berwarna hitam yang menggenang di sana-sini. Para pedagang kaki lima memadati kanan kiri jalan. Sampah-sampah tampak berserakan di mana-mana. Hampir tiada lagi kesan negeri indah mutiara khatulistiwa. Yang ada sekarang hanyalah negeri jorok sampah di mana-mana.
Kendaraan angkot yang ditumpangi Didin tidak lagi bisa berlari kencang. Kendaraan macet di mana-mana ! Antrean kendaraan yang berjalan lambat berpuluh meter terjadi sudah ! Semua ini gara-gara para pedagang kaki lima yang memadati tepian jalan. Di luar, tampak asap berwarna abu-abu keputihan mengepul memenuhi sepanjang jalan. Kendaraan-kendaraan yang macet itu terus saja mengepulkan asap polusi. Para perokok di dalam angkot itu tak kunjung berhenti mengepulkan asap rokoknya. Didin semakin kesal ! Kalau saja ia bertubuh tinggi kekar, akan digamparnya mereka satu per satu biar mereka sadar bahwa perbuatan mereka itu sungguh merugikan banyak orang. Menjadi perokok pasif sungguh lebih berbahaya daripada sekedar menjadi seorang perokok. Tidakkah mereka mengerti hal itu ? Atau mungkin mereka memang bebal dan tidak pernah mau tahu apa akibat dari tindakan mereka ! Para manusia perokok tak ubahnya bagaikan para pembunuh berdarah dingin. Para pembunuh yang membunuh manusia di sekitar mereka perlahan-lahan, namun pasti.
Lama juga deretan kemacetan itu terjadi. Kendaraan angkot yang ditumpangi Didin tak juga melaju. Kalau pun bergerak, paling hanya sejauh satu meter saja. Semuanya itu berlangsung setengah jam lamanya. Didin semakin gelisah. Rasa marah, kesal, benci, dan muak memenuhi dadanya. Sampai kapan manusia-manusia negeri ini sadar akan kepentingan umum, sadar akan kebersihan dan ketertiban, kapan mereka akan sadar akan semua itu ? Didin memimpikan kebersihan negeri-negeri Eropa, negeri di mana semua orang sadar akan kedudukan, hak dan tanggung jawabnya sebagai warga masyarakat. Negeri dimana jalan-jalan begitu bersih dari sampah, bebas dari asap rokok, bebas dari orang meludah, dan bebas dari orang-orang yang mau menangnya sendiri. Bukannya ia benci kepada negeri sendiri, tapi ia sudah sangat muak dengan kondisi negeri ini yang bukannya tambah baik dari tahun ke tahun namun justru kondisinya semakin parah dan memprihatinkan. Orang-orang semakin sulit memperoleh pekerjaan, orang-orang semakin miskin dan kelaparan, orang-orang semakin tidak disiplin dan budaya jorok mewabah di mana-mana. Sepertinya sangat mustahil bagi negeri ini untuk berubah menjadi negeri-negeri indah dan bersih seperti di Eropa sana. Didin tidak pernah pergi ke Eropa. Ia hanya melihat keindahan negeri-negeri itu dari layar televisi dan halaman-halaman majalah asing di perpustakaan kota. Keindahan gambar-gambar negeri asing itu membuat dirinya begitu iri akan keberuntungan para warga negara negeri-negeri maju tersebut.
Mungkin sebaiknya negeri ini tidak perlu lagi menerapkan paham demokrasi. Percuma saja ! Begitu banyak manusia negeri ini yang selalu salah menafsirkan arti demokrasi. Demokrasi berarti bisa berbuat seenak udelnya, seenaknya sendiri. Demokrasi berarti bisa berbuat menang sendiri tanpa peduli akan nasib orang lain. Mungkin bila negeri ini menerapkan prinsip totaliter atau diktatorisme, akan lebih baik, karena begitu banyak manusia bermental budak di negeri ini. Para manusia yang hanya takut pada hukuman, tanpa pernah memiliki kesadaran dari dalam lubuk hati dan nurani bahwa mereka seharusnya peduli pada lingkungan sekitar. Kalau saja ia menjadi seorang pemimpin diktator negeri ini, ingin rasanya menerapkan hukuman tembak mati di tempat bagi para penjahat, koruptor, pencipta polusi, para manusia perokok yang merokok seenaknya tanpa peduli tempat dan waktu, dan para manusia jorok yang suka membuang sampah sembarangan. Hampir dapat dipastikan, pasti negeri ini akan segera berubah menjadi surga yang indah permai, negeri indah mutiara khatulistiwa, bila diterapkan aturan kejam seperti itu. Tapi sayang beribu sayang, Didin hanyalah seorang pria pengangguran yang sakit-sakitan. Ia bukanlah pemimpin negeri ini. Ia juga bukan seorang diktator. Semua impian kosong ini tidak akan pernah mengubah kondisi negeri ini.
Negeri ini sudah sangat rusak parah. Pencemaran dan polusi di mana-mana. Penebangan hutan secara liar terjadi di mana-mana. Akibatnya banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Sama seperti alam negeri ini yang sudah sangat rusak parah, demikian juga dengan para manusianya. Manusia-manusia negeri ini sudah kehilangan nuraninya. Hidup tanpa jiwa. Hidup tanpa akal sehat dan empati. Korupsi terjadi di mana-mana. Rakyat miskin menderita. Penggusuran rumah dan kebakaran terjadi di mana-mana, lalu di atas lahan yang terbakar itu dibangunlah pusat-pusat perbelanjaan. Ladang dan sawah berubah menjadi lahan parkir dan perkantoran. Rakyat tergusur tinggal di bawah jembatan. Sampah menumpuk di mana-mana. Sampah masyarakat juga menumpuk di mana-mana. Kesal rasanya menjadi saksi hidup semua kebobrokan yang terjadi di negeri ini. Rasa muak sudah memenuhi dada dan kepala Didin.
Kendaraan angkot yang ditumpangi Didin masih saja terseok-seok menambah terus jumlah penumpangnya walau banyak di antara penumpang yang telah duduk tergencet di sana-sini. Didin pun pingsan karena semua pikiran kesal yang memenuhi kepalanya dan juga akibat begitu banyak asap rokok yang telah dihirupnya. Para manusia perokok itu terus saja asyik menghirup asap jahanam dan menghembuskannya. Mereka tidak pernah peduli pada nasib Didin yang pingsan karena kumat penyakit asmanya. Inilah keajaiban hidup di negeri indah mutiara khatulistiwa. Mutiaranya telah habis dibeli oleh para cukong negeri-negeri tetangga. Yang tersisa hanyalah sampah dan mayat hidup. Manusia penduduk negeri ini hidup dalam penderitaan, bergelimang sampah dan dosa. Mereka bagaikan mayat hidup yang hidup tanpa jiwa dan nurani. Sungguh suatu keajaiban yang hanya bisa ditemui di negeri indah mutiara khatulistiwa !
0 komentar:
Poskan Komentar