Namaku Markonah. Asli Jawa. Aku adalah anak pertama. Umurku 13 tahun. Masih duduk di bangku SMP. Orang tuaku sama sekali tidak kaya. Bahkan mungkin bisa digolongkan kategori miskin menurut ukuran PBB. Itu kata teman-temanku. Kami tinggal di sebuah gang sempit di pinggiran kota, sebuah kota kecil yang ada di Pulau Jawa, Republik Indonesia. Ayah dan ibuku jarang ada di rumah. Ayah berangkat kerja pagi-pagi sekali dan baru pulang menjelang sholat Maghrib. Ibuku berangkat kerja sehabis sholat Subuh dan baru pulang sehabis sholat Isya’. Orang tuaku sibuk bekerja. Memangnya hanya orang kaya saja yang jarang berada di rumah. Ayahku tukang becak. Ibuku pembantu rumah tangga. Malam hari adalah satu-satunya kesempatan keluarga kami berkumpul di rumah. Namun bila keadaan ekonomi sudah demikian mendesak, terkadang orang tuaku baru pulang ke rumah larut malam. Ayah dan ibuku cepat sekali kelihatan bertambah tua. Gurat-gurat penderitaan hidup tergambar jelas pada raut muka mereka. Hidup semakin susah dari jaman ke jaman. Namun kami tidak pernah mengeluh. Rejeki dari Tuhan selalu saja berdatangan, walau kami memang harus sedikit lebih keras berusaha dibanding orang lain. Misalnya saja, ayahku harus sering mangkal duduk-duduk di masjid ngobrol sana-sini dengan pengurus masjid dan mencari-cari informasi apakah ada undangan tahlilan atau kirim doa bagi orang yang baru saja meninggal. Bukannya girang setiap kali ada orang yang baru saja meninggal, namun tiap kali ada orang yang baru saja meninggal, itu berarti kesempatan bagi kami untuk makan lebih layak dari menu makan biasanya. Bila ada undangan pengajian sehabis sholat Isya’ atau tahlil kirim do’a orang yang baru meninggal, ayah hampir tidak pernah absen. Sebagai imbalan tentu saja adalah penganan nasi berkatan dan lauk pauk yang bisa dibawa pulang untuk dimakan bersama seluruh anggota keluarga. Ayahku tentu saja tidak ikut makan nasi berkatan tersebut, karena beliau biasanya sudah makan penganan suguhan saat acara tahlil kirim do’a atau pengajian tersebut. Bahkan bilamana ada makanan berlebih yang bisa dibawa pulang, ayah tanpa sungkan-sungkan meminta lauk-pauk dan kue-kue yang bisa dibawa pulang. Mungkin ayah sudah tebal muka dan melupakan rasa malu atau gengsi demi kami sekeluarga yang menunggu di rumah.
Tiap malam minggu, terkadang aku, adik-adikku dan teman-teman sekampung beramai-ramai menuju restoran Mc Donald atau KFC. Bukan untuk membeli makanan di sana, namun menunggu restoran tersebut benar-benar tutup pada pukul sebelas malam. Biasanya saat restoran sudah akan tutup dan karyawannya bersiap-siap pulang ke rumah, selalu ada salah seorang atau lebih karyawan yang berbondong-bondong menuju tempat sampah, membuang makanan afkir atau pun makanan sisa yang jumlahnya berkarung-karung plastik. Karung plastik penuh makanan itu biasanya ditumpuk begitu saja di dalam tempat sampah kering yang ada di samping bangunan restoran. Walau terkadang karung-karung sampah tersebut dibakar bila kami terlambat datang ke tempat sampah itu, namun rupanya petugas atau karyawan restoran sudah hapal betul pada jam berapa kami biasanya sudah menunggu di situ. Akhirnya kebiasaan membakar sampah pun tidak lagi dilakukan, dan mereka membiarkan saja saat kami mengais-ngais karung sampah yang isinya penuh dengan harta karun, “makanan mahal” yang tidak bakal bisa terbeli oleh kami, para rakyat pribumi yang dari jaman ke jaman selalu saja terbelit kemiskinan. Terkadang kami juga mengunjungi tempat sampahnya restoran Dunkin Donuts. Seringkali kami diusir bilamana ingin mengorek-ngorek karung sampah berisi kue-kue afkiran yang ada di dekat bangunan gedung restoran tersebut. Namun ada juga beberapa karyawan dan petugas satpam yang mau berbaik hati akhirnya mengijinkan kami untuk memungut dan mencari-cari makanan sisa sekedarnya. Yang paling sering, kami mengunjungi tempat sampahnya Pizza Hut. Di sana begitu banyak sisa-sisa potongan pizza, bahkan terkadang juga satu loyang pizza yang pinggirannya sedikit gosong atau pun bekas gigitan orang yang tidak habis dimakan. Ada pula spaghetti, lasagna, dan aneka makanan yang terkadang bercampur aduk tidak karuan rupanya (namun enak rasanya, he..he..he..).
Kami juga sangat sering menjumpai begitu banyak gelas-gelas plastik yang berisi aneka minuman ringan yang tidak habis diminum atau bahkan es krim, sisa-sisa dari para pengunjung restoran-restoran makanan cepat saji yang ada di kota kami. Jadi, walau kami miskin, tidak berarti kami tidak pernah makan makanan mahal, bahkan mungkin kami makan lebih banyak daripada orang-orang kaya yang sering mampir makan di restoran-restoran cepat saji tersebut. Biasanya sambil mengais-ngais sampah dan langsung memakannya, kami juga mengumpulkan beberapa banyak untuk dibawa pulang. Memang kami biasanya sudah menyiapkan kantung-kantung plastik ukuran besar untuk menampung “hasil buruan” kami. Tentu saja pagi harinya kami tidak lagi perlu kelaparan, karena makanan hasil buruan tersebut akan kami santap bersama seluruh anggota keluarga sebagai makanan sarapan dan terkadang juga untuk makan siang.
Lain halnya dengan usahaku serta saudara-saudaraku dalam berburu makanan di tempat sampah, ibuku lebih beruntung karena beliau terkadang pulang dengan membawa begitu banyak lauk makanan dan nasi pemberian ibu-ibu dermawan tempat beliau bekerja. Memang tidak setiap hari, namun setidaknya hal itu bisa mencukupi kebutuhan makanan bergizi kami tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Hari raya agama apapun adalah saat-saat yang paling menggembirakan bagi kami sekeluarga, karena selain lebih banyak orang yang lebih giat beramal membagi-bagikan sedekah, juga terdapat begitu banyak makanan sisa yang bisa kami dapat. Misalnya saja, pada hari raya Idul Adha, sudah sejak pagi kami antre daging kurban di masjid-masjid dan lembaga sosial. Di hari raya Idul Fitri, selalu saja ada uang yang kami dapat dari takmir masjid, pakaian bekas, beras dan juga makanan. Di hari Natal, kami selalu memperoleh uang, makanan dan pakaian dari badan sosial seperti Balai Keselamatan maupun gereja. Di hari raya Imlek, selalu saja ada uang, buah-buahan, dan terkadang pakaian pemberian para pengurus kelenteng dan para pengunjung kelenteng yang dermawan. Pendek kata, kami tidak pernah merasa kekurangan dan selalu hidup bahagia. Bukankah kebahagiaan tidak selalu harus diukur dari berapa banyak uang yang kami punya. Kebersamaan, kasih sayang dan waktu yang selalu dicurahkan oleh kedua orang tuaku adalah sumber kebahagiaanku yang tidak akan bisa dibandingkan dengan apa pun. Setiap malam saat kami semua berkumpul di dalam rumah, selalu saja ada celoteh lucu atau cerita yang kami bagi bersama keluarga. Ayah dan ibu terkadang juga mendongeng cerita-cerita lucu, kisah-kisah para nabi, dan juga nasehat-nasehat yang selalu kami ikuti. Saat hari sudah mulai malam, kami pun segera berangkat tidur dengan perut kenyang, karena selalu saja ada rejeki dari Tuhan untuk dimakan hari ini. Dan tentu saja untuk yang satu ini kami tidak pernah habis mengucapkan rasa syukur karena Tuhan masih menyayangi kami dengan memberikan kami kehidupan dan badan yang sehat serta orang tua yang penyayang.
Sebagai seorang anak tertua dari tiga bersaudara, aku selalu harus menemukan ide-ide baru untuk membantu meringankan beban tanggungan kedua orang tuaku. Di sela-sela kesibukanku bersekolah, aku menyempatkan diri mencoba menjadi pemulung sampah di tempat pembuangan sampah di kota ini. Wak Soleh, juragan barang loak selalu bermurah hati memberikan upah lebih untuk tiap kilo botol plastik atau pun barang-barang temuanku yang terbuat dari plastik. Uang yang kuperoleh aku kumpulkan untuk ditabung dan juga sesekali bisa banyak berguna bila aku membutuhkannya untuk membeli buku tulis atau pun peralatan tulis lainnya. Terkadang aku merasa sedikit bangga bahwa aku di usia mudaku sudah bisa mencari uang sendiri walau pun sumbangsihku tidak terlalu banyak membantu meringankan biaya sekolah. Untunglah ada Bu Wati salah satu guruku yang begitu berbaik hati untuk membayari uang SPP-ku setiap bulannya. Jasa baik Bu Wati tidak akan pernah aku lupakan. Kedua orang tuaku hanya bertugas membayar iuran bulanan LKS yang jumlahnya tidak seberapa dan juga membelikan aku seragam sekolah setiap tahun ajaran baru. Kami selalu percaya bahwa Tuhan akan selalu membantu menemukan jalan keluar setiap masalah yang kami hadapi. Buktinya kami selalu dimudahkan olehNya dalam segala urusan kehidupan.
Pagi ini aku bergegas menuju sekolah. Aku bangun agak kesiangan. Tadi malam aku pulang sangat larut sehabis mengorek-ngorek sampah mencari sisa makanan dan kue-kue yang masih bisa dimakan. Sebelum tidur, aku menyempatkan diri untuk belajar dan membaca materi buku yang akan diujikan dalam ulangan pagi ini hingga larut malam. Walhasil, aku hanya tidur selama kurang lebih tiga jam. Sambil bergegas berlari aku menyambar beberapa kue hasil buruanku tadi malam yang kutemukan di dalam bak sampah depan sebuah toko kue. Sambil berlari-lari kecil aku jejalkan suapan-suapan besar kue ke dalam mulutku. Perutku yang lapar tampak gembira menyambut bongkahan-bongkahan kue yang meluncur cepat ke dalam perutku yang keroncongan. Jam sudah menunjukkan pukul enam lebih lima menit. Padahal bel masuk sekolah biasanya berbunyi pukul setengah tujuh tepat. Aku berlari dan berlari. Di jalan aku bertemu dengan Yono, salah seorang kawan sekelasku yang juga berlari-lari karena takut terlambat. Hari ini ada ulangan matematika pada jam pertama. Itu berarti dua puluh lima menit lagi! Aku tidak boleh terlambat! Kalau terlambat itu berarti aku tidak bisa mengikuti ulangan, karena pintu gerbang sekolah yang tingginya dua meter itu selalu tidak pernah terlambat ditutup saat jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh tepat. Wah, sekarang sudah pukul enam lebih dua puluh menit, aku melirik ke jam tangan murah yang melingkar di pergelangan tanganku. Aku semakin memacu kecepatan lariku. Jantungku serasa mau copot karena kehabisan napas. Aku tidak peduli. Yang penting aku harus segera sampai di sekolah sebelum pintu gerbang sialan itu tertutup rapat. Yono berlari mengejar saat melihatku menambah kecepatan lariku. Rupanya ia menyadari bahwa pintu gerbang akan ditutup sepuluh menit lagi. Terdengar napasnya ngos-ngosan saat ia berlari di samping kiriku. Kami berlari dan berlari menyusuri jalanan sempit gang-gang yang merupakan jalan tembus terdekat menuju sekolah kami. Sesekali kami harus menyeberang. Hal ini membuat kami jengkel, karena hal itu berarti membuat kami harus berhenti berlari dan menengok kanan kiri takut kalau-kalau ada kendaraan yang melaju dalam kecepatan tinggi. Lima menit lagi, pikirku. Keringatku mengucur deras. Kakiku rasanya bakal lecet-lecet. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak boleh terlambat. Dua menit lagi. Ya Tuhan, tolonglah aku. Aku tidak boleh terlambat! Sepuluh meter lagi, pikirku, saat kulihat pak satpam sekolah mulai menuju pintu gerbang hendak menutup pintu itu. Wah mati aku! Aku semakin memacu kakiku dan memaksanya agar menambah kecepatan berlari. Dan akhirnya, aku berhasil masuk menerobos di bawah ketiak pak satpam yang sudah tidak sabar hendak menutup pintu gerbang sekolah. Yono menyusul di belakangku sambil berteriak-teriak histeris. Untunglah pak satpam mendengar teriakannya. Pria setengah baya itu dengan sedikit jengkel mau juga berbaik hati membiarkan Yono melintas masuk menuju halaman depan sekolah. Dan ia pun segera menutup pintu gerbang itu rapat-rapat. Kini tiada ampun lagi bagi anak-anak lain yang terlambat beberapa detik di belakang kami. Memang hampir setiap hari selalu ada saja yang terlambat datang ke sekolah.
Aku sedikit menyesal mengapa aku tidur terlalu malam. Apa pun alasannya, walau pun itu karena aku harus belajar untuk persiapan ulangan matematika pagi ini, bangun terlambat sama sekali tidak bisa dibiarkan. Dalam hati aku mengutuki diriku sendiri yang terlambat bangun pagi ini. Ayah dan ibuku sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali. Mungkin mereka sudah demikian lama membangunkan aku untuk sholat subuh, namun mungkin karena terlalu capek begadang semalaman aku jadi sulit bangun. Untunglah aku tidak terlambat masuk sekolah. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan lagi mengikuti sistem belajar kebut semalam. Lebih baik belajar secara teratur daripada harus ngebut belajar hanya pada saat-saat terakhir sebelum ulangan tiba. Tapi mau bagaimana lagi, karena waktuku banyak tersita untuk memunguti sampah plastik di tempat pembuangan sampah dan juga mengais-ngais tempat sampah restoran maupun toko kue untuk mencari penganan tambahan. Aku tidak pernah malu melakukannya. Bahkan beberapa orang temanku ada juga yang ikut-ikutan mengorek-ngorek tempat sampah untuk mencari kue-kue atau pun makanan cepat saji afkiran di tempat sampah samping restoran. Tentu saja saat orang tua mereka tahu (karena kebetulan mereka berasal dari latar belakang ekonomi berada) mereka kena damprat dengan alasan mempermalukan keluarga. Tapi dasar teman-temanku yang memang bandel-bandel, walau sering dimarahi oleh orang tua mereka karena ketahuan mengorek-ngorek tempat sampah, mereka selalu dengan setia menemaniku ikut-ikutan mencari-cari makanan yang masih layak dimakan. Bagi anak-anak seumuran kami, semakin jorok gaya hidup kita akan semakin bagus dan keren. Bahkan bisa menjadi semacam kebanggaan untuk dipamerkan. Hih, mungkin sedikit aneh, mengerikan dan tidak wajar bagi orang-orang yang terbiasa dimanjakan oleh fasilitas dan hidup enak. Tapi bagi kami yang sudah kenyang oleh penderitaan dan kemiskinan, hal seperti ini bukan lagi suatu aib yang harus ditutup-tutupi. Yang penting apa yang kami lakukan tidak merugikan orang lain, karena kami tidak mencuri. Kami hanya mengambil apa yang sudah dibuang oleh orang lain. Jadi untuk apa dipermasalahkan?
Wah, aku kok jadi ngelantur ke mana-mana. Di depan kelas sudah berdiri Bu Siska dengan tampang galaknya melotot ke arahku. Aku memasang tampang memelas dan pura-pura menyesal. Tampaknya aktingku berhasil dengan baik, buktinya aku diperbolehkan masuk kelas walau didahului oleh sederetan panjang nasehat dan omelan. Tidak apa-apa, yang penting aku masih diijinkan mengikuti ulangan matematika pada jam pertama pelajaran pagi ini. Itu saja! Seragamku hampir basah kuyup oleh keringat yang mengucur deras. Napasku masih saja ngos-ngosan, terengah-engah seperti seekor anjing yang habis berlari berebut tulang. Aku mengambil saputanganku yang kondisinya demikian mengenaskan, sudah seminggu belum dicuci. Kuusapkan sapu tangan dekil itu di leher dan wajahku yang berkeringat. Lalu buru-buru aku keluarkan peralatan tulisku, selembar kertas untuk jawaban ulangan dan tentu saja berusaha untuk bersikap tenang. Buru-buru aku segera berdoa agar Tuhan membantuku memudahkan proses bekerjanya otakku. Bu Siska segera memulai mendiktekan soal-soal ujian untuk kami tulis. Aku pun segera asyik mengerjakan soal-soal ulangan matematika. Ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan sebelumnya. Semua yang aku pelajari tadi malam ternyata tidak sia-sia. Dengan lancar aku kerjakan setiap nomor soal dengan teliti, dan tidak terlalu lama untuk menyelesaikan semuanya. Masih tersisa setengah jam lagi, dan aku sudah menyelesaikan semua soal. Kuperiksa kembali jawaban demi jawaban yang aku tulis di lembar kertas ulanganku. Semuanya sudah benar, itu menurutku. Semoga saja memang demikian. Ah, yang penting aku sudah berusaha, demikian pikirku. Jam pelajaran pertama pun segera berlalu, dan aku menikmati setiap detik pelajaran yang kuterima di sekolah hari ini. Aku mengerjakan semua soal ulangan tadi dengan sangat baik. Semua itu berkat sisa makanan yang aku korek dari tempat sampah yang masuk ke perutku tadi pagi.
Tiap malam minggu, terkadang aku, adik-adikku dan teman-teman sekampung beramai-ramai menuju restoran Mc Donald atau KFC. Bukan untuk membeli makanan di sana, namun menunggu restoran tersebut benar-benar tutup pada pukul sebelas malam. Biasanya saat restoran sudah akan tutup dan karyawannya bersiap-siap pulang ke rumah, selalu ada salah seorang atau lebih karyawan yang berbondong-bondong menuju tempat sampah, membuang makanan afkir atau pun makanan sisa yang jumlahnya berkarung-karung plastik. Karung plastik penuh makanan itu biasanya ditumpuk begitu saja di dalam tempat sampah kering yang ada di samping bangunan restoran. Walau terkadang karung-karung sampah tersebut dibakar bila kami terlambat datang ke tempat sampah itu, namun rupanya petugas atau karyawan restoran sudah hapal betul pada jam berapa kami biasanya sudah menunggu di situ. Akhirnya kebiasaan membakar sampah pun tidak lagi dilakukan, dan mereka membiarkan saja saat kami mengais-ngais karung sampah yang isinya penuh dengan harta karun, “makanan mahal” yang tidak bakal bisa terbeli oleh kami, para rakyat pribumi yang dari jaman ke jaman selalu saja terbelit kemiskinan. Terkadang kami juga mengunjungi tempat sampahnya restoran Dunkin Donuts. Seringkali kami diusir bilamana ingin mengorek-ngorek karung sampah berisi kue-kue afkiran yang ada di dekat bangunan gedung restoran tersebut. Namun ada juga beberapa karyawan dan petugas satpam yang mau berbaik hati akhirnya mengijinkan kami untuk memungut dan mencari-cari makanan sisa sekedarnya. Yang paling sering, kami mengunjungi tempat sampahnya Pizza Hut. Di sana begitu banyak sisa-sisa potongan pizza, bahkan terkadang juga satu loyang pizza yang pinggirannya sedikit gosong atau pun bekas gigitan orang yang tidak habis dimakan. Ada pula spaghetti, lasagna, dan aneka makanan yang terkadang bercampur aduk tidak karuan rupanya (namun enak rasanya, he..he..he..).
Kami juga sangat sering menjumpai begitu banyak gelas-gelas plastik yang berisi aneka minuman ringan yang tidak habis diminum atau bahkan es krim, sisa-sisa dari para pengunjung restoran-restoran makanan cepat saji yang ada di kota kami. Jadi, walau kami miskin, tidak berarti kami tidak pernah makan makanan mahal, bahkan mungkin kami makan lebih banyak daripada orang-orang kaya yang sering mampir makan di restoran-restoran cepat saji tersebut. Biasanya sambil mengais-ngais sampah dan langsung memakannya, kami juga mengumpulkan beberapa banyak untuk dibawa pulang. Memang kami biasanya sudah menyiapkan kantung-kantung plastik ukuran besar untuk menampung “hasil buruan” kami. Tentu saja pagi harinya kami tidak lagi perlu kelaparan, karena makanan hasil buruan tersebut akan kami santap bersama seluruh anggota keluarga sebagai makanan sarapan dan terkadang juga untuk makan siang.
Lain halnya dengan usahaku serta saudara-saudaraku dalam berburu makanan di tempat sampah, ibuku lebih beruntung karena beliau terkadang pulang dengan membawa begitu banyak lauk makanan dan nasi pemberian ibu-ibu dermawan tempat beliau bekerja. Memang tidak setiap hari, namun setidaknya hal itu bisa mencukupi kebutuhan makanan bergizi kami tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Hari raya agama apapun adalah saat-saat yang paling menggembirakan bagi kami sekeluarga, karena selain lebih banyak orang yang lebih giat beramal membagi-bagikan sedekah, juga terdapat begitu banyak makanan sisa yang bisa kami dapat. Misalnya saja, pada hari raya Idul Adha, sudah sejak pagi kami antre daging kurban di masjid-masjid dan lembaga sosial. Di hari raya Idul Fitri, selalu saja ada uang yang kami dapat dari takmir masjid, pakaian bekas, beras dan juga makanan. Di hari Natal, kami selalu memperoleh uang, makanan dan pakaian dari badan sosial seperti Balai Keselamatan maupun gereja. Di hari raya Imlek, selalu saja ada uang, buah-buahan, dan terkadang pakaian pemberian para pengurus kelenteng dan para pengunjung kelenteng yang dermawan. Pendek kata, kami tidak pernah merasa kekurangan dan selalu hidup bahagia. Bukankah kebahagiaan tidak selalu harus diukur dari berapa banyak uang yang kami punya. Kebersamaan, kasih sayang dan waktu yang selalu dicurahkan oleh kedua orang tuaku adalah sumber kebahagiaanku yang tidak akan bisa dibandingkan dengan apa pun. Setiap malam saat kami semua berkumpul di dalam rumah, selalu saja ada celoteh lucu atau cerita yang kami bagi bersama keluarga. Ayah dan ibu terkadang juga mendongeng cerita-cerita lucu, kisah-kisah para nabi, dan juga nasehat-nasehat yang selalu kami ikuti. Saat hari sudah mulai malam, kami pun segera berangkat tidur dengan perut kenyang, karena selalu saja ada rejeki dari Tuhan untuk dimakan hari ini. Dan tentu saja untuk yang satu ini kami tidak pernah habis mengucapkan rasa syukur karena Tuhan masih menyayangi kami dengan memberikan kami kehidupan dan badan yang sehat serta orang tua yang penyayang.
Sebagai seorang anak tertua dari tiga bersaudara, aku selalu harus menemukan ide-ide baru untuk membantu meringankan beban tanggungan kedua orang tuaku. Di sela-sela kesibukanku bersekolah, aku menyempatkan diri mencoba menjadi pemulung sampah di tempat pembuangan sampah di kota ini. Wak Soleh, juragan barang loak selalu bermurah hati memberikan upah lebih untuk tiap kilo botol plastik atau pun barang-barang temuanku yang terbuat dari plastik. Uang yang kuperoleh aku kumpulkan untuk ditabung dan juga sesekali bisa banyak berguna bila aku membutuhkannya untuk membeli buku tulis atau pun peralatan tulis lainnya. Terkadang aku merasa sedikit bangga bahwa aku di usia mudaku sudah bisa mencari uang sendiri walau pun sumbangsihku tidak terlalu banyak membantu meringankan biaya sekolah. Untunglah ada Bu Wati salah satu guruku yang begitu berbaik hati untuk membayari uang SPP-ku setiap bulannya. Jasa baik Bu Wati tidak akan pernah aku lupakan. Kedua orang tuaku hanya bertugas membayar iuran bulanan LKS yang jumlahnya tidak seberapa dan juga membelikan aku seragam sekolah setiap tahun ajaran baru. Kami selalu percaya bahwa Tuhan akan selalu membantu menemukan jalan keluar setiap masalah yang kami hadapi. Buktinya kami selalu dimudahkan olehNya dalam segala urusan kehidupan.
Pagi ini aku bergegas menuju sekolah. Aku bangun agak kesiangan. Tadi malam aku pulang sangat larut sehabis mengorek-ngorek sampah mencari sisa makanan dan kue-kue yang masih bisa dimakan. Sebelum tidur, aku menyempatkan diri untuk belajar dan membaca materi buku yang akan diujikan dalam ulangan pagi ini hingga larut malam. Walhasil, aku hanya tidur selama kurang lebih tiga jam. Sambil bergegas berlari aku menyambar beberapa kue hasil buruanku tadi malam yang kutemukan di dalam bak sampah depan sebuah toko kue. Sambil berlari-lari kecil aku jejalkan suapan-suapan besar kue ke dalam mulutku. Perutku yang lapar tampak gembira menyambut bongkahan-bongkahan kue yang meluncur cepat ke dalam perutku yang keroncongan. Jam sudah menunjukkan pukul enam lebih lima menit. Padahal bel masuk sekolah biasanya berbunyi pukul setengah tujuh tepat. Aku berlari dan berlari. Di jalan aku bertemu dengan Yono, salah seorang kawan sekelasku yang juga berlari-lari karena takut terlambat. Hari ini ada ulangan matematika pada jam pertama. Itu berarti dua puluh lima menit lagi! Aku tidak boleh terlambat! Kalau terlambat itu berarti aku tidak bisa mengikuti ulangan, karena pintu gerbang sekolah yang tingginya dua meter itu selalu tidak pernah terlambat ditutup saat jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh tepat. Wah, sekarang sudah pukul enam lebih dua puluh menit, aku melirik ke jam tangan murah yang melingkar di pergelangan tanganku. Aku semakin memacu kecepatan lariku. Jantungku serasa mau copot karena kehabisan napas. Aku tidak peduli. Yang penting aku harus segera sampai di sekolah sebelum pintu gerbang sialan itu tertutup rapat. Yono berlari mengejar saat melihatku menambah kecepatan lariku. Rupanya ia menyadari bahwa pintu gerbang akan ditutup sepuluh menit lagi. Terdengar napasnya ngos-ngosan saat ia berlari di samping kiriku. Kami berlari dan berlari menyusuri jalanan sempit gang-gang yang merupakan jalan tembus terdekat menuju sekolah kami. Sesekali kami harus menyeberang. Hal ini membuat kami jengkel, karena hal itu berarti membuat kami harus berhenti berlari dan menengok kanan kiri takut kalau-kalau ada kendaraan yang melaju dalam kecepatan tinggi. Lima menit lagi, pikirku. Keringatku mengucur deras. Kakiku rasanya bakal lecet-lecet. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak boleh terlambat. Dua menit lagi. Ya Tuhan, tolonglah aku. Aku tidak boleh terlambat! Sepuluh meter lagi, pikirku, saat kulihat pak satpam sekolah mulai menuju pintu gerbang hendak menutup pintu itu. Wah mati aku! Aku semakin memacu kakiku dan memaksanya agar menambah kecepatan berlari. Dan akhirnya, aku berhasil masuk menerobos di bawah ketiak pak satpam yang sudah tidak sabar hendak menutup pintu gerbang sekolah. Yono menyusul di belakangku sambil berteriak-teriak histeris. Untunglah pak satpam mendengar teriakannya. Pria setengah baya itu dengan sedikit jengkel mau juga berbaik hati membiarkan Yono melintas masuk menuju halaman depan sekolah. Dan ia pun segera menutup pintu gerbang itu rapat-rapat. Kini tiada ampun lagi bagi anak-anak lain yang terlambat beberapa detik di belakang kami. Memang hampir setiap hari selalu ada saja yang terlambat datang ke sekolah.
Aku sedikit menyesal mengapa aku tidur terlalu malam. Apa pun alasannya, walau pun itu karena aku harus belajar untuk persiapan ulangan matematika pagi ini, bangun terlambat sama sekali tidak bisa dibiarkan. Dalam hati aku mengutuki diriku sendiri yang terlambat bangun pagi ini. Ayah dan ibuku sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali. Mungkin mereka sudah demikian lama membangunkan aku untuk sholat subuh, namun mungkin karena terlalu capek begadang semalaman aku jadi sulit bangun. Untunglah aku tidak terlambat masuk sekolah. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan lagi mengikuti sistem belajar kebut semalam. Lebih baik belajar secara teratur daripada harus ngebut belajar hanya pada saat-saat terakhir sebelum ulangan tiba. Tapi mau bagaimana lagi, karena waktuku banyak tersita untuk memunguti sampah plastik di tempat pembuangan sampah dan juga mengais-ngais tempat sampah restoran maupun toko kue untuk mencari penganan tambahan. Aku tidak pernah malu melakukannya. Bahkan beberapa orang temanku ada juga yang ikut-ikutan mengorek-ngorek tempat sampah untuk mencari kue-kue atau pun makanan cepat saji afkiran di tempat sampah samping restoran. Tentu saja saat orang tua mereka tahu (karena kebetulan mereka berasal dari latar belakang ekonomi berada) mereka kena damprat dengan alasan mempermalukan keluarga. Tapi dasar teman-temanku yang memang bandel-bandel, walau sering dimarahi oleh orang tua mereka karena ketahuan mengorek-ngorek tempat sampah, mereka selalu dengan setia menemaniku ikut-ikutan mencari-cari makanan yang masih layak dimakan. Bagi anak-anak seumuran kami, semakin jorok gaya hidup kita akan semakin bagus dan keren. Bahkan bisa menjadi semacam kebanggaan untuk dipamerkan. Hih, mungkin sedikit aneh, mengerikan dan tidak wajar bagi orang-orang yang terbiasa dimanjakan oleh fasilitas dan hidup enak. Tapi bagi kami yang sudah kenyang oleh penderitaan dan kemiskinan, hal seperti ini bukan lagi suatu aib yang harus ditutup-tutupi. Yang penting apa yang kami lakukan tidak merugikan orang lain, karena kami tidak mencuri. Kami hanya mengambil apa yang sudah dibuang oleh orang lain. Jadi untuk apa dipermasalahkan?
Wah, aku kok jadi ngelantur ke mana-mana. Di depan kelas sudah berdiri Bu Siska dengan tampang galaknya melotot ke arahku. Aku memasang tampang memelas dan pura-pura menyesal. Tampaknya aktingku berhasil dengan baik, buktinya aku diperbolehkan masuk kelas walau didahului oleh sederetan panjang nasehat dan omelan. Tidak apa-apa, yang penting aku masih diijinkan mengikuti ulangan matematika pada jam pertama pelajaran pagi ini. Itu saja! Seragamku hampir basah kuyup oleh keringat yang mengucur deras. Napasku masih saja ngos-ngosan, terengah-engah seperti seekor anjing yang habis berlari berebut tulang. Aku mengambil saputanganku yang kondisinya demikian mengenaskan, sudah seminggu belum dicuci. Kuusapkan sapu tangan dekil itu di leher dan wajahku yang berkeringat. Lalu buru-buru aku keluarkan peralatan tulisku, selembar kertas untuk jawaban ulangan dan tentu saja berusaha untuk bersikap tenang. Buru-buru aku segera berdoa agar Tuhan membantuku memudahkan proses bekerjanya otakku. Bu Siska segera memulai mendiktekan soal-soal ujian untuk kami tulis. Aku pun segera asyik mengerjakan soal-soal ulangan matematika. Ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan sebelumnya. Semua yang aku pelajari tadi malam ternyata tidak sia-sia. Dengan lancar aku kerjakan setiap nomor soal dengan teliti, dan tidak terlalu lama untuk menyelesaikan semuanya. Masih tersisa setengah jam lagi, dan aku sudah menyelesaikan semua soal. Kuperiksa kembali jawaban demi jawaban yang aku tulis di lembar kertas ulanganku. Semuanya sudah benar, itu menurutku. Semoga saja memang demikian. Ah, yang penting aku sudah berusaha, demikian pikirku. Jam pelajaran pertama pun segera berlalu, dan aku menikmati setiap detik pelajaran yang kuterima di sekolah hari ini. Aku mengerjakan semua soal ulangan tadi dengan sangat baik. Semua itu berkat sisa makanan yang aku korek dari tempat sampah yang masuk ke perutku tadi pagi.
0 komentar:
Poskan Komentar